Pilihlah Karena Agamanya
oleh M. Arif As-Salman
——–
Perasaan bahagia menyelimuti hati Faizul Haq-bukan nama sebenarnya. Kebahagiaan yang sulit untuk ia lukiskan. Barangkali, hari itu adalah hari yang paling bersejarah dalam hidupnya, hari yang penuh suka cita. Hari dimana ia telah dipertemukan dengan dambaan hati, ‘buruan’ cinta. Senyum mengembang di langit wajahnya.
Bahkan air mata bahagia dan haru menetes mengairi taman hatinya yang rindu akan belaian cinta dan kasih sayang. Ia telah berani melangkah, demi menyelamatkan iman, agama dan hatinya.
Mesjid Assalam di Kairo menjadi saksi bisu akad nikah dan walîmatul ‘urs Faizul Haq dengan Sabira Husna-bukan nama sebenarnya. Hari dimana dua makhluk Allah bertemu dalam cinta kasih yang sah, terikat dalam mîtsâqan ghalîzhan. Kepada kedua pengantin setangkai bunga do’a dari hati yang tulus kami persembahkan, “Bâkarakallâhu laka, wabâraka ‘alaika, wajama’a bainakumâ fî khairin.” Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, amin.
Faiz telah menempuh jalan yang lurus, jalan yang selamat dan diridhai Allah. Jalan orang-orang yang merindukan kejernihan hati dan ketentraman jiwa. Berbeda dengan mereka yang menempuh jalan menyimpang. Jalan orang-orang yang hatinya telah dikotori oleh kotoran setan dan nafsu. Orang-orang tertipu yang memilih kesenangan sesaat. Jalan laki-laki yang pengecut, pengumbar hawa nafsu dan jalan wanita-wanita yang bodoh, yang suka mengobral dan menjual kemuliaan diri.
Tidak dipungkiri, Faizul Haq telah merancang dari jauh hari bagaimana ia menyiapkan hari yang bersejarah dalam hidupnya. Bagaimana ia menyiapkan segala keperluan untuk pernikahan. Mulai dari ilmu, mental, finansial, dan kesehatan fisik. Barangkali keinginan menikah telah menjadi humum Faiz sejak beberapa tahun kebelakang, sebagaimana yang juga bergejolak dalam hati banyak anak muda. Kerinduan yang tak lagi tertahankan untuk berjumpa sang kekasih dambaan jiwa. Kerinduan untuk bisa memadu hati, menumpahkan segala keluh-kesah dan gelora jiwa.
***
Setiap laki-laki yang soleh mendambakan seorang istri yang solehah. Istri yang ketika dilihat menyenangkan hati, ketika diperintah ia patuh, ketika ditinggalkan ia menjaga harta dan dirinya, dan ketika salah ia mau diingatkan. Istri solihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia.
Ia ibarat sebuah madrasah yang kelak didalamnya anak-anak yang lahir akan dibesarkan, dididik dan dibina. Bijak dan tepat memilih calon istri sebelum menikah adalah diantara faktor kebahagiaan rumah tangga. Salah dalam memilih akan berisiko dikemudian hari. Dengan demikian, jangan tergesa-gesa menentukan pilihan, tapi kalau sudah nampak yang cocok dengan persepsi dan keinginan hendaknya segera mengajukan lamaran. Karena biasanya sesuatu yang berharga dan bernilai tinggi menjadi rebutan banyak orang…
Istri solehah akan selalu menjadi sumber kekuatan, tempat bertenang ketika gelisah melanda jiwa, tempat berbagi ketika resah menghimpit hati. Istri solihah bukanlah tipe wanita materialistis, yang ketika ada uang, abang disayang, nggak ada uang abang jangan pulang atau piring melayang. Sabar disaat kesulitan melanda, qana`ah dengan apa yang ada dan bersyukur ketika mendapat kelebihan rezki. Bagi seorang istri solihah keridhaan suami adalah diatas segalanya, walau ia harus melawan keinginannya.
Hidupnya seluruhnya ia abdikan untuk suami dalam rangka beribadah dan ketaatan pada Allah Swt. Istri solehah adalah ibarat taman indah nan penuh pesona. Tak lelah mata memandang keindahan budi pekerti dan tingkah lakunya.
Istri solehah selalu dirindu dan dikenang. Rindu pada belaian lembutnya, rindu pada teguran halusnya, rindu akan senyum tulusnya, rindu pada wajahnya yang teduh, air mukanya yang jernih dan rindu pada kata-katanya yang mesra. Hati akan resah bila lama tidak berjumpa, bila jarak telah memisahkan. Hati akan gelisah bila satu hari tidak bertemu. Karena cinta yang telah tenggelam dalam samudera hati, cinta akan kebaikan dan kebagusan akhlaknya. Sungguh benar apa yang disampaikan Rasulullah Saw. bahwa memilih wanita solehah akan membahagiakan seseorang di dunia dan di akhirat.
Untuk calon suami, pilihlah seorang calon istri yang telah dikenal baik akhlak dan agamanya. Utamakanlah itu atas segalanya. Dan jangan lupa untuk juga mempersiapkan diri menjadi seorang suami yang soleh. Dan bagi seorang calon istri, bila datang seorang laki-laki yang Anda kenal baik agama dan akhlaknya dan Anda memang telah siap untuk menikah, janganlah menolak, tapi terimalah niat baiknya dengan hati yang terbuka. Dan jangan lupa untuk mempersiapkan diri Anda menjadi bidadari baginya di dunia dan di akhirat.
Istri solehah adalah harta yang paling berharga dan bernilai tinggi yang tiada duanya. Sungguh beruntung dan berbahagia seseorang yang dikaruniai seorang Bidadari Dunia. Hidup akan penuh dengan kebaikan dan ketaatan. Hidup yang selalu bersemangat, penuh cinta dan cita-cita mulia.
Aa Gym pernah berkata, “Istri solehah adalah sebaik-baik keindahan, kata-katanya menyejukkan kalbu, ia bagaikan bidadari surga yang hadir di dunia. Ia adalah istri yang meneguhkan jihad suami, penebar rahmat bagi rumah tangga, cahaya dunia dan akhirat.”
Beberapa orang pernah datang kepada saya, curhat tentang keinginan mereka untuk menikah. Yang datang pun bervariasi, dengan berbagai permasalahan yang mereka miliki.
Setiap yang datang selalu saya berikan dorongan untuk tidak ragu melangkah ketika melihat diri telah siap. Siap yang tidak saya artikan sebatas modal kemauan, namun konkritnya ada bekal yang telah dimiliki untuk membina rumah tangga. Juga melihat kesiapan dengan kejernihan hati dan pikiran, bukan dengan kacamata nafsu dan setan.
Harus ada kesadaran yang penuh ketika merespon dorongan-dorongan yang muncul dalam hati.
Fakta telah banyak berbicara, tentang orang-orang yang menikah hanya untuk melampiaskan hasrat nafsu yang tak lagi bisa ditahan. Apa yang terjadi adalah, hubungan yang tidak pernah harmonis dan sering terjadi cekcok antara suami-istri hanya disebabkan permasalahan sepele. Karena masih didominasi oleh sikap kekanak-kanakan dan sikap yang cenderung egois, emosian, sentiment dan penuh curiga.
Ketika seseorang ingin ikut serta dalam sebuah perlombaan, kesiapan yang ia miliki menjadi tolak ukur kesuksesannya. Jika ia mempersiapkan diri dengan matang, peluang untuk menang akan terbuka dihadapannya. Tapi ketika persiapan yang ia miliki apa adanya, maka hasilnyapun akan jauh dari yang diharapkan. Tidak hanya dalam perlombaan, tapi dalam setiap dimensi kehidupan yang kita jalani, adanya kesiapan sangat menentukan kesuksesan kita.
Pernikahan tidak hanya semata hubungan biologis, kalau kita memaknai demikian, tentu tidak berbeda cara pandang kita dengan hewan. Namun dengan menikah ada nilai-nilai yang ingin kita raih, ada tugas, amanah dan kewajiban yang harus ditunaikan dan dipertanggung jawabkan. Ibarat kita ingin mendirikan sebuah gedung diatas sebidang tanah. Ketika pondasi yang dibangun kuat, pondasi akan tetap kokoh dan gedung tidak akan runtuh. Sedangkan bila pondasi lemah, besar kemungkinan gedung tidak akan bertahan lama dan akan cepat roboh.
Pada intinya, kita perlu mempersiapkan diri, dan itu sudah menjadi keharusan. Siapkan ilmunya, mental, kesehatan dan finansial. Dan yang paling utama kita harus memiliki hubungan yang baik dengan Allah Swt.. Kita harus terus berupaya untuk meraih kedudukan taqwa. Dengan ketaqwaan segala kesulitan akan menemukan jalan keluarnya.
Allah Swt. telah menjanjikan, bahwa barang siapa yang bertaqwa maka Allah Swt. akan memberinya jalan keluar terhadap kesulitan yang ia hadapi dan memberinya rezki dari arah yang tidak ia duga.
Dari sekarang, binalah hubungan yang baik dengan Allah Swt. dan dengan orang lain. Latihlah diri Anda dalam ketaatan, gemar berbuat kebaikan dan rajin beribadah. Latihlah diri Anda dengan perilaku yang mulia sehingga ia menjadi kebiasaan Anda. Dan bila diri Anda telah siap, maka melangkahlah dengan yakin. Adanya kekurangan ekonomi janganlah jadikan penghalang utama. Anda harus yakin rezki setiap hamba telah ditentukan kadarnya oleh Allah Swt. Bukankah itu suatu hal yang menggembirakan. Anda tidak perlu merasa susah, tinggal Anda berusaha untuk menjemput rezki itu.
Dan terakhir, jangan salah pilih, jangan tertipu dengan penampilan luar, pilihlah dengan hati dan pikiran yang jernih. Jangan memilih dengan landasan nafsu dan bisikan setan. Utamakanlah agama diatas segalanya, dengan demikian kita akan bahagia sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah Saw.
Jadi, jangan tunda lagi kalau Anda sudah siap, bersegeralah …!
Salam,
marif_assalman@yahoo.com
———————–sumber:eramuslim.com
|
Majelis Cinta: Sebuah Memoar Ta’aruf |
|
Karya : Dani Ardiansyah |
|
tentang-pernikahan.com - Menikah adalah salah satu resolusi hidup yang tidak pernah saya targetkan waktunya. Meski sepenuhnya sadar, bahwa selain sunnah Rasul, menikah juga secara naluriah menjadi hasrat yang paling manusiawi yang terkadang bisa jadi sangat mendesak. Tapi saya benar-benar tidak pernah menargetkannya dengan serius. Berbeda dengan dengan Fachri (AAC), yang serius membuat peta hidup dengan target menikah. Tentu saja banyak pertimbangan yang mempengaruhi sikap saya tentang pernikahan tersebut. Hingga pada suatu saat, keputusan untuk menikah tiba-tiba saja datang tanpa banyak pertimbangan. Dan sikap saya, tentu saja berbaur. Antara rasa percaya diri dan minder, antara berani dan takut, antara ksatria dan pecundang. Yah, semuanya menjadi satu. Dan saya merasa harus melakukan sesuatu dengan perasaan itu. Saya harus menyublimasi semuanya hingga ada hasil akhir dari perang rasa itu menjadi sebuah sikap: Lahaula walaquwwata illa billah. Tentunya dengan segala prasangka baik pada Allah swt. Bahwa saya akan menjadi ‘kaya’ setelah menikah. Semuanya harus prosedural, ada tatanan yang tidak bisa sembarangan dilewati. Dan saya, baru saja akan memulai tatanan tersebut. Bidadari yang akan mendampingi saya adalah seorang aktivis, dan saya bisa dikataka n seorang Pasivis (istilah sendiri), Dan tidak ada pilihan, selain saya juga harus mengikuti aturan mainnya. Mulailah proses tersebut. Ta’aruf. Saya harus mengajak seseorang untuk menemani dalam proses ta’aruf tersebut. Orang tua, tidak mungkin. Mentor kajian, sibuk persiapan Pilkada DKI. Temen ikhwan, jauh-jauh. Kalo temen cowok banyak (jangan mempermasalahkan istilah ikhwan dan cowok ya). Akhirnya, satu-satunya orang yang bisa saya mintai tolong untuk urusan ini adalah Mas Epri Tsaqib. Seorang teman, sahabat, ustadz, moderator milis, dan kadanga-kadang ojek (secara saya sering nebeng motor beliau). Berangkat dari Jakarta, terminal Lebak Bulus sekitar pkl 14.00 wib. Bis meluncur lambat. Cipularang seakan tak berujung. Sudah habis topik obrolan dengan Mas Epri, saya pura-pura tidur. Mas Epri meneruskan bacaan bukunya. Dan hati, adalah badai tiada henti saat itu. Terminal Leuwipanjang sudah bersekutu dengan gelap saat kami turun dari bis. Lelah. Peregangan adalah hiburan sederhana. Perjalanan menuju tempat ta’aruf msaih cukup jauh. Pecel lele adalah menu paling enak malam itu, tandas. Satu jam berikutnya kami suidah menginjakan kaki di Banjaran, tepat didepan Masjid Agung Banjaran. Udara dingin Bandung di malam hari mulai terasa. Lelah, tapi tidak menyurutkan semangat saya untuk menyelesaikan misi ini. Setelah merapikan diri alakadarnya, cuci muka untuk sekedar menyegarkan wajah. Saya memakai kemeja biru lengan panjang, celana katun hitam dan sepatu coklat. Semi formal. Mas Epri mengenakan batik lengan pendek, celana cargo hitam dengan saku berlebih dan sepatu cats putih yang tampak contras. Kami sempat tertawa, setelan yang dipaksakan matching. Seseorang menjemput kami di halaman masjid. Setelah berkenalan alakadarnya, kami segera menuju rumah yang akan memadukan perbedaan, menyepahamkan perselisihan. Majlis ta’aruf. Salam dan perkenalan mas Epri menjadi pembuka pertemuan malam itu, dilanjutkan dengan sambutan dari wakil akhwat. Pendeskripsian diri masing-masing, tak semudah membacakan curiculum vitae ternyata, mungkin ini lebih kepada rasa dan estetika komunikasi. Bukan sekedar artificial. Brand image harus terbangun malam itu. Sempat terlempar Jokes dari Mas Epri, bahwa itu adalah ta’aruf termalam yang pernah ia hadiri. Hmm, bahkan bagi saya, bukan hanya ta’aruf termalam yang pernah saya hadiri, tapi ta’aruf pertama. Ta’aruf yang saya alami tidak seperti apa yg dialami oleh fahcri dalam film AAC, kami tidak saling berhadapan, bahkan saya ada di ruangan yang bersebelahan. Dibatasi oleh dinding partisi yang setengahnya adalah kaca. Saya tidak bisa melihat langsung akhwat bicara, begitu juga sebaliknya. Meski sebelumnya, dalam pertemuan online via internet, saya sempat beberapa kali melihat wajah sang akhwat. Jadi saya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Yang saya inginkan adalah segalanya dapat berjalan lancar dan dalam koridor. Kami membeberkan segala hal tentang diri, keluarga, aktivitas, pekerjaan, hobby riwayat penyakit dan lain-lain. Dan alhamdulillah, semuanya tidak ada masalah. Semua berjalan dengan baik. Saya beruntung mengajak mas Epri yang memang sudah terbiasa menghadiri majlis ta’aruf untuk membantu adik-adiknya yang mau menikah. Terlebih, beliau juga sudah pernah mengalamai sendiri hal itu. Salam penutup dan kifaratul majlis mengakhiri pertemuan itu. Sapa hangat dan wasiat dari pihak akhwat mengantarkan kami berpamitan. Tujuan kamiberikutnya adalah Dayeuh Kolot. Rumah Paman. Halaman Masjid Banjaran yang gelap serta alun-alun kota yang lengang, seolah mengantarkan kami meninggalkan kenangan. Sepertinya malam itu saya tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Terlalu banyak hal yang harus saya pikirkan. Malam itu bukan lah sebuah akhir dari proses menuju ke sana. Melainkan sebuah awal, awal dari banyak hal yang akan saya lalui esok hari. Special thanks to Epri Tsaqib Dani Ardiansyah |
Maafkan Aku Isteriku…
oleh Al Furqan
Emak, saya dibesarkan oleh Emak dengan penuh perhatian. Emaklah yang memandikan saya dan adik-adik hingga saya mampu untuk mandi sendiri. Saya dan adik-adik hanya berbaris di depan sumur lalu Emak menguyur tubuh kami dengan ember yang berisi air yang ditimba dari dalam sumur.
Emaklah yang memakaikan seragam sekolah hingga menyuapi sarapan pagi. Saya hanya tinggal buka mulut, suapan tangan Emak pun masuk ke mulut saya. Lalu Emak akan mengantar kami ke sekolah. Setelah itu Emak kembali ke rumah untuk mengurus Bapak.
Bapak, saya tak pernah dekat dengan Bapak. Bukan karena Bapak saya orang jahat. Bukan karena saya tak pernah mencurahkan gundah di hati saya. Bukan karena Bapak tak pernah memeluk saya dengan hangat. Bukan karena Bapak tak pernah tertawa dengan gurau yang saya lontarkan.
Entahlah hati saya merasa jauh dari Bapak. Kami memang saling menyapa, tetapi semua itu hanya basa-basi. Saya dan Bapak tidak pernah berbicara mengenai perasaan kami. Saya tak pernah mendengar ungkapan cinta dari bibir Bapak. Saat Bapak memeluk, saya merasa dipeluk oleh mahluk asing. Hambar, tak ada gejolak.
Berbeda ketika Emak memeluk saya. Saya merasa begitu damai dan aman. Saya seperti mendengar nyanyian merdu dari dalam dadanya. Tubuhnya begitu hangat membuat saya betah berlama-lama dalam pelukan Emak sehabis mandi pagi.
Pada Emaklah saya banyak bercerita. Tentang sekolah dan teman-teman saya. Juga saat pertama kali saya suka pada teman wanita saya. Emak mengajarkan saya banyak hal. Tetapi Emak tak pernah mengajarkan saya pekerjaan rumah. Emak bilang itu pekerjaan perempuan.
Bapak, tak pernah mengajari saya. Bapak memberikan hadiah sepeda tetapi tidak mengajari saya naik sepeda. Bapak membelikan saya kelereng, tetapi tidak mengajari saya cara menggunakannya. Bapak membelikan saya layangan tetapi tidak menemani saya bermain layangan. Hanya Bapak sering berkata bahwa saya tidak boleh cengeng. Lelaki tidak boleh menangis. Jadi laki-laki harus kuat dan tegar.
Saya sering memperhatikan Emak mencuci piring. Melihat busa yang dihasilkan oleh sabun colek yang Emak pakai. Saya ingin membantu Emak agar saya dapat bermain dengan sabun tersebut. Tetapi Emak melarang saya, malah Emak meminta saya untuk bermain layangan dengan teman-teman saya di depan rumah.
Saya ingin membantu Emak di dapur, tetapi lagi-lagi Emak berkata itu pekerjaan perempuan. Malang sekali perempuan, pikir saya saat itu. Apalagi saya tak pernah melihat Bapak membantu Emak mengurus kami ataupun membantu Emak di rumah. Semuanya dilakukan oleh Emak. Kata Emak karena Bapak sudah capek bekerja mencari uang, lagi pula semua itu tugas perempuan.
Suatu ketika saat bermain kelereng saya berkelahi dengan seorang anak lelaki seusia saya. Tetapi badannya lebih kecil. Saya pukul dia hingga badannya babak beluk. Teman-teman saya tidak ada yang memisahkan kami. Bahkan mereka menyemangati kami. Hingga akhirnya Bapak anak yang saya pukul datang lalu memisahkan kami.
“Anak siapa kamu?! Anak kurang ajar! Dimana Ibumu?!” Lelaki itu menghardik saya. Lalu membawa saya pulang. Dia pun menghardik Emak. Katanya Emak tidak becus mengurus dan mendidik saya hingga saya menjadi anak kurang ajar. Rasanya saya ingin menghajar lelaki tersebut yang berani memaki Emak.
Kasihan Emak. Sejak saat itu saya tak nakal lagi. Saya tak ingin Emak yang disalahkan karena kenakalan saya. Tak ingin Bapak marah pada Emak karena perbuatan saya.
Saya mulai beranjak remaja, di sekolah saya sering menjadi juara kelas. Bapak datang mengambil rapor saya. Bapak dipuja oleh kepala sekolah dihadapan orangtua yang lainnya. Saya pun bertanya dalam hati, mengapa Bapak yang dipuja ketika saya berprestasi. Bukankah Emak yang telah mengajari saya?
Setamat SMA saya melanjutkan kuliah di kota lain. Saya mulai aktif di kegiatan masjid. Saya mulai belajar tentang agama saya. Juga mengenai peran perempuan yang sebenarnya. Tidak seperti yang selama ini saya dapat dari Emak. Dan Emak mendapatkannya dari nenek saya.
Ketika musim libur saya kembali ke rumah. Di rumah Emak mengurus saya sama seperti saya waktu kecil. Saya ingin menolaknya. Tetapi setiap kali melihat kebahagian di mata Emak saat menghidangkan makanan di hadapan saya, keinginan tersebut lenyap. Begitu juga saat saya ingin membantu Emak membersihkan rumah. Emak melarang saya dan meminta saya duduk di serambi rumah dengan Bapak. Hati saya merasa tak nyaman melihat Emak bekerja sementara Bapak hanya duduk sambil menghisap rokok ditemani secangkir kopi.Tetapi saya tak bisa berbuat apa-apa. Saya pun memenuhi permintaan Emak duduk di sebelah Bapak, tetapi kami hanya saling membisu. Seperti dua mahluk yang berbeda, tak tahu harus berkata apa.
Setelah saya selesai kuliah, saya pun menikah dengan teman kuliah saya yang berasal dari kota yang sama. Seperti Emak, isteri saya mengurus saya dan rumah dengan baik. Walaupun dia juga bekerja sebagai karyawati di sebuah perusahaan. Saya mulai merasakan sesuatu yang salah dalam diri saya. Rasanya saya sudah terbiasa hidup dilayani. Saya sudah terbiasa hidup seperti raja, walaupun saya tahu itu tidak benar. Seharusnya saya membantu isteri saya di rumah, tetapi saya tidak terbiasa untuk itu. Dari kecil saya tidak dilatih untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Isteri saya tidak pernah mengeluh, walaupun saya tahu tubuhnya sangat letih. Dia selalu berkata ingin menjadi isteri yang baik. “Isteri harus berbakti dan melayani suami,” pesan ibu mertua pada isteri saya.
Saat anak pertama saya lahir, ada rasa bahagia dan takut dalam diri saya. Entahlah saya takut tak dapat mendidiknya dengan baik. Apalagi saya tak pernah melihat Bapak mengajari kami ataupun menasehati kami tentang kehidupan. Saya tak tahu harus mencontoh siapa dalam mendidik putra saya.
Setelah melahirkan, isteri saya tinggal di rumah, mendapat cuti dari kantornya. Dia pun merawat bayi kami dengan baik. Malam hari ketika bayi kami menangis, isteri saya berusaha menenangkan tanggisan tersebut. Bayi kami dibawa keluar kamar. Isteri saya tak ingin tidur saya terganggu dengan tanggisan tersebut. Ketika saya ingin menenangkan bayi kami, isteri saya meminta saya kembali tidur. Dengan alasan besok saya harus masuk kerja, sedangkan dia tak perlu ke kantor. Saya pun menurut, lagi pula saya memang ngantuk. Saya tak pernah berusaha meyakinkan isteri saya. Mungkin karena ada perasaan aneh saat saya harus mengurus bayi, atau karena saya sudah merasa keenakan dengan kebaikan isteri saya.
Isteri saya telah habis masa cutinya, tetapi perhatian pada bayi kami tidak berkurang. Dia tetap memberikan ASI. Saat pulang dari kantor isteri saya datang membawa ASI yang disimpan dalam botol-botol kecil. Walaupun isteri saya harus lembur tak lupa dia dengan kebutuhan bayi kami.
Hari itu, isteri saya pulang terlambat. Saya sudah terlelap tidur saat dia datang. Sedangkan bayi kami diurus oleh pengasuhnya sampai isteri saya datang. Isteri saya kembali ke rumah dalam keadaan sangat letih. Bayi kami menangis malam itu. Seperti biasa isteri saya bangun untuk menenangkan bayi kami. Tidak seperti biasanya malam itu isteri saya membiarkan bayi kami tetap berada di kamar sedangkan dia keluar untuk mengambil botol susu.
Saya baru saja akan terlelap dalam mimpi ketika saya mendengar teriakan dan dentuman dari arah tangga rumah kami. Segera saya loncat dari tempat tidur menuju suara tersebut. Jantung saya berpacu cepat seketika saat melihat di bawah tangga isteri saya tergeletak tak bergerak. Saya berusaha membangunkannya tetapi dia tidak juga bergerak. Rupanya ketika dalam keadaan letih, ngantuk dia berjalan dalam ruangan gelap menabrak ujung tangga dan terpeleset jatuh. Kepalanya menghantam tangga hingga ke lantai satu.
Setelah tak sadarkan diri selama lima hari, isteri saya pun pergi menghadapNya. Saya hanya dapat menyesali diri. Saya menyesal tidak membantu isteri saya dalam mengurus bayi kami malam itu. Padahal saya bisa memberikan ASI dalam botol tersebut. Saya tahu tugas sayalah melindungi isteri dan bayi kami. Tetapi mengapa saya ragu? Kini saya tak tahu bagaimana merawat dan membesarkan bayi. Bagaimana mendidiknya kelak. Saya tak pernah punya contoh. Isteriku, maafkan aku. (BR)
Aku Akan Mencinta…
Penulis : Lizsa Anggraeny
———
KotaSantri.com : “Wajahnya mirip!” Penggalan kata tersebut sering terdengar. Membuat bibir tersenyum senang, tersungging geli. Entah benar atau sekedar basa basi, biarlah! Yang penting, aku bahagia. Dan kau pun seolah tahu, tertawa lebar dengan pelukan erat.
Kau lihat? Wajah kita jelas sekali berbeda. Mataku bulat hitam, sedangkan kau coklat sipit. Kuliku coklat sawo matang, sedangkan kau putih bersih. Hidung tak sama, lekuk garis pun tak serupa. Jelas kita tak mirip.
Kita Mirip? Ya, mungkin saja. Orang melihat kita telah menjadi mirip. Terbentuk oleh ritme kehidupan yang sama.
Kau ingat? Kita pernah menangis bersama. Ketika baju-baju dalam koper kau porak porandakan, teracak berhamburan. Urat kesabaranku pecah. Dengan mata singa galak membentakmu, menggelegar. Hingga badan kecil terhenyak ketakutan, menangis sejadi-jadinya. Lalu merangkak pelan menuju alas pelicin, berusaha mengangkat setrika berat, dengan masih berurai air mata. Seolah kau ingin mengatakan, “Aku hanya ingin mencoba alat yang bernama setrika! Bukan bermaksud mengacak-acak pakaian!”
Aku tergugu di pojokan. Trenyuh memandang tubuh kecil yang sedang berusaha menggerakan setrikaan berat. Dengan pakaian yang kusut di genggaman. Dan aku pun turut menangis. Menyesali ketidaksabaran.
Kita pernah tertawa bahagia. Tidak, bukan hanya pernah, tapi sering kali kita tertawa bersama. Ketika wajah badutku mulai terpasang, bersiap mengejar tubuh mungil. Dengan riang, kau akan merangkak cepat, menghindari wajah badut di belakang. Kau pun akan tertawa senang jika hidangan kesukaan terlihat tersaji. Empat gigi yang baru tumbuh akan dipamerkan dalam tawa lebar. Lahap menyantap kegemaran.
Dan kau tahu? Aku pernah begitu bahagia memilikimu. Ketika suara mungil mulai berolah vokal. “Miiih… Mih… Amih… Amiiihhh” Sambil mendekati, kemudian memeluk leherku dengan gerakan lincah senang. Aku bagai malambung saat itu. Ingin rasanya meloncat ke awang-awang, mengabarkan pada semuanya. “Woooiii…. Lihat! Dia sudah bisa memanggilku Amih!”
Mirip atau tak mirip, aku tak peduli. Tak mirip karena memang kau bukan terlahir dari rahimku. Tak pernah aku merasakan tendangan mungilmu dalam hitungan sembilan bulan. Tak pernah aku merasakan kesakitan menunggu persalinan. Tak pernah pula aku merasakan keindahan menyusui. Sesuatu yang sesungguhnya begitu aku dambakan dalam semakin bertambahnya usia pernikahan.
Jika orang mengatakan kita mirip, itu karena keadaan. Seiring dengan hari-hari yang telah kita lalui bersama. Sejalan dengan rasa cinta yang menjalar cepat. Kasih sayangku menumpuk dalam hitungan detik. Kebahagiaanku bertambah dengan skala kilat. Relung batinku terisi naluri seorang ibu.
Percayalah, Nak, mirip tak mirip, bagiku bukan halangan. Karena aku akan mencinta, dalam batas kemurnian kasih seorang ibu. Mengasihi dalam waktu yang masih tersisa. Menyayangi dalam jiwa yang mendamba. Menerima kehadiranmu adalah sebuah amanah yang tidaklah mudah.
Ajari Aku Mencintai Mereka
————————-
Suatu hari di pemondokan haji di Mekkah, terlihat seorang laki-laki berusia 60 tahunan sedang asyik berkirim-kiriman SMS. “Dari siapa tho, Mas? Asyik betul dari tadi SMS-an. Cucu ya?“ tanya teman sepemondokannya sambil tersenyum.
“Ndak, dari si bungsu.” jawabnya masih asyik dengan telepon genggamnya.
“Biasanya anak perempuan itu perhatian ya. Saya lihat Mas tiap malam asyik ber-SMS ria.” Lanjut teman yang lain. Kali ini yang ditanya mengangkat sejenak wajahnya dari telepon genggamnya.
“Anakku lanang kabeh kok.” katanya sambil tersenyum. “Si bungsu ini memang perhatian sekali dengan kami. Walau jauh, tak pernah sedikitpun mengurangi perhatiannya.” Ada nada haru dalam ucapannya sambil membayangkan sang pengirim SMS.
Lain waktu si pengirim SMS ini sedang berada di ruangan kerjanya di salah satu laboratorium universitas. Sedang asyik bekerja tiba-tiba suara seorang laboran memecahkan konsentrasinya. “Telepon dari Ibu, Pak.” katanya sambil melongok dari balik lemari. Inti percakapan telepon itu, ibunda memintanya datang untuk membetulkan kompor! Tak dibantah permintaan ibunda. Tak dipikirkannya juga resiko kemacetan menuju wilayah barat Jakarta ini dari Depok. Tak dimintanya juga ibunda mencari orang lain untuk membetulkan benda itu. “Iya Bu… insya Allah selepas Bowo jaga ujian, langsung ke Kebun Jeruk.” janjinya. “Jangan lupa ya, Dek. Ibu jadi nggak bisa masak nih, kompornya tidak menyala.” katanya menegaskan. Hmmm… dia dipanggil Dek Bowo, itulah panggilan kesayangan di rumah. Panggilan Dek, menunjukkan urutan kelahiran dalam keluarganya.
***
Ada lagi hal menarik yang menujukkan kedekatan hubungan ibu dan anak ini. Saat ia bertugas menjadi pembimbing praktik lapangan mahasiswa. Ayah dan Ibunda mengantarkannya sampai lokasi keberangkatan. Dicium tangan ayahnya, lalu ibunya. Cuup… Cuuup… Muaaaaahh! Ibunda kemudian mendaratkan ciuman di pipi ananda. Tak dipedulikannya tatapan takjub mahasiswanya dari dalam bus melihat pemandangan itu. Lebih baik malu dilihat mahasiswa, daripada membuat sakit hati ibunda. Ini sudah jadi kebiasaan sejak kecil. Apa salahnya menyenangkan hatinya, begitu pikirnya.
Selain pandai menyenangkan hati, si bungsu selalu meminta restu keduanya untuk keputusan penting dalam hidup. Ada anjuran dari instansinya, agar staf pengajar melanjutkan studi ke luar negeri. Dicobanya beberapa aplikasi, namun sayang, tak ada yang berhasil. Dipikirkan apa kekurangannya, rasa-rasanya semua persyaratan sudah dipenuhi dengan baik. Saat wawancara pun tak ada masalah. Didiskusikan hal ini dengan sang istri. “Mas, sudah bilang ibu belum tentang hal ini?”
Ia berpikir keras. ”Sudah.” katanya pasti. “Maksudnya, tanya betul-betul apakah Ibu berkenan jika mas belajar ke luar.” lanjut istrinya.
Plak!! Ditepuk dahi menyadari kekhilafannya. “Iya, betul. Belum tanya ibu berkenan atau tidak. Saya hanya memberitahu, mau melamar beasiswa.” katanya sambil manggut-manggut. “Ibu mungkin keberatan selama ini, karena konsekuensinya kita akan jauh darinya.” katanya dengan suara pelan.
Jawaban ibunda terjawab keesokan hari. Dipandang anak bungsunya dengan seksama. Sebuah episode berat terbayang menggelayut wajah ibunda. “Dek…. Ibu ridho kok kalau Dek Bowo mau sekolah ke luar…” katanya tercekat. Lalu diam. Terlihat buliran air mata menganak sungai di pipinya. “Tapi… tapi… kalau misalnya kesempatan itu didapat…,” kalimatnya terputus. “ Jangan sampai menjauhkan kita ya, Dek.” katanya tak kuasa menahan tangis. Meledaklah tangisnya. “Huuu… Huuu… Dek Bowo itu yang paling tahu kesenangan dan kesusahan Bapak Ibu.” cetusnya dengan berlinang air mata. Demi mendengar itu, diambilnya tangan ibunda. Diciumnya tangan yang sudah penuh guratan ini dengan takzim. “Saya berjanji Bu, insya Allah walaupun jauh akan selalu menghubungi Ibu sama sering ketika Bowo berada di Depok.” janjinya sambil menahan linangan air mata.
Dan… Ajaib! Kali ini berhasil! Ridho Allah berada dalam keridhoan orangtua terbukti. Maka dimulailah babak baru keluarga kecil Bowo di Negeri Matahari Terbit.
***
Ya Allah, Ku berterima kasih telah Engkau berikan seorang suami yang begitu mencintai kedua orang tuanya. Dia telah mengajariku bagaimana menghujani cinta dan perhatian terutama bagi ibunda, dimana di telapak kakinya surga-Mu berada. Semoga kecintaan kami dan kecintaan kedua orang tua kami, mendekatkan kepada cinta-Mu. Amiin.
Okayama, 27 Muharam 1430 H
anibowo@yahoo.co.jp
sumber :eramuslim.com
Membeli Kebun di Surga
————————-
Suatu ketika, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang bersedekah, di surga nanti, ia akan memiliki seperti yang ia sedekahkan.”
Abu Dahdah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, aku memiliki dua kebun. Apabila salah satunya kusedekahkan, apakah kelak aku akan memiliki kebun seperti itu di surga?’
Rasulullah SAW menjawab, “Benar.”
Abu Dahdah kembali bertanya, “Apakah istri (Ummu Dahdah) dan anak-anakku juga akan bersamaku di surga?”
Rasulullah SAW menjawab, “Benar.”
Abu Dahdah pun membulatkan tekadnya untuk menyedekahkan kebunnya yang terbaik. Sesampainya di kebun itu, ia berjumpa dengan istri dan anak-anaknya. Ia pun menegaskan kepada mereka, “Aku akan menyedekahkan kebun ini. Dengan begitu, aku membeli kebun seperti ini di surga. Adapun engkau, istriku, akan bersamaku dan seluruh anak kita.”
Tiba-tiba saja meneteslah air mata bahagia dari kedua pelupuk mata istrinya yang beriman itu.
Istri Abu Dahdah lalu berkata, “Semoga yang engkau jual dan beli diberkati Allah SWT, wahai suamiku.”
Istri Abu Dahdah kemudian segera memanggil anak-anaknya dan meninggalkan kebun itu karena sudah bukan milik mereka lagi. Akhirnya, kebun itu menjadi milik umat Islam yang miskin.
Kisah diatas dikutip oleh al-Kalbi dalam tafsirnya saat menjelaskan surah al-Baqarah ayat 245,
“Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjamannya yang baik maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
Kisah ini juga diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib. Kisah ini mengingatkan kita bahwa apa yang tengah kita genggam sekarang ini, apa yang kita miliki kini, pada hakikatnya tidaklah memiliki arti apa-apa bila tidak kita infakkan, bila tidak kita sedekahkan di jalan Allah.
Harta yang diperhitungkan oleh Allah untuk diberi balasan kenikmatan surga bukanlah harta yang kita peroleh kemudian kita simpan, melainkan harta yang kita peroleh dengan jalan yang halal kemudian kita infakkan (nafkahkan) dan kita sedekahkan.
Abu Dahda, seorang sahabat Nabi, ketika mendengar bahwa sedekah yang kita berikan akan diganti oleh Allah dengan ganti yang setimpal, bahkan lebih, dengan segera menginfakkan salah satu dari dua kebunnya, bahkan kebunnya yang terbaik. Ia berharap Allah akan menggantinya dengan kebun serupa di surga kelak.
Kisah ini dapat kita jadikan bahan renungan dan cerminan, apakah sudah seperti itu upaya kita untuk mendapatkan hal yang sepadan di akhirat kelak dengan apa yang kita infakkan di dunia ini. Apakah infak dan sedekah yang kita keluarkan hanyalah serpihan-serpihan kecil atau remah-remah dari harta kita yang tidak berarti dan tidak kita perhitungkan?
Seorang teman pernah berseloroh, “Bila Anda merasa berat sewaktu berinfak dengan sepuluh ribu rupiah, tetapi merasa ringan sewaktu berinfak dengan seribu rupiah, seukuran itu pulalah kualitas Anda. Semakin ringan Anda mengeluarkan infak dalam jumlah yang semakin besar dalam kemampuan Anda, sebesar itu pulalah kualitas Anda.”
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman,“Berikan hartamu maka Aku akan memberi kepadamu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Karena itu, jangan ragu-ragu untuk berinfak dan bersedekah. Biarkanlah diri Anda memberi. Bila Anda melakukannya dengan ikhlas dan kerendahan hati, banyak berkah Ilahi yang mengalir kepada Anda.
Tujuh manfaat bersedekah:
1. membebaskan dari kesulitan,
2. menyembuhkan penyakit,
3. memelihara harta benda,
4. meredakan murka Allah,
5. menarik cinta kasih manusia,
6. membuat hati yang keras menjadi lembut, dan
7. menambah keberkahan usia.
Dalam sebuah pepatah dikatakan, “Sebaik-baik harta adalah yang kamu infakkan (sedekahkan) dan sebaik-baik ilmu adalah yang memberimu guna.”
Jakarta, 28 Januari 2009
Dadi M. Hasan Basri
sumber: eramuslim.com
Pudarnya Pesona Jilbabmu
oleh Sudaryono Achmad
————
Perempuan muslimah berjilbab itu tampak anggun, apalagi dibarengi dengan akhlak yang baik pula, aklah Islami. Tetapi, pesonanya akan memudar jika perilaku tak mencerminkan citra dirinya sebagai perempuan berjilbab. Seperti yang saya temui di depan perpustakaan kampus pada suatu malam, beberapa hari lalu. Sehabis shalat isya, saya menuju warnet kampus untuk sekedar cek email. Di depan perpustakaan kampus yang remang-remang itu, saya mendapati tak kurang lima perempuan berjilbab sedang asyik bermesraan dengan lelakinya masing-masing. Pacarnya mungkin. Mana ada suami isteri yang berduaan di depan kampus. Kalaupun ada, seribu satu lah. Masing-masing mereka terpisah dengan lokasi yang berbeda. Duh..mesra sekali, mereka berpelukan dan cuek saja ketika saya melihatnya. Hem…anak muda zaman sekarang begitu ya.
Dalam hati, saya hanya bergumam. Apa mereka tak malu yah dengan identitas dirinya sebagai perempuan berjilbab. Apalagi cuek saja ketika ada orang yang melihatnya. Tak pahamkah mereka. Dia berjilbab, jelas menandakan bahwa dirinya seorang muslimah. Tidakkah mereka berpikir akan konsekuensi dari perilakukanya itu. Misalnya ada orang yang berkata “ Tuh yang pake jilbab aja asik-asikan berduaan”. Jelas, tak bisa disalahkan ketika orang berkata begitu. Faktanya jelas ada. Dalam hal ini, citra seorang yang berjilbab menjadi buruk.
Bisa jadi perilaku semacam itu yang membuat orang sinis terhadap perempuan yang memakai jilbab. Saya pernah menujukkan kepada seorang teman, laki-laki. Dia teman biasa saja, bukan seorang aktivis masjid kampus atau aktif di organisasi Islam. Sewaktu ada mahasiswi berjilbab lebar, saya katakan ke dia “ Tuh contoh pakaian yang ideal bagi seorang muslimah”. Lantas, dia bilang “Jangan salah, itu hanya luarnya saja”. Kemudian, dia bercerita tentang teman-temannya yang memakai jilbab tetapi perilakunya norak abis. Intinya, tidak layak ketika memakai jilbab tapi perilakunya lebih buruk dari tidak memakai jilbab.
Nah, bagaimana hal demikian dimaknai…
Jilbab, di dalam Islam adalah kewajiban bagi seorang muslimah, kewajiban untuk menutub aurat. Jelas, lebih mulia seseorang jika berjilbab dibandingkan yang tidak. Jika kemudian ada perempuan yang berjilbab tetapi melakukan hal-hal yang dilarang secara hukum syari, itu persoalan lain. Jadi, jika ada perempuan muslimah yang belum siap memakai jilbab karena takut tidak bisa menjaga dirinya kelak, bukan sebuah alasan tepat. Yang semestinya, cobalah memakai jilbab terlebih dahulu, baru kemudian renungkan makna jilbab yang dipakai itu. Isyaallah ketika niatan “hijrah” itu tulus, kelak Allah akan memberikan hidayah, selajutnya akan dibarengi dengan perilaku-perilaku yang lebih baik dari sebelumnya.
Tetapi memang susah ketika jilbab hanya dimaknai sebagai trend saja, misalnya agar terlihat modis, terlihat beda dan lebih “keren”. Di tambah lagi, pakaian yang masih memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya seperti yang bisa kita lihat sekarang. Berjilbab pendek, memakai celana jean ketat plus kaos yang ketat pula. Naik motor berpelukan erat dengan lelaki pasangannya duh...
Bukankah yang ideal itu berjilbab lebar dengan baju yang agak longgar sehingga lekuk tubuhnya tak tampak. Ah.mungkin proses memang harus terjalani. Semoga kesadaran berjilbab semakin marak di negeri ini. Tentunya kesadaran berjilbab yang syari. Kemudian bersama-sama bisa memaknai identitas dirinya sehingga tampak jelas kepahamannya tentang Islam dan sisi dirinya sebagai seorang muslimah. Muslimah yang berjilbab lebar, smart, punya karya, berakhlak Islami, itulah pesona sebenarnya. Adakah atau seberapa banyak yang semacam itu..?
Sanggar Pelangi, 7 Februari 2007/ 07.14
sumber:eramuslim.com
Ujian Cinta
Penulis : Syamsul Arifin
————-
KotaSantri.com : Tuk menghilangkan gundah dan kekecewaanku karena ditolak oleh seseorang yang sangat kuharapkan kesediaannya menemani diriku menapaki hidup bersama, kuhabiskan banyak waktu dan pikiran dengan pekerjaan dan aktivitas lain yang kuharap bisa menyita waktu, menghabiskan energi, dan mengalihkan perhatian.
Pikiran yang kosong memang dapat dengan mudah dijejali oleh syaitan, batinku dalam hati. Berbagai acara kajian dan seminar makin sering kuikuti.
Hari ini, aku akan mengikuti acara Mabit atau bermalam di Masjid Walikota Depok. Seperti biasa, dalam acara Mabit, ada kajian ba’da Isya, Qiyamul Lail berjama’ah, muhasabah (refleksi/introspeksi diri), dan juga kajian bada Shubuh. Aku datang tepat sebelum adzan Isya berkumandang, sebelum tadi sempat mampir ke warung rokok di pinggir jalan untuk membeli air mineral botol satu liter serta beberapa bungkus makanan ringan tuk menemani malam ini.
Jama’ah shalat Isya tidak telalu ramai, tapi setelah shalat Isya selesai, para jama’ah makin banyak berdatangan. Beberapa kali barisan shalat Isya berjama’ah dibuat. Semakin lama, masjid semakin dipadati oleh para jama’ah yang ingin mengikuti acara. Meskipun hanya diikuti oleh para ikhwan, lantai satu dan lantai dua masjid sudah tumpah ruah oleh jama’ah.
Acara dibuka dengan tasmi atau bacaan ayat suci Al-Qur’an tanpa melihat mushaf (Al-Qur’an) oleh seorang hafidz (penghafal Al-Qur’an) muda. Tampang dan penampilannya yang biasa saja, sempat membuatku sedikit meragukan dia, namun ketika ia mulai membaca, subhanallah, suara terdengar begitu merdu dan indah, menyentuh di hati. Aku malu karena telah memiliki prasangka yang tak baik kepadanya.
Terbayang dalam benakku suaranya Nabi Daud AS dan kekaguman Nabi Muhammad SAW terhadap bacaannya Salim, Maula Abu Hudzaifah RA. Terlintas dalam pikirku surat Al-A’raaf ayat 204, kutundukkan sedikit kepala dan kuheningkan sejenak segala perbuatanku. Ya Allah, bacaan yang ia bawakan begitu indah, lembut menyentuh hati, tak terasa air mataku mengalir perlahan. Ia terus membacakan lantunan surat Al-Anfal sampai selesai, ada suatu sensasi yang tak dapat kugambarkan, antara semangat, introspeksi diri, dan perdengaran suara yang begitu indah. Kubiarkan diriku berada dalam keadaan meneteskan air mata.
Kajian pertama bada Isya kali ini berbicara mengenai Tarbiyah Dzatiyah, atau pembinaan pribadi seorang muslim, bagaimana seorang muslim mampu menjaga dan membina dirinya selalu dalam keadaan baik. Kajian yang dibawakan oleh ustadz Abu Ridho ini terasa sangat bermanfaat bagiku. Kajian dihentikan pukul sebelas malam. Dengan perasaan puas, aku mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Wah, sepertinya shaf pertama yang ada alas karpetnya nyaman nih untuk tidur. Aku bergegas menuju ke sana, sebelum tempat itu dipenuhi orang.
Shalat malam dilakukan pukul tiga pagi, beberapa jama’ah terisak-isak dalam shalat. Aku merasa hatiku kering dan keras membatu, hingga tidak dapat meresapi bacaan imam yang panjang dan indah terdengar di telinga. Selesai shalat, ada muhasabah, namun aku malah terlelap dalam keremangan masjid yang dibuat panita.
Kajian kedua bada Shubuh berbincang mengenai ukhuwah atau persaudaraan. Topik ini sudah sering sekali kudengar, namun kadang aku suka miris juga mendengar celotehan para ikhwah yang masih suka “memakan bangkai saudaranya” (1). Ah, semoga materi kali ini memberikan bekas pada diriku, kupanjatkan do’a pelan di hati.
Menjelang materi usai, ketika para peserta sudah pada beranjak pulang, seorang lelaki menghampiriku.
“Assalamu’alaikum, Syamsul Arifin,” suara yang kudengar amat familiar di telinga. Wah, ternyata Radinal Husein, rekan seperjuanganku di rohis kampus, dua tahun yang lalu.
“Wa’alaikumussalam, Ray,” kukembangkan senyum terindahku dan menjabat tangannya mesra. Kami duduk sejenak, pertanyaan perihal kabar dan aktivitas masing-masing saling bersilangan.
Mentari perlahan merangkak naik, dan hangatnya hari minggu pagi mulai terasa. Kami berjalan ke luar Masjid, menuju tempat parkir motor.
“Akh, do’ain saya ya, insya Allah sedang berproses nih,” katanya setengah grogi.
“Wah, wah, wah, selamat ya,” ujarku gembira tak tertahan. “Sama siapa, akh?” tanyaku kemudian.
“Hmm, sama anak UI juga kok,” sahutnya. “Ente kenal kok,” tambahnya.
Ekspresi gembira di wajahku semakin tak tertahan. “Iya, tapi ama siapa?” tanyaku penasaran. “Teman sekelas kita ya?” tambahku.
“Iya,” jawabnya pelan.
“Ha.. ha.. ha..,” aku tertawa pelan.
“Eh, gimana menurut ente? Bisa berabe nih, ngga boleh ya?” tanyanya ragu.
“Nggak kok, asal prosesnya syar’i mah ngga masalah,” jawabku tersenyum.
“Si Ita ya?” kusebut nama seorang akhwat yang dulu menjadi tandemnya di Departemen Pelayanan Umat dulu.
“Bukan,” jawabnya.
“Si Mutia?” tebakku lagi.
“Bukan juga. Ya ente sebutin aja semua, nanti juga ketahuan,” guraunya.
“Iya, habis siapa dong?” ujarku.
“Si Hani, Hani binti Azkam,” jawabnya mantap.
Zebbb, alam serasa hening sesaat. Ternyata Radinal Husein telah mendahuluiku, dia telah mengambil seseorang yang namanya tertulis di catatan harianku, terukir di hatiku, dan terbayang di benakku setiap waktu.
Mulailah mengalir cerita mengenai proses yang ia lakukan sampai akhrnya jadi. Dia melalui seorang perantara teman yang sudah menikah, Anis Hartanti, seorang akhwat yang juga saat ini sudah memiliki seorang anak usia dua tahun. Huaaah, ceritanya yang bersemangat dan indah terdengar hambar di telinga, kupasang topeng kegembiraan di balik raut kesedihan.
Sesampainya di pelataran parkir, cerita lengkap proses akh Radinal dengan Hani tamat sudah. Sembari kupersiapkan diri dengan perlengkapan motorku, kuucapkan selamat kepadanya, “Selamat, ya akh. Wah, wah, wah, subhanallah, mantap ente bisa mendapatkan dia. Dia memang hebat kok, nggak bakal nyesel deh ente nikahin dia. Semoga proses ke depannya lancar ya,” kujabat dia hangat.
“Kalo ente kapan, Pin?” dia bertanya balik sembari mempersiapkan diri dengan perlengkapan berkendaranya.
Ia tak mau menyebutkan seorang nama akhwat pun, karena tahu bahwa selama kami beraktivitas, tidak pernah ada nama seorang akhwat yang meluncur dari bibirku, meski hanya tuk sekedar kata pujian, apalagi di depan orangnya. Dia sadar betul, bahwa dalam pandanganku, memuji seorang akhwat di depannya, sama saja dengan mengajaknya nikah dengan terselubung. Dan tidak pernah sekalipun kusebutkan nama seorang akhwat yang kusukai, meski hanya tuk sekedar bercanda. Hanya Allah dan diriku yang mengetahui getaran aneh dalam dada ketika berinteraksi sama akhwat.
“Ya, do’ain aja ASAP (2),” jawabku singkat. “Sekali lagi, selamat ya, Ray. Assalamu’alaikum,” ucapku setelah melihatnya telah siap dengan motornya.
“Wa’alaikumussalam.”
Perjalanan kali ini merupakan perjalanan paling kering dalam hidupku, sejuknya udara Depok pagi hari tidak mampu menyejukkan hatiku yang tercabik-cabik bagai tertikam pisau belati.
Dari Abu Dzar RA, Rasulullah SAW mengatakan kepadaku, “Janganlah kalian menganggap remeh satu perbuatan baik sedikit pun, meskipun hanya memberikan senyuman (wajah yang ramah) kepada kepada saudaramu.” (HR. Muslim).
Ingatkan aku Ya Allah…
oleh Anggra
—–
Hari beranjak siang. Seperti biasa aku pergi ke kantor dengan menggunakan motor. Bekasi to Jakart. Suatu hal yang biasa, yang selalu ku lalui sehari - hari.
Macet sehingga kemudian Stress dan capai juga hampir selalu menemani kepergianku menuju tempat mencari nafkah,mulai dari Macet di Kalimalang, Cawang sampai pancoran, terus sampai mampang…Masya Allah..
Untuk mengusir stress karena macet.. biasanya aku bernyanyi dengan lagu - lagu terbaru, dengan lagu - lagu yang aku sukai…
Ah.. lagunya anak - anak band masa sekarang…
Kala itu aku sampai di Mampang, terhenti karena lampu merah.
Seperti biasa aku bersenandung sambil memperhatikan keadaan sekitar, mencari hal - hal yang menarik yang dapat dilihat, Tetapi kemudian… Ah… Mataku tertumbuk pada lampu lalulintas,
kali ini bukan lampu merahnya tapi counter penghitung waktu lampu merah…
detik demi detik kuperhatikan..
mulai dari detik ke 90…
tik..tik..tik…
lama - lama aku tersadar…
Ya Allah…
Seandainya waktu menunggu ini kupergunakan untuk berzikir mengingat engkau…
maka berapa banyak kalimat zikir yang dapat aku lakukan…
aku mulai menghitung dengan matematika sederhana…
lampu merah biasanya 90 detik…
jika setiap 2 detik aku beristighfar misalnya…
maka aku dapat melakukannya sebanyak 45 kali…
kalau aku melakukannya disepanjang perjalananku…
misalnya 45 menit…
Maka Subhanallah… 45 * 60 / 2 = 1350 kali…
Bagaimana jikalau aku melakukannya disetiap hembusan nafasku…
langsung ku teringat…
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna…(Al Mu’minun:1-3)
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. ” (Al- ‘Ashr :1-3)
Ya Allah…
Ampuni aku yang telah menyia-nyiakan setiap detik waktu darimu…
Ampuni aku yang telah banyak melakukan perbuatan yang sia - sia….
Ya Allah..
Ingatkanlah aku jika aku lupa kepada-Mu…
——–
sumber:eramuslim.com
Bukan Pernikahan Biasa
oleh Cahaya Khairani
“Keberhasilan dakwah seorang aktifis salah satunya dapat dilihat dari bagaimana ia menikah”
Tidak sedikit mereka yang disebut atau menyebut dirinya sebagai aktifis dakwah, lantang menyerukan syariat islam, gigih menjaga adab pergaulan dan ketat dalam menutup aurat kemudian menjadi luntur seketika saat mereka melakukan pernikahan. Acara pernikahan menjadi momen yang membolehkan hal-hal yang semula dipegang teguh oleh para aktifis dakwah, seperti tidak ikhtilat dan tidak tabarruj (bagi akhawat).
Pengalaman saya menghadiri undangan walimah para aktifis dakwah, sangat sedikit sekali dari mereka yang tetap menjaga atau memegang teguh apa yang mereka dakwahkan. Tiba-tiba di atas pelaminan mereka menjadi sosok yang sangat berbeda, bukan sosok aktifis dakwah yang sehari-hari saya kenal. Sosok aktifis yang tidak mengenal tabarruj, pada hari pernikahan justru berdandan dengan sangat berlebihan, muka dibedaki sebanyak 5 lapisan, pipi, bibir dan kelopak mata diberi warna-warna mencolok, alis dicukur dan tidak ketinggalan bulu mata palsu. Tidak hanya tabarruj, jilbab yang semula selalu lebar dengan pakaian yang menutup rapat seluruh aurat tiba-tiba saat pernikahan berubah menjadi jilbab minimalis dengan pakaian pengantin (umumnya kebaya) ketat menonjolkan aurat yang sebelumnya tertutup rapat.
Bahkan ada seorang ukhti yang saya kenal sebagai pentolan aktifis dakwah kampus, memegang segudang amanah dan mempunyai banyak binaan membiarkan wajah dan tubuhnya didandani oleh perias Waria yang sejatinya adalah laki-laki. Lebih parah lagi, seorang teman saya bercerita ada seorang ukhti yang membuka jilbabnya saat ia menikah. Seorang ustadz juga pernah bercerita ketika beliau menghadiri walimah pasangan aktifis, pengantin perempuan menggunakan jilbab berwarna hitam yang dimasukkan ke bajunya sehingga yang tampak hanya bentuk kepalanya, kemudian di atas jilbab hitam itu dililitkan ronce melati sehingga tampak seperti tidak menggunakan jilbab.
Dalam mengatur tamu pun sebagian para pengantin aktifis ini tidak memisahkan antara tamu lelaki dengan tamu perempuan seperti yang mereka lakukan ketika mengadakan acara-acara pengajian, rapat, seminar ataupun demonstrasi. Hari pernikahan seolah menjadi dispensasi untuk membolehkan apa yang tidak boleh, toh sekali seumur hidup.
Sungguh amat sangat disayangkan. Padahal bila kita menyadari, momen pernikahan adalah juga merupakan syiar islam yang seharusnya ditegakkan oleh mereka para aktifis dakwah. Acara pernikahan yang dilaksanakan secara syar’i sesungguhnya dapat menjadi teladan bagi para tamu undangan yang hadir pada saat itu. Pernikahan seorang aktifis dakwah seharusnya bukan pernikahan biasa. Saya sangat menyesalkan bila proses menuju pernikahan yang telah dilakukan dengan begitu islami dari ta’aruf kemudian khitbah, pada akhirnya hanya menjadi sebuah acara pernikahan biasa layaknya pernikahan masyarakat pada umumnya, padahal hanya kurang satu langkah lagi menuju sempurna.
Bila bukan para aktifis dakwah yang mengenalkan tata cara pernikahan secara islami melalui acara pernikahan mereka kepada masyarakat, lalu siapa lagi…?
Permasalahan yang sering terjadi dikalangan aktifis adalah terlalu sibuknya mereka dengan begitu banyak agenda dakwah sehingga tidak punya waktu untuk melakukan pendekatan pada keluarga akan hal ini, bahkan tidak sedikit yang melakukan pemberitahuan secara mendadak pada orang tua bila mereka ingin menikah tanpa memberikan pembelajaran sebelumnya mengenai bagaimana tata cara pernikahan dalam islam sejak ta’aruf, khitbah, hingga acara pernikahan itu sendiri. Sehingga dapat dipastikan keluarga akan menolak mentah-mentah bila tata cara pernikahan berbeda dengan apa yang telah umum di masyarakat, akibatnya mereka akan memaksa sang anak melakukan seperti apa yang mereka kehendaki. Oleh karena itu hendaknya para aktifis ketika memutuskan menikah tidak hanya mempersiapkan diri mereka secara lahiriah dan batiniah akan tetapi juga mempersiapkan keluarga mereka terutama kedua orang tua.jauh-jauh hari sebelumnya.Bukankah berdakwah pada keluarga juga merupakan kewajiban ? Walaupun banyak juga diantara aktifis yang telah berjuang keras melakukan berbagai pendekatan, berdakwah pada keluarga dengan sekuat tenaga namun belum (bukan tidak) berhasil dalam dakwahnya, kemudian mau tidak mau harus mematuhi keinginan orang tua dalam hal pernikahan, yang demikian ini lebih baik dalam pandangan Allah daripada mereka yang hanya pasrah dan tanpa penyesalan menikmati tiap detik acara pernikahan yang sesungguhnya mereka ketahui adanya ketidakbenaran di dalamnya.
sumber:eramuslim.com
Ukhti, Yakinlah Jodohmu Kan Datang….
oleh Afrita Satya Dewi
Perawan tua! Wuih, sadis banget…Yup, itulah julukan yang diberikan untuk kaum hawa yang belum menikah di usia ‘senja’. Ketika saya mengikuti sebuah acara perlombaan anak-anak TPA di daerah Bantul, saya bertemu dengan seorang sosok wanita yang saya pikir waktu itu adalah seorang guru yang sekaligus ibu rumah tangga.
Tampilan sederhana dengan jilbab yang menjulur ke dadanya. Kebetulan, kami menjadi juri pada lomba yang sama. Untuk menghindari kekakuan, saya mencoba memperkenalkan diri dan sedikit berbincang dengan beliau. Beliau seorang guru TK kelahiran tahun 1969. Dengan usia yang sekian, saya berpikir beliau telah berkeluarga dengan beberapa orang anak. Ketika saya Tanya “putra pinten bu?” (punya anak berapa bu?-jawa) beliau menjawab, “dereng nikah mba, mboten payu”.(belum menikah mba, ngga laku-jawa)…Terkejut sekali saya waktu, ditambah rasa bersalah kalau pertanyaan saya tadi menyinggung perasaan beliau. Alhamdulillah, beliau tidak tersinggung malah kami bisa semakin akrab.
Sosok lain, saya teringat murobbiyah-murobbiyah saya. Di tengah kesibukan yang ekstra padat, mereka masih meyempatkan waktu untuk membina kami. Dari ketiga akhawat yang pernah menjadi murobbiyah saya (selamanya akan tetap menjadi murobbiyah saya) semuanya belum menikah. Mereka rata-rata sudah berumur 25-up. Untuk lingkungan kampus, usia sekian tentu bukan menjadi masalah ketika belum menikah. Tetapi, ketika pulang ke kampung halaman dengan hidup bertetangga tentu akan menimbulkan pertanyaan yang kurang mengenakkan. Kapan nikah mba? Itu pertanyaan yang kerapkali terdengar. Bahkan saya yang ‘baru’ berusia 22 tahun pun tidak lepas dari pertanyaan tersebut ketika saya sudah pulang kampung. Menyegerakan menikah adalah sesuatu ayng dianjurkan. Akan tetapi ketika jodoh belum juga datang, apakah itu sesuatu hal yang harus dipaksakan?
Saya teringat satu nasehat dari seorang ustadz di Yogya ketika mengikuti kajian pagi hari di Masjid Mardliyah. Beliau menyampaikan materi pernikahan. Salah satu pesan beliau, “Jadi akhawat jangan suka mancing-mancing ikhwan, misal dengan sms ‘koq ngga nikah-nikah akh’ dan sebagainya”. Beliau melanjutkan ketika akhawat berkepala 2 belum menikah itu sesuatu yang wajar. Ketika berkepala 3 belum menikah juga, mungkin Allah masih ‘menahan’ jodoh kita. Ketika sudah berkepala 4 dan belum menikah juga, mungkin laki-laki dunia belum ada yang ocok untuk kita dan seterusnya. Beliau menambahkan agar kita tidak berburuk sangka terhadap Allah.
Benar sekali, di tengah penantian panjang yang belum tahu kapan berujung tidak sedikit akhawat yang mulai putus asa. “Apa karena aku yang kurang cantik?” dan pertanyaan-pertanyaan retorik sejenis yang ada di kepala akhawat muslimah. Akhirnya, mereka mulai melakukan treatment untuk menjaga penampilan. Mereka tidak lagi enggan merogoh kocek hanya sekedar untuk antri di salon berjam-jam. Akibatnya, dana infak berkurang, jadwal dakwah terabaikan dan banyak sekali konsekuensi yang harus ditanggung ketika memutuskan untuk menjadi wanita yang ‘berbeda’.
Pola pikir akhawat yang seperti ini, bukan 100% kesalahan mereka. Kalau mau jujur, berapa banyak ikhwan yang ridho beristri akhawat ‘biasa’. Kebanyakan kaum ikhwan tentu akan pilih-pilih wanita untuk menjadi pendamping hidupnya. Amat disayangkan, sebab yang menjadi kriteria bukan sekedar agamanya yang oke, tapi juga harus cantik, putih, lulusan fakultas kedokteran (bukan karena saya alumni fakultas kehutanan lho…) dan seterusnya. Itu adalah sesuatu yang manusiawi tentunya, tapi tidak sedikit dari mereka yang tidak melanjutkan proses ta’aruf hanya karena salah satu kriteria duniawi itu tidak terpenuhi.
Jodoh, rezeki dan semua yang kita alami adalah atas kehendakNya. Ketika saya silaturrahim ke rumah seorang ustadzah di Boyolali, beliau berpesan tsiqoh saja terhadap Allah Karena pasti ia akan memeberi yang trebaik untuk hambanya. Saya jadi teringat pada Q.S Al-Baqarah ayat 216 “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.
Untuk para ukhti sholihah, yakinlah jika saatnya tepat “pangeran berkuda putih” itu akan datang menjemputmu.
Teristimewa untuk mba-mba-koe: semoga Allah segera mengaruniakan ikhwan sholeh untuk antuna.
|
Majelis Cinta: Sebuah Memoar Ta’aruf |
|
Karya : Dani Ardiansyah |
|
tentang-pernikahan.com - Menikah adalah salah satu resolusi hidup yang tidak pernah saya targetkan waktunya. Meski sepenuhnya sadar, bahwa selain sunnah Rasul, menikah juga secara naluriah menjadi hasrat yang paling manusiawi yang terkadang bisa jadi sangat mendesak. Tapi saya benar-benar tidak pernah menargetkannya dengan serius. Berbeda dengan dengan Fachri (AAC), yang serius membuat peta hidup dengan target menikah. Tentu saja banyak pertimbangan yang mempengaruhi sikap saya tentang pernikahan tersebut. Hingga pada suatu saat, keputusan untuk menikah tiba-tiba saja datang tanpa banyak pertimbangan. Dan sikap saya, tentu saja berbaur. Antara rasa percaya diri dan minder, antara berani dan takut, antara ksatria dan pecundang. Yah, semuanya menjadi satu. Dan saya merasa harus melakukan sesuatu dengan perasaan itu. Saya harus menyublimasi semuanya hingga ada hasil akhir dari perang rasa itu menjadi sebuah sikap: Lahaula walaquwwata illa billah. Tentunya dengan segala prasangka baik pada Allah swt. Bahwa saya akan menjadi ‘kaya’ setelah menikah. Semuanya harus prosedural, ada tatanan yang tidak bisa sembarangan dilewati. Dan saya, baru saja akan memulai tatanan tersebut. Bidadari yang akan mendampingi saya adalah seorang aktivis, dan saya bisa dikataka n seorang Pasivis (istilah sendiri), Dan tidak ada pilihan, selain saya juga harus mengikuti aturan mainnya. Mulailah proses tersebut. Ta’aruf. Saya harus mengajak seseorang untuk menemani dalam proses ta’aruf tersebut. Orang tua, tidak mungkin. Mentor kajian, sibuk persiapan Pilkada DKI. Temen ikhwan, jauh-jauh. Kalo temen cowok banyak (jangan mempermasalahkan istilah ikhwan dan cowok ya). Akhirnya, satu-satunya orang yang bisa saya mintai tolong untuk urusan ini adalah Mas Epri Tsaqib. Seorang teman, sahabat, ustadz, moderator milis, dan kadanga-kadang ojek (secara saya sering nebeng motor beliau). Berangkat dari Jakarta, terminal Lebak Bulus sekitar pkl 14.00 wib. Bis meluncur lambat. Cipularang seakan tak berujung. Sudah habis topik obrolan dengan Mas Epri, saya pura-pura tidur. Mas Epri meneruskan bacaan bukunya. Dan hati, adalah badai tiada henti saat itu. Terminal Leuwipanjang sudah bersekutu dengan gelap saat kami turun dari bis. Lelah. Peregangan adalah hiburan sederhana. Perjalanan menuju tempat ta’aruf msaih cukup jauh. Pecel lele adalah menu paling enak malam itu, tandas. Satu jam berikutnya kami suidah menginjakan kaki di Banjaran, tepat didepan Masjid Agung Banjaran. Udara dingin Bandung di malam hari mulai terasa. Lelah, tapi tidak menyurutkan semangat saya untuk menyelesaikan misi ini. Setelah merapikan diri alakadarnya, cuci muka untuk sekedar menyegarkan wajah. Saya memakai kemeja biru lengan panjang, celana katun hitam dan sepatu coklat. Semi formal. Mas Epri mengenakan batik lengan pendek, celana cargo hitam dengan saku berlebih dan sepatu cats putih yang tampak contras. Kami sempat tertawa, setelan yang dipaksakan matching. Seseorang menjemput kami di halaman masjid. Setelah berkenalan alakadarnya, kami segera menuju rumah yang akan memadukan perbedaan, menyepahamkan perselisihan. Majlis ta’aruf. Salam dan perkenalan mas Epri menjadi pembuka pertemuan malam itu, dilanjutkan dengan sambutan dari wakil akhwat. Pendeskripsian diri masing-masing, tak semudah membacakan curiculum vitae ternyata, mungkin ini lebih kepada rasa dan estetika komunikasi. Bukan sekedar artificial. Brand image harus terbangun malam itu. Sempat terlempar Jokes dari Mas Epri, bahwa itu adalah ta’aruf termalam yang pernah ia hadiri. Hmm, bahkan bagi saya, bukan hanya ta’aruf termalam yang pernah saya hadiri, tapi ta’aruf pertama. Ta’aruf yang saya alami tidak seperti apa yg dialami oleh fahcri dalam film AAC, kami tidak saling berhadapan, bahkan saya ada di ruangan yang bersebelahan. Dibatasi oleh dinding partisi yang setengahnya adalah kaca. Saya tidak bisa melihat langsung akhwat bicara, begitu juga sebaliknya. Meski sebelumnya, dalam pertemuan online via internet, saya sempat beberapa kali melihat wajah sang akhwat. Jadi saya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Yang saya inginkan adalah segalanya dapat berjalan lancar dan dalam koridor. Kami membeberkan segala hal tentang diri, keluarga, aktivitas, pekerjaan, hobby riwayat penyakit dan lain-lain. Dan alhamdulillah, semuanya tidak ada masalah. Semua berjalan dengan baik. Saya beruntung mengajak mas Epri yang memang sudah terbiasa menghadiri majlis ta’aruf untuk membantu adik-adiknya yang mau menikah. Terlebih, beliau juga sudah pernah mengalamai sendiri hal itu. Salam penutup dan kifaratul majlis mengakhiri pertemuan itu. Sapa hangat dan wasiat dari pihak akhwat mengantarkan kami berpamitan. Tujuan kamiberikutnya adalah Dayeuh Kolot. Rumah Paman. Halaman Masjid Banjaran yang gelap serta alun-alun kota yang lengang, seolah mengantarkan kami meninggalkan kenangan. Sepertinya malam itu saya tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Terlalu banyak hal yang harus saya pikirkan. Malam itu bukan lah sebuah akhir dari proses menuju ke sana. Melainkan sebuah awal, awal dari banyak hal yang akan saya lalui esok hari. Special thanks to Epri Tsaqib Dani Ardiansyah |
Kematian Orang Beriman
Oleh Ihsan Tandjung
Keyakinan orang beriman akan adanya kehidupan sesudah kematian menyebabkan dirinya selalu berada dalam mode standby menghadapi kematian. Ia memandang kematian sebagai suatu keniscayaan. Tidak seperti orang kafir yang selalu saja berusaha untuk menghindari kematian. Orang beriman sangat dipengaruhi oleh pesan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
“Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan, yakni kematian.” (HR Tirmidzi 2229)
Sedangkan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu pernah berkata: “Bila manusia meninggal dunia, maka pada saat itulah ia bangun dari tidurnya.” Subhanallah…! Berarti beliau ingin mengatakan bahwa manusia yang menemui ajalnya adalah manusia yang justru baru mulai menjalani kehidupan sebenarnya, sedangkan kita yang masih hidup di dunia ini justru masih ”belum bangun”. Sungguh, ucapan ini sangat sejalan dengan firman Allah ta’aala:
وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS Al-Ankabut 64)
Pantas bilamana Ali radhiyallahu ’anhu pula yang berkata: “Dunia pergi menjauh dan akhirat datang mendekat. Karena itu, jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi budak-budak dunia. Sekarang waktunya beramal, dan tidak ada penghisaban. Sedangkan besok waktunya penghisaban, tidak ada amal.”
Bagaimanakah kematian orang beriman? Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:
عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَمُوتُ بِعَرَقِ الْجَبِينِ
“Orang beriman meninggal dengan kening penuh keringat.” (HR Ahmad 21886)
Penulis produktif Aidh Al-Qarni menulis: ”Saya menyeru setiap orang tua agar mengingat kematian. Sadar bahwa dirinya sudah mendekat maut serta tidak mungkin bisa lari darinya. Jadi, siapkan diri untuk menemui Allah. Karena itu, sudah sepantasnya ia menjauhi akhir kehidupan yang jelek dan memperbanyak amal kebaikan sehingga dapat berjumpa dengan Allah ta’aala dalam keadaan diridhai.”
Ambillah keteladanan dari kematian Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu. Ia ditikam oleh Abu Lu’luah saat sedang mengimami sholat subuh. Umarpun jatuh tersungkur bersimbah darah. Dalam keadaan seperti itu ia tidak ingat isteri, anak, harta, keluarga, sanak saudara atau kekuasaannya. Yang ia ingat hanyalah ”Laa ilaha illallah Muhammad rasulullah, hasbiyallah wa ni’mal wakil.” Setelah itu ia bertanya kepada sahabatnya: ”Siapakah yang telah menikamku?”
”Kau ditikam oleh Abu Lu’luah Al-Majusi.”
Umar radhiyallahu ’anhu lalu berkata: ”Segala puji bagi Allah ta’aala yang membuatku terbunuh di tangan orang yang tidak pernah bersujud kepada-Nya walau hanya sekali.” Umar-pun mati syahid.
Ketika Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menghadapi sakaratul maut beliau mengambil secarik kain dan menaruhnya di wajah beliau karena parahnya kondisi yang beliau hadapi. Lalu beliau berdoa:
لا إله الا الله… لا إله الا الله… لا إله الا الله إن للموت لسكرات…
اللهم أعني على سكرات الموت… اللهم خفف علي سكرات الموت
“Laa ilaha illallah… Laa ilaha illallah… Laa ilaha illalla. Sungguh kematian itu sangat pedih. Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakratul maut. Ya Allah, ringankanlah sakratul maut itu buatku.” (HR Bukhary-Muslim)
Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan: “Demi Allah, beliau mencelupkan kain itu ke air lalu meletakkannya di atas wajah beliau seraya berdoa:
اللّهُمَّ أَعِنيِّ عَلىَ سَكَرَاتِ الْمَوتِ
”Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakratul maut.”
Saudaraku, marilah kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian yang bisa datang kapan saja. Kematian yang sungguh mengandung kepedihan bagi setiap manusia yang mengalaminya. Hingga kekasih Allah ta’aala saja, yakni Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam berdoa agar Allah ta’aala ringankan bagi dirinya sakaratul maut. Tidak ada seorangpun yang tidak bakal merasakan kepedihan sakratul maut.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS Ali Imran 185)
Marilah saudaraku, kita mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan segera bertaubat memohon ampunan dan rahmat Allah ta’aala sebelum terlambat. Sebab begitulah kematian orang kafir. Suatu bentuk kematian yang diwarnai penyesalan yang sungguh terlambat.
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا
فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding) sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun 99-100)
Kisah Nyata: Aku Datang Maisya
Aku
telah dilanda keinginan mengebu untuk menikah. Bahkan sudah kujalani semua cara
agar cepat bisa melaksanakan sunah Rasul yang satu ini. Malah aku selalu
mengimpikannya di tiap malam menjelang tidur.
Gadis
yang kuidamkan sejak kecil, bahkan menjadi teman main bersama, ternyata
dinikahi orang lain. Padahal dia sudah ngaji. Sedih juga rasanya. Ada juga yang
aku dapatkan dari orang yang aku kenal baik, dan sudah kujalani “prosedurnya”.
Tapi ternyata kandas karena aku dinilai masih terlalu muda untuk menikah.
Akhirnya
, aku kenal dengan seseorang yang sesuai dengan kriteria. Aku mengenalnya
dengan perantaraan teman dekatku. Jujur saja, aku telah mendapat biodatanya,
juga gambaran wajahnya. Langsung saja kukatakan pada teman dekatku bahwa aku
sangat-sangat setuju.
“Eh,
ente (kamu) harus ketemu dulu dan tahu dengan baik siapa dia,” kata temanku.
Tapi
kujawab enteng, “Tapi ane (aku) langsung sreg kok”.
“Ya
sudah, terserah ente aja lah,” sahut temanku sambil geleng-geleng kepala.
Karena
aku yakin pacaran jelas-jelas dilarang dalam Islam sebab hal itu adalah jalan
menuju zina, aku pun tak menjalaninya. Jangankan zina, hal-hal yang akan
mengarahkan kepadanya saja sudah dilarang. Oleh karena itu, aku hanya menunggu
waktu kapan ada pembicaraan awal antara aku dan Maisya (akhwat incaranku itu).
Sabar deh, sementara ikuti saja seperti air mengalir.
Lewat
kurang lebih 2-3 minggu mulailah terjadi pembicaraan antar aku dan Maisya.
Ketika kuberanikan diri memulai pada poin yang penting yaitu mengungkapkan
niatku untuk menikahinya, apa jawabnya? Aku disuruh menghadap murabbinya
(guru/pembimbing).
“Kenapa
tidak ke orang tua Maisya saja?” tanyaku.
“Tidak,
pokoknya akhi (saudara lelaki) harus ketemu dulu sama Murabbi saya.” jawabnya.
Aku
baru tahu, ada seorang akhwat ketika ada yang ingin menikahinya disuruh
menghadap Murabbinya, bukan orang tuanya. Padahal, di antara birrul walidain
adalah menjadikan orang tua sebagai orang yang pertama kali diajak diskusi
tentang pernikahan, bukan gurunya, ustadznya, atau siapa pun. Barulah kutahu
itu merupakan kebiasaan akhwat-akhwat tarbiyah (pergerakan).
***
Aku
catat alamat murabbi (MR) yang Maisya sebutkan. Pada hari Ahad kuajak 2 teman
dekatku untuk menemani ke rumah sang MR. Dengan sedikit kesasar akhirnya
sampailah kami di rumahnya. Tapi setelah pencet tombol tiga kali dan
“Assalamu’alaikum” tiga kali tak dibuka, kami pun pulang dengan agak kecewa,
sebab siang itu adalah jam 2, saat matahari sangat terik menyengat.
Kutelepon
Maisya bahwa aku tak bisa ketemu MR-nya. Maisya membolehkanku hanya dengan
menelepon MR. Malam itu juga aku pun menelepon dan alhamdulillah nyambung. Aku
ditanya segala macam yang berkaitan dengan agama. Dari masalah belajar, kerja,
ngaji, tarbiyah, murabbi-ku, ustadz yang sering kuikuti kajiannya, sampai buku-buku
yang sering kubaca. Juga, pertanyaan-pertanyaan tambahan lainnya.
Dengan
polos dan santai kujawab pertanyaan-pertanyaan itu. Yang membuatku heran,
ketika kusebutkan nama ustadz-ustadz yang sering kuikuti kajiannya sampai, nada
MR agak beda dari awal pembicaraan. Terutama ketika kusebutkan kitab-kitab yang
sering
kujadikan rujukan dalam memahami agama. Aku belum tahu kenapa bisa
begitu.
Kuceritakan
pembicaraan itu pada teman dekatku. Ternyata temanku menjawab dengan nada
menyesal.
“Aduh,
kenapa tidak bicarakan dulu denganku. Ente tahu? Kalau akan menikahi akhwat
tarbiyah sedang ente tidak ikut dalam tarbiyah atau liqa’ tertentu dan punya
MR, maka ente otomais akan ditolak. Apalagi ente sebutkan nama-nama ustadz,
buku-buku dan para syeikh Timur Tengah, bakalan ditolak deh, itu sudah ma’ruf
(populer).”
“Lho
kan ane jawab jujur, saat ini ane tidak ikut tarbiyah, atau apa namanya tadi,
liqa’? Ya memang aku tak ikut. Ane juga nggak punya MR dong. Oo.., jadi begitu
ya?” aku hanya melongo.
***
Beberapa
hari kemudian, aku dapat telpon dari Maisya yang menjadikan hatiku sedikit
hancur.
“Assalamu’alaikum,
akhi saya sudah mempertimbangkan semuanya, mungkin Allah belum menakdirkan kita
berjodoh. Semoga kita sama-sama mendapatkan yang terbaik untuk pasangan kita,
saya minta maaf, kalau ada kesalahan selama ini, Assalamu’alaikum,”
“Kletuk,
nuut nuut nuut” terdengar suara gagang telpon ditutup dan nada sambung
terputus.
Aku
masih memegang gagang telepon dan hanya bisa melongo mendapat jawaban tersebut.
Kutaruh gagang telpon dengan lunglai. “Astagfirullah,” kusebut kata-kata itu
berulang kali. Apa yang harus kuperbuat? Tak tahu harus bagaimana. Tapi sohib
dekatku
yang dari tadi memperhatikanku waktu menelepon nyeletuk .
“Ditolak
ya? Udah deh, kan masih banyak harem (wanita) lain, ngapain ngejar-ngejar
ngapain ngejar-ngejar yang sudah jelas-jelas nolak.”
Aku
jawab saja dengan ketus, “Ane belum nyerah, karena ada janggal dalam pemolakan
it, ane belum yakin dia menolak, akan ane coba lagi”.
“Udah
deh jangan terlalu PD,” sahut sohibku.
Ternyata
bener juga kata temanku itu, jawaban-jawabanku kepada MR menyebabkan aku
ditolak oleh Maisya. Aku dipandang beda manhaj dalam memahami Islam, padahal
yang kusebutkan waktu menjawab pertanyaan tentang buku-buku rujukan adalah
Fathul Majiid, Al-Ushul Al-Tsalatsah, dan kitab-kitab karya Syeikh Muhammad bin
Abdul Wahab, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Syeikh Abdul Aziz bin
Baz, Syeikh Muhammad Shalih Utsaimin, yang semuanya aku tahu bahwa mereka
selalu mendasarkan bahasannya kepada dalil-dalil yang shahih.
Hatiku
sudah terlanjur cocok sama Maisya. Jujur aku sudah merasa sreg sekali kalau
Maisya jadi pendamping hidupku. Tapi aku ditolak. “Apa yang harus kuperbuat?”
kataku dalam hati. Menyerah kemudian mencari yang lain? Baru begitu saja kok
nyerah.
Tanpa
sepengetahuan sohibku, kutulis surat ke orangtua Maisya. Yang kutahu bahwa dia
hanya punya ibu. Bapaknya sudah meninggal saat Maisya berumur 8 tahun. Kutulis
surat yang isinya kurang lebih tentang proses penolakan itu. Juga janjiku jika
ditolak oleh ibunya, maka aku akan menerima dan tak akan menghubunginya lagi.
Dengan
penuh harap kukirim surat tersebut, tak disangka ternyata surat itu sampai di
tangan Maisya dan dibacanya. Alamak, kenapa bisa begitu? Untuk beberapa hari
tidak ada respon. Gundah gulana pun datang. Apa yang harus kulakukan?
Kuputuskan
untuk mengirim surat ke Maisya langsung. Semuanya aku ungkapkan dengan bahasa
setengah resmi tapi santai. Aku memang sedikit ndableg. Di penghujung surat
tersebut kukatakan, “Kalau memang Allah takdirkan kita tidak jodoh, saya punya
satu permintaan, tolonglah saya untuk mendapatkan pendamping dari teman-teman
Maisya yang Maisya pandang pas untuk saya, minimal yang seperti Maisya.”
Kupikir
Maisya akan “tersungkur” dengan membaca suratku yang panjang lebar. Aku
berpikir seandainya ada orang membaca suratku, pasti akan mengatakan “rayuan
gombal!”. Tapi jujur saja, itu berangkat dari hatiku yang paling dalam.
Surat
kedua itu, qadarallah ternyata malah diterima dan dibaca oleh ibu Maisya dan
kakak perempuannya. Nah, dari situkah terjadi kontak antara aku dan
keluarganya. Tak disangka-sangka kudapat telpon dari kakak perempuan Maisya,
Kak Dahlia (tentu saja bukan nama asli). Kak Dahlia menelepon dan memintaku
untuk datang ke rumahnya guna klarifikasi surat tersebut.
***
Seminggu
kemudian kupeniuhi undangan itu. Setelah bertemu dan “sesi tanya-jawab” ,
dengan manggut-manggut akhirnya Kak Dahlia angkat bicara,
“Baiklah,
kakak sudah dengar cerita kamu, saya heran kenapa Maisya menolakmu, ya?
Padahal
menurut hemat kakak, kamu pantas diterima kok”.
Hatiku
berbunga-bunga mendengarnya,. Tapi langsung surut lagi karena pernyataan itu datang
dari Kak Dahlia bukan Maisya. Aku sedikit senyum kecut menanggapi omongan kak
Dahlia.
“Begini
aja deh, kamu sekarang pulang dulu. Biar nanti kakak dan Umi yang akan rayu
Maisya. Pokoknya kamu banyak doa aja. Pada dasarnya kami setuju kok sama kamu.”
Aku
izin pulang dengan sedikit riang gembira. Mulutku hanya bergumam penuh doa,
semoga Allah mengabulkan cita-citaku. Kira-kira 2 minggu setelah itu kudapat
telpon lagi dari Kak Dahlia agar aku ke rumahnya. Dia bilang aku harus bertemu
langsung dengan Maisya. Hatiku pun berdebar. Dengan sedikit gagap aku iyakan
undangan itu. “Besok deh Kak, insyaAllah saya datang,” jawabku.
Aku
duduk di kursi ruang tamu yang sama untuk kedua kalinya. Sedikit basa-basi Kak
Dahlia mengajakku ngobrol tentang hal-hal yang belum ditanyakan pada pertemuan
sebelumya. Kurang lebih 10-15 menit Kak Dahlia memanggil Maisya agar ke ruang
tamu menemuiku. Dadaku berdegub. Inilah saatnya aku nadhar (melihat) bagaimana
rupa Maisya yang sebenarnya. Apa sama seperti yang kubayangkan sebelumnya?
Jangan-jangan tidak sama. Lebih jelek atau bahkan lebih cakep dari aslinya.
Tunggu saja deh.
Tidak
lama kemudian keluarlah sosok makhluk Allah yang bernama Maisya. Aku tetap
menjaga pandanganku. Tapi jujur saja, tak kuasa kucuri pandang untuk yang pertama
kalinya. Bahkan seharusnya untuk acara nadhar biasanya lebih dari mencuri
pandang, karena memang dianjurkan oleh Rasulullah. Tapi bagiku sangat cukup
melihatnya sekali-kali. Aku hanya bisa mengatakan dalam hatiku tentang Maisya,
subhanallah! Aku tak bisa ceritakan kepada pembaca karena itu hanya untukku
saja.
Tak
sadar keringat dingin mengalir dari pelipis. Ada apa gerangan? Kenapa rasanya
agak grogi? Ah, aku harus teguh dan tangguh hadapi semua ini. Obrolan pun mulai
bergulir. Dari mulai pertanyaan-pertanyaan agama secara umum sampai diskusi
tentang kerumahtanggaan. Kurang lebih satu jam aku di rumah itu. Aku pun pamit
sambil memberikan hadiah-hadiah buku-buku kecil tentang agama.
Di
bus kota aku senyum-senyum sendirian. Seakan-akan bus itu adalah bus patas AC
padahal sebenarnya hanya bus ekonomi yang panas dan penuh asap rokok. Tapi
semua itu tidak kurasakan. Kuberdoa semoga rayuan Kak Dahlia berhasil.
Ternyata
benar, beberapa hari kemudian aku ditelepon Maisya, kali ini menanyakan
kelanjutan proses kami kemarin. Kujawab jika dibolehkan akan kuajak keluargaku
di waktu yang kutentukan. Di penghujung pembicaraan, Maisya setuju dengan
tawaranku.
Kutanya
ke sana ke mari tentang barang-barang apa yang pantas dibawa ketika
meng-khitbah seorang wanita. Kubeli sebuah koper kecil dan kuisi dengan
barang-barang seperti bahan pakaian, komestik, sepatu, dan sebagainya. Tak lupa
aku bawakan buah-buahan seadanya. Hal ini sebenarnya sudah kutanyakan kepada
Maisya, tapi Maisya hanya menjawab terserah aku mau bawa apa saja pasti dia
akan terima. Duh…, senangnya.
Sebelumnya
aku lupa, ternyata Maisya masih punya darah Arab dari ibunya. Bahkan, ibunya
punya nasab Arab yang dikenal di Indonesia sebagai Habib (Orang Arab yang
mengaku punya garis nasab langsung dengan Rasulullah). Padahal setahuku
Rasulullah tak punya keturunan laki-laki yang kemudian punya anak. Yang ada
hanya Fatimah yang diperistri oleh Ali bin Abi Thalib. Sedangkan dalam Islam,
darah nasab hanya sah dari garis bapak atau lelaki. Jadi, mungkin yang dimaksud
mereka adalah keturunan dari Ali bin Abi Thalib.
Satu
hal yang perlu diketahui, bahwa dalam adat orang Arab terutama golongan Habaib
atau Habib, wanita mereka pantang dinikahi oleh non Arab. Bahkan, sebagian
mengharamkannya. Alasan yang populer adalah mereka merasa lebih mulia dari
keturunan non Arab. Bahkan, sebagian mengharamkannya. Aku pun harus siap dengan
apa yang akan aku hadapi nanti. Bisa jadi ditolak atau tidak. Dan yang ada di
depan mataku adalah ditolak.
Aku
datang sekeluarga dengan naik Taksi. Aku tidak punya mobil. Dari mana aku punya
mobil sedangkan aku baru bekerja setahun? Sambutan hambar kudapatkan ketika
memasuki ruang tamu. Di situ sudah hadir ibu-ibu yang merupakan keluarga besar
dari ibu Maisya. Anehnya,di acara itu tidak hadir laki-laki dari pihak keluarga
besar Maisya.
Kemudian
acara dilanjutkan dengan saling memberi sambutan. Namun yang kutunggu hanya
momen di mana Maisya menerima lamaranku dari mulutnya sendiri. Saat itu pun
tiba. Dengan agak malu-malu dan terbata-bata Maisya menerima lamaranku.
Diakhir
acara ketika hari penentuan hari “H” dan bentuk acaranya. Ada salah satu dari
anggota keluarga Maisya yang menanyakan uang untuk walimah nanti. Aku hanya
menjawab bahwa hal itu sudah kubicarakan dengan Maisya. Tapi dia memaksaku
untuk menyebutkan jumlahnya. Aku tetap tak mau menyebutkan. Rupanya orang tadi
kecewa berat dengan jawabanku.
Setelah
acara selesai, aku pamit. Sedikit lega kulalui detik-detik mendebarkan. Aku
bersyukur kepada Allah yang meloloskan diriku pada babak berikutnya dalam usaha
mengamalkan sunah Rasulullah yang mulia ini.
Ternyata
ujian belum selesai juga. Maisya didatangi keluarga besarnya dengan membawa
lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Lamaranku ditimpa oleh lamaran orang
lain.
Orang yang akan dijodohkan dengan Maisya masih punya hubungan keluarga.
Mereka datang dengan mobil, membawa makanan banyak sekali, uang lamaran, dan
juga perhiasan.
Apa
yang kubawa kemarin tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang dibawa pelamar
kedua ini. Tapi subhanallah, apa yang Maisya lakukan? Maisya tak mau
menemuinya. Maisya tak menerima lamarannya.
Bahkan
setelah rombongan itu pulang dan meninggalkan bawaan mereka sebagai lamaran
untuk Maisya, apa yang Maisya lakukan? “Kembalikan semua barang bawaannya dan
jangan ada yang menyentuh walau untuk mencicipi makanan, kembalikan dan jangan
ada yang tersisa di rumah ini.” Aku dapatkan cerita ini dari kak Dahlia yang
meneleponku.
Mendengar
semua ini, tak terasa air mataku menetes membasahi pipiku. Padahal aku adalah
lelaki yang selama ini selalu berpantang untuk menangis. Saat itulah aku mulai
yakin bahwa Maisya harus kudapatkan, sekali pun harus menghadapi hal-hal yang
menyakiti hatiku.
***
Beberapa
hari kemudian aku mendapat telepon dari seorang ibu yang mengaku bibi Maisya.
Ketika kutanya namanya dia tak mau menyebutkan. Malah dia nyerocos panjang
lebar tentang acara lamaranku kepada Maisya. Dengan nada sinis dan tinggi dia
mulai merayuku untuk membatalkan lamaranku. “Saya kasih tau ya! Kamu kan baru
bekerja belum satu tahun, belum punya rumah dan mobil. Sedangkan Juli Jajuli
(bukan nama asli) kan sudah punya kerjaan, rumah besar, mobil ada dua. Jadi,
kamu batalkan lamaran. Biar Maisya menerima lamaran Jajuli. Kamu kan bisa cari
yang lain.”
Hhh!
Betapa mendidih mendengar ocehan sinis itu. Tapi aku langsung kontrol diri. Aku
jawab dengan suara pelan dan sopan bahwa aku akan terima hal itu dengan ikhlas
tanpa ada paksaan dari siapa pun. Sebelum kudengar langsung dari mulut Maisya,
aku tak akan pernah membatalkan lamaranku. Gubrakkkk!, terdengar suara gagang
telepon dibanting, padahal jawabanku belum selesai.
Suatu
hari di tengah kesibukanku, datanglah seorang wanita sekitar umur 25-30 tahun
ke kantorku. Tanpa permisi dan sopan santun dia menghampiriku, “Kamu yang
melamar Maisya? Kamu tuh ga tahu diri ya? Belum jadi menantu saja sudah
belagu,” cerocosnya.
“Mohon
tenang dulu, apa masalahnya? Ayo kita duduk dulu di sini jelaskan dengan
pelan,” sambutku dengan sabar.
“Kamu
tuh kalo ngasih alamat yang jelas, biar mudah dicari, saya sudah muter-muter
mencari alamatmu tapi ternyata tidak ketemu-ketemu, apa kamu mau mempermainkan
kami?” tukasnya sambil menunjukkan kartu namaku.
“Apa
tadi ente tidak tanya sama orang-orang?” tanyaku.
“Tidak!”
jawabnya ketus.
“Ya
jelas pasti kesasar, seharusnya ente tanya-tanya dong,” sahutku.
“Aaah
udah deh jangan banyak alasan,” jawabnya. “Eh aku kasih tau ya, kau tuh jangan
pernah macam-macam dengan keturunan Nabi, kuwalat loh!”, ancamnya.
Dengan
sedikit senyum kujawab ancamannnya, “Kalo Nabi punya keturunan seperti ente,
pasti Nabi akan sangat marah pada ente. Wanita kok pakai celana jeans, kaos
ketat, dan tidak berjilbab. Nabi tentu akan malu jika punya keturunan seperti
ente.” Wanita itu kabur sambil ngomel-ngomel entah apa yang dia katakan.
Kejadian
itu membuat hatiku semakin was-was dan khawatir. Kalau demikian dengkinya
mereka dengan pernikahanku bersama Maisya, maka bisa jadi mereka akan lebih
jauh lagi dalam memberikan “teror”. Akankah mereka menghalangiku sampai
pelaksanaan hari “H”? Wallahu a’lam.
Yang
jelas sebelum aku tanda tangan surat nikah yang disediakan penghulu, maka aku
belum bisa menentukan bahwa Allah takdirkan aku menikahi Maisya. Semuanya bisa
terjadi. Sabarkanlah diriku ya Allah.
Dari
telepon pula aku tahu bahwa Maisya sempat disidang oleh keluarga besarnya untuk
membatalkan pernikahan denganku. Tapi dia lebih memilih akan kabur dari rumah
dan tetap menikah denganku. Padahal keluarganya memberi pilihan: batal nikah
atau putus hubungan keluarga.
***
Undangan
mulai kucetak. Sederhana sekali karena aku memang tidak punya biaya banyak
untuk pernikahan ini. Aku tidak punya saudara di kota tempat Maisya tinggal.
Jadi undangan yang banyak hanya untuk keluarga, tetangga, dan kenalan Maisya.
Hari
H semakin dekat. Persiapan juga semakin matang. Aku terharu lagi ketika
ditanya,
“Akhi siapnya ngasih berapa untuk persiapan ini? Tapi jangan merasa
berat dan terpaksa, kalau tidak ada ya nggak apa-apa.” Aku hanya bisa tergagap
menjawabnya. Ku katakan bahwa aku akan mendapat sumbangan dari kantorku tapi
perlu proses untuk cair, jadi sementara aku hanya bisa beri sedikit. Itu pun
sudah kupaksakan pinjam ke sana-sini.
Tapi Maisya menyambut hal itu dengan
tanpa cemberut sedikitpun. Subhanallah.
Panitia
pernikahan dari ikhwan sudah aku siapkan. Aku bertekad bahwa pernikahan ini
harus seislami mungkin, di antaranya memisahkan antara tamu pria dan wanita
walau mungkin akan mendapatkan respon yang bermacam-macam. Aku tak peduli.
Keluarga
Maisya pun tak tinggal diam. Di antara mereka ada yang memintaku agar busana
Maisya pada saat penikahan nanti adalah busana pengantin pada umumnya.
Astaghfirullah, usulan yang sangat berlumuran dosa. Jelas kutolak
mentah-mentah.
Ada
juga yang nyeletuk agar pernikahan kami dihibur dengan orkes atau musik gambus
dan yang sejenisnya. Tapi itu pun aku tolak. Ternyata sampai mendekati hari H
pun aku harus beradu urat syaraf dengan mereka.
Tibalah
saatnya kegelisahanku yang paling dalam. Aku sedang berpikir bagaimana jadinya
jika ada yang mengacaukan pernikahanku. Aku punya seorang saudara marinir. Aku
telepon dia dan kuwajibkan datang. Kalau perlu pakai seragam resmi lengkap. Aku
akan jadikan dia sebagai pengamanan tambahan. Karena pengamanan Allah lebih
kuat, bahkan tidak perlu ada pengamanan tambahan. Itu hanya ikhtiar saja. Malam
hari “H” dia datang dan siap menghadiri acara nikah besoknya.
Aku
minta bantuan teman lamaku untuk mengantarku pakai Kijang. Teman senior
kantorku yang sudah aku anggap orang tuaku juga siap mengantar pakai Panther,
bahkan dialah yang akan memberi sambutan dari pihak mempelai pria.
Dengan
sedikit gemetar dan mata sedikit basah, aku lalui proses ijab kabul yang
sederhana tanpa disertai ritual-ritual yang tidak ada dasarnya seperti sungkem,
injak telor, membasuh kaki, dan sebagainya.
Tangisku
meledak ketika berdua dengan Maisya untuk pertama kalinya. Tangis makin dahsyat
saat aku menghadap ibuku. Kupeluk erat-erat ibuku, kakakku, dan saudara yang
mendampingiku.
Subhanallah,
aku sudah menjadi seorang suami. Aku menjadi kepala keluarga yang didampingi
oleh Maisya yang aku dapatkan dengan “darah dan air mata”. Akhirnya kulalui
rumah tangga ini dengan segala bunga rampainya sampai dikaruniai beberapa anak
yang lucu-lucu. Semoga dapat aku lalui kehidupan ini dengan diiringi bimbingan
dari yang Maha membolak balikkan hati, sehingga hatiku tetap teguh dengan
agama-Nya.
Suami
Maisya
Diambil
dari Buku “Semudah Cinta Di Awal Senja” Terbitan Nikah Media Samara
Ketika Cinta Terlihat
Penulis : Achmad Fachrie
KotaSantri.com : Cinta itu indah. Begitu para penyair mengatakan.
Hanya satu kata, tapi menyimpan beribu, bahkan lebih, makna. Sebuah rasa
yang begitu dalam, sehingga tidak dapat dilukiskan kecuali ketika
berada di dalamnya. Ya, cinta itu indah. Berada di ruang kehidupan yang
luas, sangat luas, bahkan melebih luasnya jagat raya ini. Tidak ada yang
dapat menampungnya dan merasakan ketulusannya kecuali jiwa yang
sederhana dan mau merasakan, menerima cinta apa adanya.
Cinta itu amanah, amanah yang tidak ringan. Amanah yang tidak mudah
dijaga dan dibawa kesuciannya hingga ke akhirat kelak. Bahkan ketika
menulis kata cinta ini pun terasa tidak mudah. Ya, karena cinta berasal
dariNya. Layaknya manusia yang diciptakan menjadi khalifah di bumi,
ketika bukit dan gunung tak mampu menerimanya, hanya manusia yang bisa
merasakannya.
Cinta itu tidak terlihat, karena para pecinta sejati hanya mengenal
satu pekerjaan besar dalam hidup mereka, memberi. Bahkan mungkin kita
sendiri tidak mengetahui bahwa cinta saat ini sedang memberi. Bahkan
mungkin kita sendiri tidak menyadari bahwa walau kita menyakiti, ia
akan
terus memberi. Terus memberi tanpa pernah terhenti. Kalau kita mencinta
seseorang dengan tulus, ukuran ketulusan dan kesejatian cinta kita
adalah
apa yang kita berikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi lebih
baik.
Kita adalah air, maka ia tumbuh dan
berkembang dari siraman air kita. Kita adalah matahari, maka ia besar dan berbuah dari sinar
cahaya kita. Apakah kita melihatnya? Seperti pohon tergantung dari siraman air dan cahaya matahari. Maka itu
ketergantungan produktif. Ketergantungan yang menghidupkan. Di garis
ini, cinta adalah cerita tentang seni menghidupkan hidup. Mereka
menciptakan kehidupan bagi orang-orang hidup. Karena itu, kehidupan yang
mereka bangun seringkali tidak disadari oleh orang-orang yang
menikmatinya. Tapi begitu sang pemberi pergi, mereka segera merasakan
kehilangan yang mendalam.
Cinta itu tidak terlihat, tapi tahukah kita untuk "melihatnya"? Caranya
sederhana. Simak dulu pesan Umar bin Khattab RA, "Hanya ada satu
dari dua perasaan yang mungkin dirasakan oleh setiap orang pada saat
orang yang paling berarti atau pasangan hidupnya wafat, merasa bebas
dari beban hidup atau merasa kehilangan tempat bergantung."
Cinta itu tidak terlihat, dan terkadang baru "terlihat" ketika dalam
ketiadaan. Ketiadaan yang memberikan arti bahwa ia ada. Ketiadaan bahwa
baru saja kita kehilangan yang selama ini memberi arti kepada kita.
Ketiadaan yang telah memberikan kita hidup menjadi satu nafas dan
ketika kehilangannya kita serasa kehilangan separuh nafas kita. Ketiadaan
yang baru kita sadari setelah air mata menetes memberi kita arti hidup
yang jauh lebih berarti ketika bersama untuk mendekatiNya.
Maka, apakah ketika cinta terlihat, saat ia sudah pergi atau saat ia
masih ada? Kitalah yang menentukan. "Jangan tanya akal kita tentang
cinta itu apa.
Pastilah akal akan menunjukkan kekurangannya, dan cinta itu pun tak
akan terasa dan menyapa. Tapi tanyailah hati. Jika ia menjawab positif,
walau tak bulat, maka tugaskan akal mencari pembenarannya."
"Karena cinta dan demi cinta langit dan bumi diciptakan, dan atas
dasarnya makhluk diwujudkan, demi cinta seluruh planet beredar dan
dengannya pula semua gerak mencapai tujuannya serta bersambung awal dan
akhirnya. Dengan cinta, semua jiwa meraih harapannya dan mendapatkan
idamannya serta terbebaskan dari segala yang meresahkannya." Ibn Qayyim Al-Jauziyah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Mengetuk Pintu Cinta
Penulis : Hendra Sugiantoro
KotaSantri.com : Dengan
cinta terlahir kita, insan termulia. Dengan cinta, nafas berhembus
mengarungi kehidupan. Lihatlah! Jauh mata memandang, kaki tegap
menapak, terus berayun tangan, dan lantunan suara merdu terdengar. Inilah cinta. Cinta dari Yang Mahacinta.
Matahari dan bulan rapi
beredar. Bumi terhampar dan merindang tetumbuhan. Alangkah harum mekar
bunga di taman. Dengan cinta, kita berlayar dan melahap mutiara di
lautan. Mengais penghidupan di terang pelita dan beristirahat di malam
menjelang. Tercurah air dan lain cinta tak terbilang. Lalu, cinta Tuhan
manakah yang kita dustakan?
Inilah cinta. Cinta yang banyak kita dustakan. Mengingkari cinta dengan
larut dalam kehinaan. Menumpuk kesalahan dan noda dosa memekat. Kita
yang terlalu asyik bermain lumpur hitam. Masih menampakkan kemaksiatan
dan berselimut kedzaliman. Jika Allah berkata, "Sesungguhnya manusia itu
amat dzalim dan bodoh," memang benar adanya. Kita, manusia bodoh dan
dzalim di muka bumiNya.
Kita pun telah mengerti. Telah mengetahui keburukan. Tapi, tampaknya
perlu lagi ditegaskan. Jangan! Membunuh orang lain tanpa hak,
mendengki, bersaksi dusta, berkata kotor, minum khamr, mengambil milik
orang lain dengan batil, berbohong, menggunjing, mengkorupsi uang
rakyat, berbuat mesum, menghamili tanpa hak dan mengingkari janji.
Sekali lagi, jangan melakukan kejahatan dan keburukan.
Keburukan yang juga halus tak terlihat, bergerilya di hati tanpa kita
sadari. Perbuatan-perbuatan yang tulus menujuNya telah tercemari.
Shalat kita, puasa kita, bahkan perjuangan menegakkan kalimatNya masih
tercampuri nafsu dunia. Ada banyak kepentingan mewarnai ibadah kita.
Kita yang menuntut ilmu tanpa amal menyata. Kita yang mengkaji ilmu
hanya untuk menampakkan kepandaian. Bahkan, dengan ilmu tampaknya
menyampaikan pesan-pesan kebaikan, tapi justru menjual ayat-ayatNya.
Di atas dunia ini, kita memang berhadapan dengan musuh nyata. Musuh yang
menyesatkan, mengajak kepada kemungkaran dan memperindah setiap
keburukan. Musuh yang pernah berkoar, "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau
telah memutuskan kesesatan padaku, pasti aku akan menjadikan mereka
memandang baik perbuatan buruk di bumi dan pasti aku akan menyesatkan
mereka." (QS. Al-Hijr (15) : 39). Musuh abadi kita. Itulah setan, musuh
nyata kita hingga zaman mengakhiri kehidupan.
Keburukan yang benar-benar terang, tampak jelas di sini. Di sini, di
atas dunia ini. Keburukan yang menodai zaman, kekhilafan yang
memekatkan hati, noktah-noktah hitam pun terlahir dan perlahan menutup
pintu cintaNya. Pintu cintaNya yang tertutup kabut dosa kita, bahkan
Anas RA pun menyindir kita, "Sesungguhnya kalian melakukan
perbuatan-perbuatan yang dalam pandangan mata kalian lebih halus dari
rambut, tapi kami di zaman Rasulullah menganggap perbuatan-perbuatan
tersebut termasuk dalam dosa besar." Dosa dan kesalahan yang
menghilangkan keberkahan hidup. Kenestapaan dan kesempitan hidup pun
melanda, kesulitan menjadi-jadi dan juga rizki tak kunjung mengalir.
Namun, inilah cinta. Dengan cinta, Allah tak menutup rapat pintu
cintaNya. Masih membukakan pintu cintaNya tatkala kita bersegera
membersihkan dosa. Memang benar kita tak pernah luput dari kesalahan,
namun bukan kita jika tak pernah memohon ampunanNya. Bukan kita jika
tak bersedia menyucikan jiwa.
AmpunanNya, hanya ampunanNya yang mampu membebaskan kita. Membebaskan
kita dari kedukaan. Memberikan keberuntungan dan rizki dari arah tiada
terduga. Rizki yang tidak hanya berupa harta, tapi apa pun yang
mendatangkan kebaikan. Ilmu yang bermanfaat, kesehatan, kelapangan
hidup, tiada berat menjalankan perintahNya, dan rizki lain yang tak
terhitung jumlahnya.
Inilah cinta. Berlimpah cinta Allah untuk kita. Dosa kita, kesalahan
kita, kekhilafan kita, keburukan kita yang menahan cintaNya. Di balik
pintu itu, cinta Allah tertahan, padahal ada keberkahan hidup di
baliknya. Detik ini dan saat ini juga bersama kita mengetuk pintu
cintaNya. Bersama memohon ampun agar pintu cintaNya terbuka.
Bunda, Tolong………
Oleh Ineu
"Masya Allah…40, 5 derajat!" rasanya tak percaya ketika kulihat alat
pengukur suhu yang barusan kukempitkan di sela-sela ketiak si sulung.
Matanya menatapku dengan sorot sayu padahal belum lama berselang mata
itu masih berbinar-binar ceria diiringi senyum penuh rasa bangga
manakala menunjukkan kepadaku sebuah kreasinya menyusun balok-balok
kayu membentuk kereta api.
"Bunda, aku ingin tidur" suara si sulung tiba-tiba mengagetkanku.
"Ya, nak sayang, tidur ya? Bunda kompresin keningmu dengan air ya?"
kataku sambil memeras handukyang telah dicelupkan ke dalam air.
Ia mengangguk lemah. Beberapa detik kemudian handuk kecil itu telah
berada di atas keningnya. Ia tersenyum seolah ingin mengucapkan
terimakasih. Aku membalas senyumnya dan membisikkan padanya bahwa ia
kuat dan akan segera sembuh. Lagi-lagi ia tersenyum dan mengangguk
padahal panasnya masih belum turun.
Setelah memastikan bahwa ia bisa kutinggal, aku berniat ke dapur
untuk membuat bubur serta sup untuk ia makan. Baru saja kulangkahkaan
kaki menuju pintu kamar, ia memanggilku.
"Bunda, tolong bacakan Al-Hafithah!"
Sejenak kutertegun dan sejurus kemudian berbalik dan kembali
mendekatinya. Si sulung dengan mata terpejam masih terus menyebutkan
permintaannya berulang-ulang dengan suara lemah.
"Ya sayang, Bunda akan bacakan." Kugenggam tangan mungil yang panas
itu. Pelan kubacakan surat Al-Fathihah yang masih sering keliru ia
sebut menjadi al-Hafithah. Mata yang terpejam itu tiba-tiba
mengeluarkan bulir-bulir kristal.
Aku segera bertanya padanya, "ada yang sakit, Nak?"
Ia hanya menggeleng lalu berucap lemah tetap dengan mata terpejam.
"Noch mal (ulangi lagi) Bunda!" pintanya.
Kubacakan lagi surat Al-Fatihah dengan penuh penghayatan. Kutatap
wajahnya yang berpeluh keringat itu menyunggingkan senyum dan tetap
dalam keadaan terpejam. Lalu bulir-bulir kristal dari matanya mengalir
lagi. Menyaksikan hal itu, hatiku jadi menggigil dan suaraku bergetar
saat membaca surat Al-Qur’an yang diinginkannya itu. Sepenuh perasaan
kubacakan berulang-ulang padanya dan bulir-bulir kristal itu tak kuasa
kubendung.
"Sekarang tolong Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas, Bunda!" pintanya dengan mata tetap terpejam.
Sekalipun kaget, tetap kupenuhi lagi permintaannya itu. Membaca berulang-ulang di antara deraian air mata dan getar suaraku.
"Bunda, tolong sekarang nyanyikan lagu doa untuk ayah bunda!" pintanya lagi.
Aku terdiam, menata gemuruh di hatiku.
"Ayo Bunda, tolong!" kali ini ia meminta dengan suara memelas.
Akhirnya aku pun bernyanyi, mendendangkan sebuah lagu yang
belakangan ini sangat disukainya. Sebenarnya lagu itu sebuah lirik doa
untuk orangtua yang sedikit kugubah ketika ingin mengajari ia dan
adiknya menghapal doa-doa. Tak disangka, sejak itu ia selalu
menyanyikan lagu tersebut kapan dan di mana saja ia suka.
Dengan mata yang masih terpejam, ia ikut bersenandung pelan, "Ya Allah, ampuni Abang Adik….juga Ayah Bunda Abang Adik. Kasihi mereka…bagai mereka sayang Abang Adik."
Bibir mungilnya terus bergerak-gerak, melengkungkan sebentuk senyum
tiap di akhir lagu. Sementara itu batinku gerimis dan air mata terus
mengalir tak tertahankan.
"Bunda, tolong jangan sedih!" pintanya, padahal matanya terpejam.
Bagaimana ia bisa tahu kalau aku sedih padahal saat itu matanya
terpejam terus hingga aku merasa leluasa menangis di hadapannya.
"Iya sayang, Bunda tidak sedih. Bunda senang mendengarmu menyanyi." Ujarku sambil mengusap air mata.
Ya Allah, ia yang baru berusia tiga tahun dapat sedemikian tenang
menghadapi sakit yang tiba-tiba datang. Tidak ada keluhan terlontar,
yang ada malah keinginan mengingat Engkau Ya Allah, lewat
firman-firmanMu yang kubacakan. Ia juga masih sempat mengingat untuk
mendoakan kami sekalipun dalam bentuk lagu. Benar-benar sebuah
pelajaran yang teramat berharga bagiku.
sumber : eramuslim.com
| "Menjadi Manusia "Super Dahsyat" |
| Oleh : ilham fatahillah |
| sumber :dudung.net
—————— |
|
Mungkinkah manusia memiliki kekuatan sepuluh kali lipat? Mungkin saja. "Hai Dalam ayat "Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabar sajalah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." ( QS. Az Zumar 10 ). Dengan Seharusnya Sabar telah Kebutuhan Manusia terhadap Sabar Memang Dan perlu Sabar |
CINTA SEDERHANA
Oleh Yunni Touresia
——————-
Teringat saat pertemuan kami untuk pertama kalinya, suatu sore di
bulan Ramadhan yang cerah di tahun 2002. Ifthor yang paling berkesan
sepanjang kenangan di kepala saya. Pertemuan pertama saya dengan Abi,
panggilan sayang saya untuk suami tercinta. Melalui proses yang cukup
singkat, ta’aruf, bertemu orang tua sekaligus khitbah hingga Walimatul ‘Ursy, hanya memakan waktu tak lebih dari dua bulan. Subhanalloh…
Mungkin karena proses singkat itulah, menyebabkan kami berdua sampai
saat ini masih menjalani proses yang namanya ‘pengenalan diri lebih
dalam’. Karena selalu ada hal-hal baru yang kami berdua temukan.
Sehingga kalimat pemakluman sering kali benar-benar diperlukan. Kalau
tidak, maka akan ada kesedihan yang tertoreh karenanya. Akan ada derai
airmata yang menghujani malam-malam saya, setiap saya merasa di
‘acuhkan’.
Sebagai seorang wanita, saya sudah menepis harapan untuk sosok
romantis yang selalu bisa hadir di setiap momen penting dalam hidup
saya. Karena untuk Abi, jangankan mengingat tanggal anniversary kami, atau ulang tahun saya. Ulang tahunnya sendiri saja beliau selalu terlupa.
“ Mi, nih kado untuk siapa ya?” ujar Abi suatu kali ketika saya
memberikan sebuah kado di hari ulang tahun beliau. Sengaja kado
tersebut saya letakkan di atas baju gantinya. Nampak sekali kebingungan
yang sangat melingkupi wajahnya. Saya menyuruhnya menebak. Sia-sia!
Tidak ada jawaban benar yang keluar dari lisannya.
“ Came on, Honey. Today is your birthday, remember?!” ujar saya akhirnya setengah berteriak. Mengusir keraguan diwajahnya ketika memegang kado tersebut. “ Oooh…, makasih, ya, mi” balas beliau dengan datar. Saya hanya tersenyum kecut melihat reaksinya.
Itulah si Abi! Yang baginya seperti tak ada ‘tanggal bersejarah’ yang seharusnya diberlakukan ‘special’. Iiih, gemeeessss ….
Saya termasuk orang yang cenderung perfectionist,
segala sesuatu harus nampak rapi dan indah dalam pandangan. Saya akan
mencari sesuatu sampai dapat, hingga apa yang saya inginkan tercapai.
Sedangkan Abi, terbiasa dengan tampilan seadanya dan tak perlu
mencari-cari bila tidak ada. Saya hanya akan keluar rumah dengan baju
dan jilbab dengan warna senada, sedangkan Abi bisa pergi dengan baju
apa yang dia dapatkan di lemari, walaupun ‘tabrak warna’ istilahnya.
Saya selalu berusaha menyiapkan semua makanan dalam kondisi hangat,
untuk beliau santap ketika makan, tetapi beliau justru lebih senang
makan dengan lauk yang sudah dingin di atas meja. Saya menganggapnya
keterlaluan, Abi bilang biasa. Saya bilang di cuekin, Abi menganggapnya
beri waktu tuk berpikir. Kalau saya bilang nanti dulu, beliau bilang
sekarang saja, jangan ditunda. Kalau saya minta segera, beliau bilang
pelan pelan, asal sampai dan selamat. Ya…, gitu deh…
Bagaimanapun, proses pengenalan diri terus berlangsung. Berat sekali
di awal, tertatih-tatih di perjalanan. Butuh perjuangan mencoba tuk
menggapai sebuah pegangan yang bernama pengertian. Tetapi kami terus
coba menggapainya tuk satu keyakinan bahwa sebenarnya hanya dari
pengertian-pengertian itulah yang nantinya, dapat membuat pijakan lebih
kuat dalam setiap langkah kami. Tak ada lagi wajah sedih, tak ada lagi
senyum curiga. Bahkan sekarang pandangan yang terpancarpun selalu
membuahkan rasa cinta. “Falling in love at every sight”, pokoknya …
Insya Allah, besarnya cinta yang saya punya, sama besarnya
dengan cinta si Abi pada saya. Hanya saja, beliau bisa mengemasnya
dalam bungkus yang lebih sederhana. Yang kini, justru, karena bungkus
yang sederhana itulah, membuat saya benar-benar jatuh cinta padanya.
Semoga Allah SWT berkenan mengekalkan cinta kami hingga ke JannahNya kelak. Amiin…
*sebuah catatan untuk kekasih hatiku. Met’ Ultah ya, cintaaa….;)
http://yunnytouresia.multiply.com
Belahan JIwa (Soutmate)
Oleh Muhammad Rizqon
Suatu siang, ketika saya sedang berdzikir usai menunaikan sholat
dhuhur di musholla sebuah gedung di Jalan Imam Bonjol, tanpa sengaja
pandangan saya tertuju pada seseorang yang baru datang ke musholla. Ia
terlambat datang boleh jadi karena ada suatu acara. Ia kelihatan di
pintu masuk ketika ia hendak mengambil air wudhu, yang tempatnya harus
melewati pintu masuk itu. Ia terhenti begitu melihat saya. Secara
spontan saya memberikan senyum dan melambaikan tangan. Dia pun membalas
dengan perlakuan serupa. Saya langsung ingat, dia adalah seorang
sahabat yang lama tidak bertemu, sekitar 9 tahun.
Saya meneruskan dzikir, sementara dia mengambil wudhu kemudian
menunaikan sholat dhuhur berjamaah dengan beberapa jamaah yang juga
datang terlambat. Di sela-sela alunan dzikir nan syahdu itu, ingatan
saya terbawa pada beberapa kenangan saat pernah berinteraksi dengannya,
utamanya saat kami kuliah.
Usai dengan sholat dan dzikirnya, dia langsung menghampiri saya.
Jabat tangannya erat-erat dan penuh keakraban. Ada getaran rasa rindu
yang tertumpahkan. Ada rasa takjub karena bisa bertemu dalam momen yang
tidak terduga seperti itu. Saya sedang bertamu, dia pun sedang bertamu
di gedung itu. Rasanya belum lama kami berpisah. Kami langsung tune-in
(nyambung) dengan aneka perbincangan, tentang keluarga, tentang
pekerjaan, tentang teman-teman, dan lain-lain. Waktu perjalanan selama
9 tahun terputar dengan cepatnya saat kami melakukan kilas balik.
Di tengah-tengah perbincangan itulah dia bertanya, “Eh, antum yang
suka kirim artikel di eramuslim ya?” Saya memahami pertanyaan itu
sebagai pertanyaan yang sangat wajar. Banyak orang yang memiliki nama
yang serupa. Di samping itu, semua sahabat saya tahu kalau saya tidak
memiliki latar belakang sebagai penulis atau memiliki cita-cita sebagai
penulis. Munculnya beberapa artikel dengan nama saya, tentu membuat
sahabat-sahabat yang membacanya, termasuk yang dihadapan saya itu, akan
sedikit mengeryitkan dahi. Meski pada akhirnya setelah membaca semua
artikelnya mereka makin yakin bahwa itu adalah saya, mereka boleh jadi
tidak menduga bahwa ternyata banyak pengalaman sederhana yang bisa
dituangkan untuk diambil sebuah hikmahnya.
Selain dia, ada beberapa beberapa sahabat yang melakukan konfirmasi
lewat email. “Apakah betul nama yang tercantum di website adalah nama
saya?”, itulah inti konfirmasinya.
Atas pertanyaan sahabat itu, saya tidak menjawab ya atau tidak.
Justru saya balik bertanya, “Menurut antum, itu saya atau tidak?” Dia
mengiyakan, ada beberapa artikel yang menguatkan hal itu. Tentang di
mana saya tinggal, tentang asal saya, tentang di mana saya kuliah, dan
lain-lain.
Ada pula sahabat yang tidak pernah melakukan konfirmasi. Tetapi
begitu saya bertemu atau menelepon, dengan yakin dia mengatakan sudah
baca semua artikel-artikel saya. Mereka adalah sahabat-sahabat terbaik
karena pernah menjalani kehidupan bersama dan mengenal saya lebih dalam.
Ada satu pertanyaan dibenak saya, kenapa terhadap beberapa sahabat
yang lama sekali tidak bertemu, bahkan tidak pernah berinteraksi sama
sekali, begitu ketemu langsung merasa akrab dan tune-in, seakan tidak
ada batas waktu atau lokasi yang memisahkan selama ini. Sering saya
mengalami hal itu. Sampai kini pun, beberapa sahabat yang tinggal di
seluruh penjuru nusantara dan tidak pernah berinteraksi, nama-namanya
masih tersimpan dalam memori saya.
Tiada pernah rasanya, ketika disebutkan sebuah nama di suatu tempat,
saya butuh mengingatnya lama-lama, bahkan tidak bisa mengingatnya sama
sekali. Bukan karena saya memiliki hafalan yang kuat, tetapi seakan
nama-nama itu tertaman sendiri dibenak alam bawah sadar, dan mengendap
cukup kuat.
Saya mengambil hikmah, apakah mereka itu adalah belahan jiwa
(soulmate) saya? Saya menyakini iya. Bukankah Allah berfirman bahwa
sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara? Dalam kata lain, yang
menguatkan jalinan persaudaraan adalah keimanan. Sedangkan keimanan
adalah masalah jiwa. Artinya jika jiwa-jiwa mereka menyatu, saling
menyediakan sisi ruang jiwa buat saudaranya, maka persaudaraan yang
terjalin pun akan kuat. Hadits Nabi menggambarkan persaudaraan sesama
mukmin itu laksana satu tubuh, manakala tubuh saudaranya sakit maka ia
akan ikut merasakannya. Semua ini membuktikan bahwa orang-orang mukmin
itu adalah satu tubuh dan satu jiwa.
Sesungguhnya ada satu yang mengharukan dari ucapan sahabat yang
bertemu saya di musholla itu. Ketika kami mensyukuri karena
dipertemukan oleh Allah itu, dia berujar, “Itulah kekuatan doa rabithah
(doa menguatkan persaudaraan) yang sering kita panjatkan. Allah
benar-benar menyatukan kita di mana pun kita berada. Jiwa kita menjadi
bagian jiwa yang lain sepanjang kita bersatu dalam cinta dan ketaatan
kepada Allah.” Subhanallah.
Dalam hati saya merenung, boleh jadi itulah soulmate sejati.
Soulmate yang dibentuk oleh kecintaan kepada Allah. Betapa banyak bapak
dan anak yang tidak memiliki belahan jiwa, karena perbedaan keimanan.
Dalam sirah Nabi Saw, diriwayatkan ada beberapa ayah dan anak yang
menjadi musuh satu terhadap yang lain dalam peperangan. Bahkan ada yang
membunuh atau terbunuh.
Pelajarannya, soulmate tidak harus dibentuk oleh hubungan darah dan
tidak semua yang memiliki hubungan darah memiliki soulmate satu sama
lain. Boleh jadi, kriteria yang relevan untuk membuktikan bahwa
seseorang itu adalah soulmate bagi kita atau tidak adalah apakah kita
mencintainya karena Allah atau hawa nafsu.
Wallahu’alam bishshawaab (rizqon_ak@eramuslim.com)
Yang Dibangun Atas Dasar Iman
Oleh Muhammad Rizqon
Jodoh adalah rahasia Allah. Sebelum menikah, kita tidak mengetahui
dengan pasti siapa jodoh yang dikirim Allah untuk kita. Bahkan tatkala
detik-detik akad nikah hendak dilangsungkan sekalipun, kita tidak bisa
menjamin bahwa nama yang tertulis dalam surat undangan pernikahan
adalah jodoh kita. Ia bisa meninggal sebelum akad nikah dilangsungkan
(Kisah pada artikel: Keburukan Datang dari Diri Sendiri). Atau ada
penghalang yang menjadikan pernikahan itu batal.
Kita bisa mengatakan bahwa ia adalah jodoh yang dikirim Allah untuk
kita, manakala akad nikah telah dilangsungkan. Manakala dia telah resmi
menjadi pasangan untuk mengaruhi suka dan duka kehidupan yang datang
silih berganti. Jodoh tidak selamanya harus “cocok”, sebab boleh jadi
kecocokan yang kita kedepankan adalah versi kita, selaku manusia yang
banyak memiliki kelemahan.
Sebagai seorang manusia, seorang isteri tentu memiliki sisi positif
dan negatif. Demikian pula dengan seorang suami. Sisi-sisi itu semuanya
harus dipadukan untuk membentuk kekuatan bukan untuk saling melemahkan.
Inilah seninya hidup berumah tangga. Mengelola perbedaan agar
menumbuhkan keindahan. Mengkombinasikan persamaan untuk membentuk
kekuatan yang lebih besar. Sehingga secara utuh bangunan rumah tangga
akan kokoh dan indah. Kekokohan dan keindahan itu demikian memancar
sehingga rumah tangga lain untuk tergerak untuk meneladani dan
mempelajari rahasia-rahasia keberkahan yang ada pada mereka.
***
Pada zaman khalifah Umar bin Khattab, seorang suami hendak menceraikan
isterinya.Pesona kecantikan isterinya telah meredup sehingga ghairah
cinta kepadanya pun mulai memudar. Umar memberikan nasehat, “Sungguh
jelek niatmu. Apakah sebuah rumah tangga hanya dapat terbina dengan
cinta? Di mana takwa dan janjimu kepada Allah? Di mana pula rasa malumu
kepada-Nya? Bukankah kamu sebagai pasangan suami isteri, telah saling
bercampur dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil perjanjian yang
kuat?”
Nasehat Umar bin Khattab di atas menegaskan suatu fondasi yang harus
dibangun dalam bangunan pernikahan, yaitu cinta kepada Allah bukan
cinta kepada hawa nafsu. Sebab cinta kepada Allah akan melahirkan
takwa, yang menjadikannya hati-hati mengarungi samudera kehidupan dalam
rangka ketaatan kepada Allah. Cinta kepada Allah melahirkan rasa malu,
yaitu malu berbuat maksiat kepada Allah dan malu akan keegoan diri. Dan
cinta kepada Allah menjadikan seseorang selalu teringat dan terikat
untuk memenuhi janjinya kepada Allah, salah satunya yaitu memperlakukan
isteri sesuai dengan hukum Allah sebagai konsekuensi diperbolehkan
mencampurinya secara halal.
Sedangkan cinta kepada hawa nafsu akan menghilangkan ruh dari
bangunan pernikahan. Kenikmatan pernikahan hanya akan tercipta
sepanjang terpenuhinya kebutuhan hawa nafsu, yang secara sunatullah,
akan mengalami puncak pemenuhannya kemudian berangsur menurun dan
menurun hingga ke titik nadhir dan mengalami kebosanan. Jika hawa nafsu
tidak menemukan pemenuhannya, maka ia akan mencari “jalan lain” dengan
perselingkuhan. Atau cerai dan nikah lagi, demikian seterusnya. Dan
selamanya, tuntutan hawa nafsu itu tidak akan terpuaskan hingga ia
berpisah dari jasadnya.
Cinta kepada Allah-lah yang menjaga rumah tangga menjadi rumah
tangga yang produktif. Ibarat pohon, ia adalah pohon dengan akar yang
kokoh menghujam, cabangnya menjulang ke langit, dan buahnya lezat dan
terus berbuah sepanjang musim. Dikatakan bahwa bangunan pernikahan itu
adalah setengah dien, sebab dengan membangun rumah tangga maka
produktifitas amal kebaikan bisa ditumbuh-suburkan dan ditingkatkan.
Rumah tangga adalah sarana untuk menyempurnakan keimanan kepada Allah
dan jalan untuk menanam kebaikan di dunia dan mendulang pahala untuk
kehidupan akhirat.
Dengan dasar cinta kepada Allah, maka jalan keluar atas permasalahan
yang melilit pun diurai dalam bingkai keimanan. Ia tidak menjadi
masalah yang ruwet karena dengan keimanan jiwa-jiwa akan menjadi lapang
dan tidak terjebak oleh dorongan hawa nafsu yang selalu memprovokasi
kepada keretakan rumah tangga.
Ada kisah menarik yang menjadi cerminan saya. Saya mendapatkan pelajaran berharga dari kisah ini.
Seseorang bermaksud menghadap Umar bin khattab hendak mengadukan
perangai buruk isterinya. Sesampai di pintu rumahnya, ia mendengar
isteri Umar mengomeli Umar sang khalifah itu, sementara Umar sendiri
hanya berdiam saja tanpa memberikan reaksi apa-apa. Di depan pintu
rumah Umar itu, ia bergumam, “Kalau keadaan Amirul Mukminin saja begitu, bagaimana halnya dengan aku?” Ia pun beranjak pergi. Namun bersamaan dengan itu Umar keluar. Umar pun memanggilnya, “Ada keperluan penting?”
Ia menjawab, “Ya Amirul Mukminin, kedatanganku ini sebenarnya
hendak mengadukan perihal isteriku lantaran suka memarahiku. Tetapi
begitu mendengar isterimu sendiri berbuat seperti itu, maka aku
bermaksud kembali. Dalam hati aku berkata, kalau keadaan Amirul
Mukminin saja begitu, bagaimana halnya dengan diriku.”
Umar berkata, “Saudaraku, sesungguhnya aku rela menanggung
perlakuan seperti itu dari isteriku karena adanya beberapa hak yang ada
padanya. Ia selalu bertindak sebagai juru masak makananku. Ia selalu
membuatkan roti untukku. Ia selalu mencuci pakaian-pakaianku. Ia
menyusui anak-anakku. Padahal semua itu bukan kewajibannya. Aku cukup
tenteram tidak melakukan perkara haram lantaran pelayanan isteriku,
karena itu aku menerima sekalipun dimarahi.”
Orang itu berkata, “Amirul Mukminin, demikian pulakah terhadap isteriku?” Jawab Umar, “Ya, terimalah marahnya karena yang dilakukan isterimu tidak akan lama, hanya sebentar saja.”
Kita sangat patut bercermin kepada Sahabat Umar —termasuk 10 sahabat
yang dijamin masuk surga—dalam menyikapi kehidupan berumah tangga.
Kini, betapa sering kita menyaksikan bangunan pernikahan yang retak
hanya karena masing-masing merasa tidak dihargai, dibenci, dan
dimarah-marahi. Terlebih jika seorang suami yang dimarah-marahi, pasti
ia akan merasa harga dirinya menjadi rendah, malu, dan kemudian
terdorong hatinya untuk pindah ke lain hati. Bukankah tidak sulit
seorang laki-laki untuk melakukan hal itu?
Tetapi yang dilakukan Umar, seorang Amirul Mukminin kuat, keras
pendirian, dan banyak ditakuti oleh musuh (termasuk oleh syaitan) itu
—tidaklah demikian. Beliau sangat memahami konsekuensi dari perjanjian
yang kuat (mistsaqan ghalidzan) itu. Beliau pun menyadari akan
kebaikan-kebaikan yang dilakukan isterinya dan mengedepankan
kebaikan-kebaikan itu di atas kelemahan-kelemahan yang beliau miliki.
Alangkah baiknya, demi melanggengkan bahtera pernikahan, seorang
suami selalu mengingati kebaikan-kebaikan isterinya. Tanpa kebaikan
seorang isteri, bisa jadi nafkah yang diberikan setiap bulan oleh
seorang suami rasanya tidak akan pernah cukup. Seorang suami harus
menggaji orang untuk memasak, mencuci, membersihkan rumah, menjaga
anak-anak, dan pekerjaan lainnya. Seorang suami juga harus menyediakan
fasilitas rumah, pakaian, makanan, dan kebutuhan lain dari isteri
secara layak dan memadai. Pendek kata, tugas isteri adalah berhias dan
melayani kita dengan sebaik-baiknya, yang lain (terutama mencari nafkah
untuk optimalisasi tugas isteri tersebut) adalah tugas dan
tanggungjawab suami.
Jika seorang suami merasa belum bisa mencukupi kebutuhan isteri,
lebih-lebih sang isteri harus membanting tulang membantu suami mencari
nafkah, maka selayaknya ia harus berkaca dari kelemahannya itu demi
menumbuhkan penghargaan terhadap sang isteri. Tentu saja, sang isteri
juga harus memahami bahwa dengan posisi lebihnya itu ia tidak bisa
memaki seenak hati. Ia tetap dianjurkan taat kepada suami demi
mendapatkan keridhaannya.
***
Hari ini, saya mencoba merenungi diri. Betapa banyak kelemahan yang
saya miliki sebagai suami, betapa banyak kebaikan-kebaikan yang
diberikan oleh isteri. Keterlibatan saya di dalam mengasuh anak-anak,
membantu pekerjaan rumah tangga, dan membantu aktivitasnya yang lain,
rasanya belum cukup untuk membalas semua kebaikannya itu. Saya belum
bisa memberikan sesuatu yang berharga dan membahagiakan dirinya.
Hanya terlintas dalam hati, ‘andai saya tidak ridha kepada isteri saya, alangkah dzalimnya saya. Padahal ia tidak melakukan kemaksiatan apapun.’
Pada akhirnya saya berfikir, hanya ridha suami inilah yang bisa saya
berikan kepadanya. Ridha suami inilah yang saya harapkan semoga menjadi
jalan baginya untuk memasuki surga-Nya dari pintu mana saja.
Mengharapkannya menjadi bidadari di surga yang penuh kenikmatan,
sebagai buah dari tugasnya sebagai bidadari di dunia yang dipenuhi
ketaatan dan kesabaran. Kadang saya bersedih merenungi kelemahan diri
karena tidak bisa memberikan apa-apa. Tetapi saya optimis bahwa Allah
akan memberikan balasan terbaik untuknya. Insya Allah.
Waallahua’lam bishshawaab
(rizqon_ak@eramuslim.com. SMS 0817-99-OIMAN)
—
18 April 2008, kado kecil pernikahan buat isteriku.
sumber : eramuslim.com
Semangat Saling Menasehati
Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar
masa. Sesungguhya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat
menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya
menetapi kesabaran." (QS. Al-Ashr : 1-3)
Dalam ayat di
atas, tersirat bahwa seseorang akan beruntung kalau ia menggunakan
waktunya untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Memang
alangkah indahnya bila kehidupan kita sudah disemarakkan dengan
semangat saling menasihati. Betapa tidak? Setiap orang butuh
keselamatan. Selamat dari kerusakan, kebodohan, kecelakaan, kekurangan,
kelalaian, dan kesalahan. Ia tidak mungkin dapat melihat bahaya-bahaya
tadi hanya dengan mata dan telinganya sendiri. Ada ribuan mata dan
telinga saudaranya yang dapat yang dapat membantu melihat bahaya-bahaya
yang mengancam. Pemberitahuan itu adalah nasihat, saran, atau kritik.
Makna
dari nasihat adalah ‘menyuruh kebajikan dan melarang kemungkaran’,
yaitu mengajak orang lain untuk mengerjakan perbuatan yang dapat
mendekatkan dirinya kepada Allah SWT dan mengajaknya untuk tidak
melakukan perbuatan yang malah dapat menjauhkan diri dariNya. Dan
merupakan tugas setiap muslim baik perempuan maupun laki-laki untuk
saling nasihat menasihati seperti dalam firman-Nya : “Dan hendaklah ada
dari antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan
merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran 4: 104).
Gawatnya,
ketika memberikan nasihat kita semangat, ketika memberikan saran
semangat, ketika memberikan koreksi semangat, akan tetapi ketika
giliran kita dikoreksi justru kita tidak sanggup menerimanya. Oleh
karena itu kepada siapapun yang akan memberikan nasihat, syarat
utamanya adalah kita harus menjadi orang yang terlatih untuk menerima
nasihat, terlatih untuk menerima kritik, dan terlatih untuk menerima
koreksi.Sebelum kita sanggup untuk melatih diri kita, sulit sekali kita
dapat memberi nasihat yang memiliki kekuatan yang menggugah dan memberi
perubahan. Nah, secara sederhana di sini ada beberapa kiat yang dapat
kita terapkan dalam menerima nasihat atau kritik agar dapat menjadi
sarana pembangunan kemuliaan.
Pertama, rindu kritik dan
nasihat. Kita harus memposisikan diri menjadi orang yang rindu
dikoreksi, rindu dinasihati, seperti rindunya kita melihat cermin agar
penampilan kita selalu bagus. Walaupun wajah yang ada dalam cermin
adalah wajah yang itu-itu juga, namun kita tidak pernah keberatan untuk
merapikan rambut, manakala cermin memperlihatkan gambar rambut yang
acak-acakan. Kita pun tidak pernah marah kepada cermin bila di cermin
kita melihat di mata kita ada kotoran. Reaksi kita adalah membuang
kotoran itu dan bukan memecahkan cermin. Ketahuilah, orang-orang di
sekitar kita adalah cermin yang memberitahukan apa kekurangan kita.
Sehingga sepatutnyalah kita bergembira ketika ada yang memperlihatkan
kekurangan kita, karena dengan demikian kita menjadi tahu dan dapat
segera memperbaiki diri.
Kedua, cari dan tanya. Belajarlah
bertanya kepada orang tentang kekurangan-kekurangan kita dan belajar
pula untuk mendengar dan menerima kritik. Milikilah teman yang mau
jujur mengoreksi, tanya pula kepada istri, suami, anak-anak, karyawan
dan lain-lain.
Ketiga, nikmati kritik. Persiapkan diri
menghadapi kenyataan bahwa kritik tidak sesuai dengan yang kita
harapkan. Kritik selain mengandung isi juga melibatkan cara. Kadang
isinya benar tetapi caranya kurang bijak. Ada yang isinya salah tetapi
caranya benar. Ada yang isi maupun caranya salah. Adapula yang isi dan
caranya juga benar. Namun tidak ada kerugian sedikitpun bagi kita
selama cara kita menyikapinya benar. Dengarkan dengan baik dan jangan
memotong apalagi membantah.
Keempat, syukuri. Adanya orang
yang peduli dengan memberikan kritik kepada kita merupakan karunia yang
patut disyukuri. Jangan lupa mengucapkan terima kasih. Bila kita
berubah menjadi lebih baik melalui nasihat seseorang, jangan lupakan ia
dalam doa kita dan sebutlah namanya ketika kita menyampaikan nasihat
yang sama kepada orang lain. Nikmati kritik itu sebagai karunia Allah,
karena seseorang tidak akan mati karena dikritik.
Kelima,
perbaiki diri. Lihatlah apakah benar ada kekurangan pada diri kita.
Jawaban terbaik ketika dikoreksi bukanlah membela diri tetapi
memperbaiki diri. Sibukkan diri dengan mendengar kritik dan iringi
dengan memperbaiki diri. Memang orang yang lemah, orang yang sombong,
orang-orang yang penuh kebencian, tidak pernah tahan terhadap kritik.
Jika ada yang mengkoreksi maka dirinya sibuk untuk membela diri, sibuk
untuk berpikir dan sibuk untuk membalas, ketahuilah bahwa orang yang
demikian itu tidak akan bisa maju. Lalu bagaimana jika lalu kita dihina
terus? Jangan risau! Karena semua orang yang sukses dan mulia itu pasti
ada yang menghina. Tidak akan pernah didengki kecuali orang yang
berprestasi.
Keenam, balas budi. Sebagai orang yang tahu terima
kasih dan menghargai sebuah pemberian, sudah selayaknya kita membalas
pemberian kritik itu sebagai pemberian hadiah pula. Kalau tidak mampu
memberikan sesuatu yang berharga, paling tidak sebuah ucapan terima
kasih yang tulus dan doa yang ikhlas.
Saudaraku, nasihat yang
baik yang boleh kita sampaikan adalah nasihat yang benar, mengandung
muatan positif dan tentunya penuh makna dan manfaat bagi semua orang
yaitu mengajak pada kebajikan dan menjauhi kemunkaran yang berdasarkan
Al Quran dan As Sunnah. Dan bukanlah sebaliknya, menganjurkan
kemungkaran dan melarang untuk mengerjakan kebajikan. Sebagai catatan,
apapun yang kita sampaikan jika itu benar, alangkah baiknya jika cara
menyampaikannya pun benar.
Dengan nasihat kita harus membantu
yang lupa agar menjadi ingat, membantu yang lalai agar menjadi
semangat, yang tergelincir menjadi bangkit kembali, yang berlumur dosa
menjadi bertobat, intinya kalau dilandasi niat yang baik akan
melahirkan kebaikan juga.
Ingatlah! Yang paling penting dari
suatu nasihat, kritik, dan koreksi itu adalah niat yang mendasarinya.
Kalau didasari niat ingin menjatuhkan, koreksi itu hanya akan menjadi
pisau atau panah beracun.Harusnya nasihat kita itu dilandasi dengan
rasa kasih sayang dan persaudaraan.
Kalau niat sudah baik
caranya juga harus benar. Nabi Muhammad Saw itu adalah seorang
penasihat, tetapi nasihatnya itu betul-betul bil hikmah, semuanya penuh
dengan kearifan dan kematangan. Beliau memperbaiki peradaban yang
begitu keras dan berat justru dengan kelembutan. Pendek kata, kita
butuh nasihat yang tulus dari hati yang penuh kasih sayang dengan
kata-kata yang terpilih yang tidak melukai diiringi dengan sikap yang
tidak menggurui, tidak mempermalukan, tidak memojokan, sehingga orang
berubah bukan karena ditekan oleh kata-kata kita melainkan tersentuh
oleh kata-kata kita.
Sahabat-sahabat, marilah kita terus
berlatih untuk menyayangi orang lain karena itulah sumber yang utama
agar nasihat kita menjadi bijak dan penuh kemuliaan. Dan sebaik-baik
nasihat adalah dengan suri tauladan, hancurnya orang-orang yang sibuk
memberi nasihat adalah ketika apa yang dia katakan tidak sesuai dengan
apa yang dia lakukan. Wallahu a’lam bishawab.
Oleh Ellina Supendy
Perkenalan pertamaku dengan Maryam, seorang muslimah mualaf cantik
kebangsaan Armenia, begitu simple dan tak ada yang istimewa. Suaminya
adalah juga mualaf berkebangsaan Rusia, namanya Abdullah, atau nama
aslinya Alexei. Abdullah merupakan rekan suami saya yang kami kenal
karena sering sholat berjama’ah di Masjid Tatarsky di tengah kota
Moskow.
Untuk pertama kalinya kami berdua berkunjung ke rumah Maryam, atau
yang nama aslinya Maria. Maryam menyambut saya dengan pelukan yang
hangat, walau baru pertama kali jumpa. Dengan ramahnya dia
mempersilahkan kami masuk dan menjamu kami dengan makanan khas Rusia.
Kami ngobrol dengan menggunakan 2 bahasa, Inggris dan Rusia karena saya
belum begitu lancar berbahasa Rusia. Pada saat itu saya sedang hamil
anak pertama dan Maryam begitu teruja dengan kehamilan saya. Tak
henti-hentinya dia mengelus-elus perut saya. Memang mereka berdua belum
dikarunia anak, saat itu saya hanya bisa mendoakan agar mereka segera
dikaruniai. Mengingat usia Abdullah sudah memasuki kepala lima.
Saya melihat binar di mata Maryam ketika meminta izin beliau untuk
melihat album foto yang ada di atas meja makan. Dengan senang hati
Maryam memperlihatkan foto-fotonya kepada saya. Namun saya agak
terkejut, ternyata itu adalah album foto semasa Maryam belum hijrah.
Jadi yang ada adalah pemandangan foto beliau dengan pakaian yang
seadanya. Saya berusaha memahaminya dan bertanya sekali lagi, apakah ia
berkenan. Ternyata Maryam sangat senang dan begitu lancar menceritakan
kisah masa lalunya yang tertera pada album tersebut. Dulu Maryam adalah
mantan penyanyi pub dan tertarik kepada Islam saat berjumpa dengan
Abdullah. Tak bosan saya mendengar ceritanya yang begitu penuh
liku-liku saat mulai memeluk Islam. Apatah lagi saat cobaan datang
silih berganti. Tapi tak nampak kesedihan di mata Maryam.
Tak sadar waktu menunjukkan maghrib. Aku mengajak Maryam untuk
sholat di kamar berdua, karena suamiku dan Abdullah sudah sholat di
ruang tamu. Tanpa bermaksud merendah, Maryam memintaku menjadi imam dan
dia berdiri di sebelahku. Bait demi bait puisi cinta kepada Allah ku
lantunkan. Saat rokaat terakhir itulah kudengar suara tangis Maryam.
Jujur saja, kekhusyu’anku agak terganggu dengan tangisannya. Tapi aku
kembali diingatkan bahwa bait yang kami lantunkan dan kepasrahan saat
menghadap-Nya bisa membuat kita menangis dan tak berdaya.
Selesai sholat, kembali kulantunkan doa dan Maryam meng-aminkan
sambil tergugu. Setelah itu ku peluk dia tanpa kata-kata. Maryam
kembali menangis dan aku pun menangis. Aku merasakan tangisan Maryam
adalah terjemahan perasaannya yang sedang gundah atau…. ah, aku tak
tahu. Tangisan Maryam hanya Allah yang tahu. Tangisanku adalah sebagai
gambaran betapa Maryam adalah seorang teman istimewa buatku. Teman yang
bisa menyadarkanku bahwa tangisan merupakan bahasa yang bisa digunakan
saat kita menghadap Allah. Bahasa tanpa kata yang tak mudah
diterjemahkan. Bahasa cinta yang sememangnya patut kita kemukakan
kepada Sang Khalik.
Maryam… tangisanmu dalam sholat membuatku menempatkan kau sebagai orang yang istimewa
Oleh Abdul Rahman Jamil
Ayolah, kapan lagi mau menikah? Kamu kan sudah cukup umur, sudah
bekerja pula dan secara agama hukumnya sudah menjadi wajib loh!. Ngga
usah takut ngga cukup. Rejeki itu tidak seperti hitungan matematika,
serahkan saja semua kepada Allah. Begitu selalu yang dikatakan
teman-teman saat saya selalu mempertimbangkan masalah keuangan sebagai
salah satu alasan mengapa belum menikah.
Percakapan itu terjadi beberapa tahun lalu, saat saya gamang dalam
keputusan untuk menikah atau tidak. Syukurnya, saya lebih memilih untuk
melangkah maju dibanding mundur teratur untuk tidak membicarakan lagi
masalah pernikahan.
Dan ternyata teori rejeki bukan matematika itu ternyata benar
adanya. Mana pernah saya menduga sebelumnya, bahwa dengan berkeluarga
justru keadaan ekonomi saya meningkat. Dibanding saat sendiri dulu
keadaannya boleh dibilang sangat bertolak belakang.
Dengan gaji yang saya terima saat bujangan dulu, tanpa menanggung
biaya kontrak rumah, makan cuma satu mulut dan tak ada tetek bengek
biaya rumah tangga, toh tabungan saya tak pernah lebih dari enam digit.
Malah sebaliknya, justru saat saya harus menafkahi isteri dan
anak-anak ternyata saya bisa mencukupi kebutuhan minimal mereka,
sesekali berwisata dan masih ada sisa untuk ditabung untuk persiapan
tak terduga. Dari mana semua itu? Secara logika, seharusnya keadaan
ekonomi saya morat marit, karena toh gaji yang saya terima jumlahnya
tidak terlalu berbeda jauh saat bujangan dulu.
Jawabannya adalah, semua karena kebesaran Allah dan kepasrahan
kepada kehendak-Nya. Allah selalu memberikan rejeki yang tidak pernah
saya duga –duga sebelumnya. Ada saja tawaran kerja sampingan yang tidak
pernah saya bayangkan sebelumnya. Dan semua itu cukup untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangga kami dan bahkan bisa ditabung pula.
Maka semakin yakinlah saya akan kebenaran janji Allah dalam Alqura-an..".
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan
baginya jalan ke luar..(memudahkan jalannya untuk sukses)"Dan
memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS.65:2-3)
Nah, sekarang apalagi yang menjadi penghalang bagi muslimin untuk menikah, kalau Allah telah menjamin semuanya?
Brisbane, 13 April 2008
:: Membina Rumah Tangga Islam ::..
Segala puji Bagi Allah Rabb semesta
alam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad saw dan para shahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Rumah merupakan nikmat diantara nikmat Allah yang diberikan kepada
hamba-Nya, agar ia bisa berlindung dari panasnya matahari dan dinginnya
hujan serta udara luar, serta menyimpan barang-barang miliknya serta
menutup diri dan keluarganya dari mata manusia. Allah berfirman :
وا ل&# 1604;ه
جع ل لك م
من بي و&#
1578;ك م سك ن&#
1575;ً ( سو ر&# 1577;
ال ن&# 1581;ل
ال آ&# 1610;ة : 80 )
"Dan Allah menjadikan untuk kalian rumah-rumah untuk tempat tinggal" (QS. An Nahl: 80)
Dan masih banyak lagi manfaat-manfaat yang diperoleh manusia dari rumah
ini, cuba kita bayangkan seandainya kita hidup tanpa rumah, niscaya
akan banyak sekali bahaya yang mengancam kita dan keluarga, baik dari
segi kesehatan, keamanan, kenyamanan maupun keselamatan. Rumah berarti
tempat tinggal, tempat berkumpul dengan keluarga tempat mendidik dan
melatih anak-anak kita agar tumbuh lebih dewasa dan tanggung jawab,
disamping tempat yang aman bagi para wanita, Allah berfirman :
وق ر&# 1606; في
بي و&# 1578;ك ن
ول ا تب
ر&# 1580;ن تب
ر&# 1580; ال ج&#
1575;ه ل&# 1610;ة
ال أ&# 1608;ل ى
(سو ر&# 1577; ال
أ&# 1581;ز ا&# 1576;
ال آ&# 1610;ة : 33)
Tetap tinggalah dirumah-rumah kalian (wahai para wanita) dan janganlah
tabarruj (memamerkan perhiasan kalian) sebagaimana yang dilakukan oleh
orang-orang jahiliyah yang pertama" (QS. Al- Ahzab: 33)
Dan jika engkau amati orang-orang yang tidak punya rumah, baik karena
sedang dipengungsian maupun gelandangan yang tinggal dibawah jembatan
dan pinggir jalan, maka engkau akan merasakan betapa besarnya nikmat
rumah yang engkau tempati.
Ketika Allah menghukum bany Nadhir Allah perintahkan Rasul-Nya untuk
mengusir mereka dari rumah-rumah mereka sehingga kehilangan nikmat ini
dan bercerai-berai kemana-mana. Ia berfirman
هو ال ذ&# 1610;
أخ ر&# 1580; ال
ذ&# 1610;ن كف
ر&# 1608;ا من
دي ا&# 1585;ه م
لأ و&# 1604; ال
ح&# 1588;ر 000 يخ
ر&# 1576;و ن بي
و&# 1578;ه م بأ
ي&# 1583;ي ه&# 1605;
وأ ي&# 1583;ي
ال م&# 1572;م
ن&# 1610;ن فا
ع&# 1578;ب ر&# 1608;ا
يا أو ل&# 1610;
ال أ&# 1576;ص
ا&# 1585; ( سو ر&#
1577; ال ح&# 1588;ر
، ال آ&# 1610;ة :
2)
"Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir dari rumah-rumah mereka
pada pengepungan pertama" lalu berfirman : mereka merobohkan
rumah-rumah mereka dengan tangan mereka dan tangan-tangan kaum muslimin
maka ambilah pelajaran (darinya) wahai orang-orang yang memiliki akal"
(QS. Al Hasyr: 2)
Urgensi memelihara keutuhan rumah tangga
Ada beberapa hal yang mendorong setiap muslim untuk menjaga rumah tangganya, antara lain :
1. Menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka.
يا أي ه&# 1575;
ال ذ&# 1610;ن
آم ن&# 1608;ا
قو ا أن
ف&# 1587;ك م وأ
ه&# 1604;ي ك&# 1605;
نا ر&# 1575; وق
و&# 1583;ه ا ال
ن&# 1575;س وا
ل&# 1581;ج ا&# 1585;ة
عل ي&# 1607;ا
مل ا&# 1574;ك ة
غل ا&# 1592; شد
ا&# 1583; لا يع
ص&# 1608;ن ال
ل&# 1607; ما أم
ر&# 1607;م وي
ف&# 1593;ل و&# 1606;
ما يؤ م&#
1585;و ن ( سو ر&#
1577; ال ت&# 1581;ر
ي&# 1605; ، ال
آ&# 1610;ة : 6)
"Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri dan keluarga kalian dari
siksa neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu,
diatasnya malaikat-malaikat penjaga yang kasar dan bengis, tidak
menyelisihi apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan mengerjakan
apa-apa yang diperintahkan kepada mereka" (QS. Al Tahrim: 6)
2. Besarnya tanggung jawab yang diemban oleh pemimpin rumah tangga pada
hari kiyamat dihadapan Allah swt. karena Allah akan menanyakan kepada
setiap pemimpin tentang orang–orang yang dipimpinnya, hingga seorang
kepala keluarga akan ditanya tentang keluarganya, apakah ia menjaga
mereka atau mengabaikannya.
3. Rumah merupakan tempat dimana kebanyakan orang menghabiskan waktunya
didalamnya, dan ia juga merupakan tempat berlindung yang dianjurkan
oleh Islam ketika terjadi fitnah sehingga ia tidak terjerumus kedalam
fitnah yang bergejolak dimasyarakatnya.
4. Rumah merupakan komponen terpenting dalam membentuk masyarakat yang
baik dan kokoh. Jika rumah itu baik dan dibangun diatas pondasi syariah
dan berpegang erat dengan syariat Allah niscaya akan terbentuk
masyarakat Islami dan harmonis, kokoh menghadapi berbagai ancaman baik
dari luar maupun dalam. Jika demikian urgensi rumah dalam kehidupan
seorang muslim sedangkan dirumah kita banyak terajadi kemungkaran dan
maksiat, maka apa saja yang menjaga kebaiakan rumah tangga?
1-Memilih pasangan yang baik.
Ketikan seseorang hendak menikah untuk membina rumah tangga hendaknya
ia memilih calon pasangannya dengan sebaik-baiknya dengan memperhatikan
hal-hal yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
beliau bersabda :
عل ي&# 1607;
Seorang wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, nasabnya,
kecantikannya dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya
niscaya engkau akan beruntung(Muttafa ‘alaih).
Wanita shalihah merupakan perhiasan dan kesenangan dunia yang paling
utama, karena ia akan memberikan kesejukan dan ketenangan kepada
suaminya serta mendidik anak-anaknya menjadi anak yang shalih dan
shalihah, ialah yang akan berperan besar terhadap pendidikan dan masa
depan suatu bangsa. Pilihlah wanita yang penyayang dan dari keluarga
yang subur dan baik-baik agar bisa memberikan keturunan kepada anda,
karena Rasulullah akan berbangga dengan banyaknya umat beliau pada hari
kiyamat, dan diutamakan untuk memilih wanita yang masih gadis, karena
mereka ridha dengan apa yang ada pada kita dan lebih penyayang.
2- Berusaha untuk membina hubungan baik antara Suami-Isteri
Jika terjadi hubungan yang kurang harmonis antara pasangan
suami-isteri, dan hal ini sering terjadi pada keadaan-keadaan seperti
berikut ini :
Jika ada seseorang yang menikah dengan wanita yang awam terhadap agama
Islam, maka seorang suami berkewajiban untuk mendidiknya dengan
semaksimal mungkin agar ia menjadi wanita yang shalihah dan menjadi
contoh yang baik bagi anak-anak dan keluarganya.
Berusaha untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu keimanan dan
keislamannya dengan membiasakan ia untuk shalat malam, membaca
Al-Qur’an, dzikir pagi dan petang, serta mengingatkannya akan
pentingnya waktu dalam kehidupan seorang muslimah, membaca buku-buku
Islami, mengajarinya untuk banyak sedekah, mendengarkan kaset-kaset
Islami, serta memilihkan untuknya teman-teman yang baik dan taat
beragama.
3- Jadikanlah rumah sebagai tempat berzikir dan menimba ilmu.
قا ل صل ى
ال ل&# 1607; عل
ي&# 1607; وس ل&# 1605;
: مث ل ال
ب&# 1610;ت ال
ذ&# 1610; يذ ك&# 1585;
ال ل&# 1607; في
ه ، وا ل&#
1576;ي ت ال ذ&#
1610; لا يذ ك&#
1585; ال ل&# 1607;
في ه مث ل
ال ح&# 1610; وا
ل&# 1605;ي ت.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. bersabda :"Perumpamaan antara
rumah yang didalamnya disebut nama Allah dan yang tidak disebut nama
Allah, bagaikan orang yang hidup dan yang mati".
Betapa banyak rumah-rumah kaum muslimin yang sepi dari zikrullah,
dipenuhi suara-suara setan dan gambar-gambar yang menyebabkan murka
Allah seperti nyanyian-nyayian dan musik serta memajang poster-poster
dan gambar mahluk bernyawa yang itu semua menghalangi masuknya malaikat
rahmat kedalamnya.
4- Pendidikan Keimanan Bagi Keluarga
- Jadikanlah rumah sebagai tempat ibadah terutama sholat sunnah, karena
sholat akan memerinya cahaya dan ketentraman bagi penghuninya,
diriwayatkan dari Aisyah ra. "Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam sholat malam, dan jika hendak sholat witir beliau membangaunkan
Aisyah dan menyuruhnya untuk sholat" (HR. Muslim )
قا ل صل ى
ال ل&# 1607; عل
ي&# 1607; وس ل&# 1605;
: رح م ال
ل&# 1607; رج ل&# 1575;
قا م من
ال ل&# 1610;ل
فص ل&# 1609; فأ
ي&# 1602;ظ ام
ر&# 1571;ت ه فص
ل&# 1578; ، فإ ن
أب ت نض ح
في وج ه&#
1607;ا ال م&#
1575;ء . رو ا&# 1607;
أح م&# 1583; وأ
ب&# 1608; دا و&# 1583;
، صح ي&# 1581;
ال ج&# 1575;م ع
3488
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : "Semoga Allah
merahmati orang yang bangun untuk sholat malam lalu membangunkan
keluarganya untuk sholat, jika ia tidak mau lalu ia memercikan air
kemukanya (agar ia bangun)" (HR. Abu Ahmad dan Daud).
- Kita juga wajib menganjurkan Isteri dan anak-anak kita untuk rajin
bersedekah, karena hal itu menambah keimanan dan ketakwaan, Rasulullah
saw juga telah menyuruh para wanita untuk banyak bersedekah karena
beliau melihat kebanyakan mereka menjadi pendududk neraka. Bahkan
alangkah baiknya jika kita menyediakan kotak khusus untuk menaruh
sedekah dirumah agar Isteri dan anak–anak kita terbiasa untuk
bersedekah. Demikian pula kita biasakan puasa Senin, Khamis dan
hari-hari lain yang disunnahkan berpuasa karena hal itu akan mendorong
mereka untuk mengikuti perbuatan dan kebiasaan baik ini.
- Biasakanlah untuk membaca doa-doa yang disunnnahkan untuk dibaca
ketika masuk atau keluar rumah, ketika mau tidur, makan, masuk wc,
berpakaian dll.
- Sering-seringlah untuk membaca surat Al Baqarah didalam rumah, karena
syetan akan lari dari rumah yang didalamnya dibaca surat Al-Baqarah
sebagaiamana yang disebutkan dalam riwayat Muslim.
- Kita berkewajiban untuk mendidik keluarga kita agar mengerti tentang
agama Islam, baik kita didik sendiri atau melalui orang lain, kita
berkewajiban mengajarkan akhlak, adab, cara beribadah, amar ma’ruf nahi
munkar, dan sangat penting untuk memerikan waktu khusus untuk mengajari
mereka terutama kaum wanita, sebagaimana yang dilakukan oleh
Rasaulullah saw terhadap Isteri-Isteri beliau dan para shahabiyah
ketika beliau menyediakan hari tertentu untuk mengajari dan menasehati
mereka, dan inilah salah satu bentuk aplikasi dari firman Allah yang
berbunyi :
يا أي ه&# 1575;
ال ذ&# 1610;ن
آم ن&# 1608;ا
قو ا أن
ف&# 1587;ك م وأ
ه&# 1604;ي ك&# 1605;
نا ر&# 1575; وق
و&# 1583;ه ا ال
ن&# 1575;س وا
ل&# 1581;ج ا&# 1585;ة (
سو ر&# 1577; ال
ت&# 1581;ر ي&# 1605; ،
ال آ&# 1610;ة : 6)
"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari
siksa api neraka, yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu"
(QS. At Tahrim: 6).
5- Membuat Perpustakaan Khusus untuk Keluarga
Termasuk hal yang sangat perlu untuk diperhatikan adalah pentingnya
membuat perpustakaan khusus keluarga, dengan mengkoleksi buku-buku
Islami dan ilmu pengetahuan agar dimanfaatkan oleh seluruh anggota
keluarga, biasakan kita banyak membaca dan menelaah agar anak dan
isteri kita rajin membaca buku dan giat belajar. Pilihlah buku-buku
yang sesuai dengan tema yang berkaitan dengan kebutuhan keluarga,
tentang aqidah, akhlak, tafsir, hadits, kisah para nabi dan sahabatnya,
para tokoh dan buku-buku lain yang menarik dan manfaat, untuk dewasa,
anak-anak tua dan muda.
6- Menyediakan Kaset-Kaset dan VCD Islamy.
Disamping buku-buku juga perlu disediakan kaset-kaset dan CD Islamy,
koleksi CD dan kaset juga tidak kalah pentingnya dengan buku-buku
Islami, bahkan pada saat ini orang lebih banyak tertarik kepada dua
macam sarana ini, karena disamping keduanya praktis dipindah-pindah dan
dibawa juga lebih mudah dicerna dibanding buku, sekalipun ia tidak
cukup untuk membangun sebuah pengetahuan, tapi minimal menambah ilmu
dan wawasan kita dan keluarga, apalagi bagi orang-orang sibuk yang
mungkin tidak banyak waktunya untuk menelaah kitab, kaset dan CD ini
boleh di dengarkan ketika ada di kenderaan atau sedang istirahat
dirumah.
Terlebih lagi jika ingin mendengarkan Al-Qur’an dari berbagai macam
qari, maka kedua sarana inilah yang paling epat untuk kita pilih.
7- Memberikan Kesempatan Kepada Anggota Keluarga untuk Berdialog.
Adanya dialog dan keterbuklaan diantara anggota keluarga merupakan ciri
keluarga yang harmonis, memang tidak diragukan lagi bahwa seorang Ayah
adalah pemimpin dan penanggung jawab dikeluarganya, akan tetapi bukan
berarti segala sesuatu harus diputuskan sendiri, bahkan dengan adanya
masukan dan usulan dari Isteri dan anak-anak akan menghasilkan
keputusan yang bijak dan disukai oleh semua anggota keluarga. Disamping
itu, musyawarah ini akan sangat bermanfaat bagi anak-anak kita
dikemudian hari, mereka akan merasa bahwa dirinya dihargai dan dianggap
keberadaan dan eksistensinya dihadapan orang tua dan
saudara-saudaranya, yang ini juga akan menjadikan mereka berlatih untuk
berfikir dewasa dan bertanggungjawab serta belajar untuk menghormati
dan mau menerima pendapat orang lain.
8- Jangan Menampakan Perselisiahan Dihadapan keluarga.
Jika ada masalah yang sedang dialami oleh keluarga jangan sampai hal
itu ditampakan dihadapan anak-anak, karena hal itu akan sangat
mempengaruhi kejiwaan dan perasaan mereka, bahkan akan meampengaruhi
belajar dan konsentrasinya, usahakan masalah-masalah yang ada itu
diselesaikan dengan bijak dan adil tanpa harus melibatkan dan diketahui
oleh anak-anak, demikian juga beban-beban ekonomi yang ditanggung oleh
orang tua, sebaiknya jangan sampai banyak diketahui oleh anak-anak,
karena hal itu akan mempengaruhi pikiran mereka, kecuali jika nanti
mereka sudah dewasa dan boleh membantu, mungkin mereka perlu diajak
musyawarah dan diminta untuk mencari solusinya.
Inilah mungkin beberapa nasehat yang perlu untuk kita simak dan kita
renungi, yang kita harapkan boleh membantu kita dalam membina dan
menjaga keutuhan rumahtangga serta membentuk generasi yang robbany dan
masyarakat yang islamy, berpegang kepada ajaran Allah dan Rasul-Nya.
Wallahu a’lam bishawab.
Abu Ziyad, disadur dari tulisan Syekh Mohammad Shalih Al Munajjid.
Kesedihan Itu Indah
Oleh Tsabita Adzimatillah
Hidup adalah sebuah anugrah terindah di atas dunia. Disebabkan
karena hidup maka ada kehidupan, pun bermula dari kehidupan maka
kematian adalah suatu yang niscaya. Namun demikian kematian bukanlah
sesuatu yang dapat merenggut arti sebuah geliat kehidupan. Kematian
sendiri adalah sebuah keindahan manakala kita dapat memaknainya sebagai
anugrah. Karena setiap yang berjiwa takkan pernah bisa lari dari
kematian. Allah berfirman, "Walan yuakh khirallahu idza jaa a ajaluha"
yang artinya "dan Allah tidak akan menangguhkan kematian seseorang
apabila telah tiba ajalnya" (Qs Al-Munafiqun:11).
Adalah lumrah, wajar, jika kita menangis tiap kali menghadapi sebuah
kematian, apalagi jika yang terjadi adalah kematian orang-2orang yang
kita cinta seperti, ayah, ibu, suami dan anak. Tapi kematian
orang-orang tercinta dapat menjadi sebuah pencerahan manakala dimaknai
dengan sebuah keimanan, iman terhadap Qodarullah. Takdir yang sudah
Allah tuliskan buat setiap jiwa saat dilahirkan. Terlebih bila mereka
meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.
Dalam 38 tahun perjalanan hidupku, aku menghadapi semua kematian
orang-orang kucintai. Tahun 1993 aku kehilangan ayahku, tahun 2003
ibuku wafat. Sejak itu aku hidup bersama 7 orang adiku. Kehidupan kami
tidak lah sulit meski juga tidak mudah. Apalagi kami hidup dijakarta,
bahu membahu kami berusaha lalui kehidupan dengan segala konsekwensi
dan kompleksitasnya.
Seiring waktu berlalu, aku menikah 18 April 2004 dengan seorang
laki-laki yang baik yang Allah takdirkan jadi suamiku. Dia laki-laki
terbaik yang Allah berikan untukku. Cintanya membuat hidupku jadi lebih
banyak berarti. Dia memberiku nafas kedua dalam banyak hal, memberi
dorongan dan semangat dalam banyak hal, termasuk menulis sebagai
hobbyku dan sebagai akupunturis yang kini kutekuni sbg pekerjaanku.
Terlebih dari itu dia adalah guru terbaik buatku dalam memahami Islam
sebagai jalan kehidupanku. Dimataku dia luar biasa di balik segala
kekurangannya, di balik ringkih tubuhnya dan penyakit yang menderanya.
Hidupku penuh kebahagiaan bersamanya, sampai maut memisahkan kami. Dia
meninggal pada 18januari 2008 karena penyakit bocor jantung yang
dideritanya sejak lahir.
Sejak itu aku merasa kesendirian yang menghempaskanku pada
ketakberdayaan, kalaulah tidak karena kuingat ayat-ayat cinta dalam
Al-Qur’an, maka aku akan kian terpuruk dalam duka. Perlahan aku coba
maknai kematian suamiku sebagai sebuah kesembuhan buatnya dari penyakit
yang dideritanya, dan harusnya aku bahagia karena dia lepas dari
deritanya.
Aku belajar melalui hidup sendirian. Kusibukan diri dengan klinik ku
yang dibangun oleh almarhum suamiku untukku, klinik itu diberinya nama
Harmony Rumah Sehat Holistic. Setiap hari aku berkutat dengan
pasien-pasienku hingga waktu berlalu dengan tak terasa.
Melihat kesendirianku apalagi jauh dari keluargaku, aku tinggal di
kota kecil di solo sementara adik-adikku di jakarta, keluarga dan
saudara juga sahabat-sahabatku ikut prihatin. Hingga mereka berusaha
mengenalkanku dengan seseorang untuk jadi pendamping hidupku. Setelah
melalui proses perkenalan, aku menikah ke 2 kalinya dengan laki-laki
yang usianya 14 tahun lebih tua dariku. Mulanya kuharap pernikahanku
akan semanis pernikahanku pertama. Tapi ternyata jauh panggang dari api.
Aku dan bahkan sahabat yang menjodohkanku dengannya tidak pernah
menyangka kalau suamiku punya kebiasaan bercinta dengan perempuan lain,
sampai akhirnya aku memergokinya bercinta dengan seseorang di sebuah
hotel. Belum lagi suamiku ke 2 ternyata di balik kelembutan dan
kata-kata manisnya berlaku sangat kasar padaku, aku kerap dipukulnya,
hanya karena masalah sepele, seperti meletakkan handphone tidak pada
tempatnya. Terakhir puncak kesabaranku habis, ketika dia menendangku
dan aku terjerembab di kaki tempat tidur, meyebabkan aku pendarahan
hebat, padahal saat itu sedang hamil 2 bulan, aku nyaris keguguran.
Karena peristiwa itu, aku menggugat cerai, tapi dia semakin marah dan
kalap. kuputuskan sementara meninggalkan Solo dan tinggal dengan ibu
mertua dari almarhum suamiku pertama yang mengasihiku seperti anak
kandungnya. Beliau tinggal di salah satu kecamatan di kabupaten cilacap.
Selama dalam masa hijrahku kerumah mertuaku, adikku memproses
perceraianku dengan suamiku. Mulanya dia menolak menceraikanku, tapi
adik-adiku terus menekannya. Kalau akhirnya dia menceraikanku, dia
memberi syarat tidak akan bertanggung jawab secara financial atas janin
dalam rahimku. Buatku hal itu bukan sebuah masalah besar, aku masih
bisa menafkahi diriku dan janinku. Akhirnya kami resmi bercerai pada 8
februari 2008.
Kembali aku menjalani kehidupan sebagai seorang janda, bedanya kini
ada janin dalam rahimku, yang harus kujaga dan kurawat dalam keadaan
hatiku yang tidak stabil. Meski aku membenci ayah dari janinku, tapi
aku mencintai janinku. Kulalui hari-hari dengan sering mengajak janinku
bercakap-cakap, membacakan alqur’an bersamanya, menyanyi untuknya dan
banyak hal lain yang membuatku bisa melupakan kesedihan dan luka hatiku.
Bulan demi bulan berlalu. Pada tanggal 7Mei aku merasakan kontraksi
pada rahimku, kutunggu sampai bukaan menjadi purna, tapu sampai sepekan
kemudian, bukaan tanda persalinan belum juga bertambah, dokter bulang
baru bukaan 2. Karena kondisiku yang lemah setelah 1pekan berlalu, pada
15 mei 2008 pk 20.00, dokter kandungan memutuskan aku harus menjalani
operasi cesar. Dalam kesadaranli yang perlahan menurun karena pengaruh
anestesi, aku mendengar tangis anaku, laki-laki, sangat keras. Mataku
basah, hatiku basah, dalam hati kukatakan padanya "selamat datang
didunia anakku sayang, ummi mencintaimu." Aku baru meraih kesadaranku
pk 23.30, ketika dokter mengatakan ternyata anakku mengalami
Hipoglikemi, kadar gula darahnya cuma 5mg/dl dari normal 80mg/dl. Dalam
usia 3 jam anakku harus diinfus glucosa.
Kehadiran putraku membuat hidupku lebih bercahaya, lelahku setelah
berkutat dengan pasien sirna, saat memandang senyumnya, cahaya matanya,
belum lagi kelucuan tingkahnya. Anaku tumbuh menjadi anaklaki-laki yang
tidak cengeng, tidak rewel, sangat mudah mengurusnya, inilah sisi
kemudahan yang Allah beri buatku sebagai orang tua tunggal untuknya.
Tak terasa usianya 8 bulan sudah. dia mulai duduk, merangkak, dan
belajar berjalan dengan baby walker. Celotehnya mulai ramai menghiasi
rumah dan kehidupanku. Tawanya membuat hari-hariku merona bahagia. Aku
suka menggelitik perutnya dengan ciumanku dan itu membuatnya
tertawa-tawa kegelian, berteriak-teriak menggemaskan. Apapun
bersamanya, semua terasa indah.(hari ni kututup tulisan sampai di sini
karena aku harus berhenti menulis, perutku lapar )
Kebersamaan yang indah dengan putraku tercinta ternyata hanya
berlangsung sekejap. Hari-hari manis bersamanya harus pupus. 21 januari
2008, mendadak anakku sakit muntaber pada pukul 16.00. Segala cara
medis yang kutahu kuupayakan untuk kesembuhannya. Di bawah pengawasan
seorang dokter, di sebuah RS. Pukul 4 dinihari dia mulai panas dan
kejang-kejang sampai akhirnya koma di ruang ICU, hatiku perih, melihat
keadaan putraku, berbagai selang tertancap ditubuh mungilnya. Mulai
selang infus sampai ventilator. Kisaran oksigen ditubuhnya menurun
sampai di bawah 50 dari kisaran normal harusnya 90-100. Detak
jantungnya begitu cepat, terikan nafasnya memburu berpacu dengan waktu,
kulit mulus tubuhnya jadi merah membiru pertanda hipoxy, kekurangan
oksigen.
Aku tergugu di sampingnya, menangis. Tapi segera kusadar, anakku
tidak butuh tangisku, dia lebih butuh semangat dariku. Perlahan
kubisikan di telinganya, "Sayang, ummi tau kamu anak ummi yang kuat,
ayo dek, kita sama-sama berjuang agar adek sembuh, kita bantu para
perawat dan dokter dengan do’a kita ya nak, adek berdoa dengan cara
adek, ummi juga berdo’a, semangat ya sayang…ayoo nak semangat….ayo
cinta, ayo tarik nafas panjang biar oksigenmu sampai 100, ummi tau anak
ummi ini pinter, kuat dan hebat"
"Ayo sayang kita melantun dzikir, Allahumasyfii nak…adek ingat,
adek pernah berjuang waktu adek baru lahir, adek bisa dengan izin Allah
meraih kondisi terbaik untuk glukosamu, ayo sayang…ummi yakin ade
pejuang hebat, mujahid ummi yang tangguh, ayo sayang…dalam darahmu
ada darah ummi, maka kamu juga harus kuat ya nak…karena ummi juga
berusaha jadi ibu yang tangguh buatmu..ayo sayang terus..terus..terus
hirup oksugen sebanyak-banyaknya nak biar adek sehat bisa bercanda lagi
sama ummi."
Menit demi menit berlalu, aku tak meninggalkkannya sedetikpun
kecuali untuk sholat dan sekedar mengisi perutku dengan makanan karena
aku butuh tenaga dan fisik yang sehat buat menjaga putraku. Pun makan
kulakukan di sisinya.
Dengan sepenuh cintaku padanya aku berharap dalam do’aku agar Allah
memberikan yang terbaik untuk kami. Aku masih terus membisikkan
semangat cinta, dzikir cinta, kata-kata cinta untuknya, ketika perlahan
dan perlahan oksigennya mencapai angka 90-100. Perawat bilang ini
keajaiban. Dan Subhanallaha…pukul 21.00, 22 Januari 2208, anakku
sadar, dia menolehkan kepalanya dan tersenyum padaku…"alhamdulillah
anak ummi sudah bangun, jazakallah ya nak, adek sudah berjuang untuk
bisa senyum lagi untuk ummi."
Kucium dan kubelai sayang putraku, dia tersenyum kian lebar dan berkata lirih, "mi…."
"Ya sayang, ummi di sini, adek istirahat ya nak, bobo lagi kalo ade ngantuk, ummi di sini menjagamu sayang…."
Kulantun dzikir dan doa sambil membelainya dengan cinta, dia
tertidur sambil tersenyum. Tanpa kusadari, karena lelah, aku pun
tertidur sambil duduk disisinya dan kepalaku rebah di sisi wajahnya.
Tiba-tiba kurasakan jilbabku ditarik-tarik, aku terbangun, ternyata anakku menarik-narik jilbabku dan tersenyum.
"Apa sayang? Maaf ummi tertidur, adek mau ngobrol lagi sama ummi?"
Anakku tersenyum manis, sangat manis…tapi tiba-tiba dia
kejang…aku panik, dilayar monitor kubaca oksigennya drop..ya
Allah…apa yang terjadi…? Baru saja dia sadar dan sekarang kembali
kejang, aku panik dan berteriak…’ susteeeerrrrrrr…tooloong…!!!."
Dalam sekejap perawat dan dokter berlarian menghampiri anakku.
Mereka mengupayakan agar oksigennya kembali normal. Darahnya diambil
lagi…ya Allah, air mataku menderas sambil terus berucap, "sayang..ayo
nak..berjuang lagi, ayo dek, kamu pasti bisa, sayang…ummi mencintaimu
nak, jangan menyerah nak..ayo sayang terus berjuang…"
Doa dan dzikir tak putus dari bibir dan hatiku. detik demi detik
berlalu dalam kecemasan, sementara dokter dan para perawat terus
berusaha menolong anakku.
Saat kularut dalam dzikir dan menyemangati anakku, dokter berkata,
"bu, sudah ya diikhlaskan, putranya sudah pergi dengan tenang."
Mataku terbelalak menatap anakku, serasa tak percaya pada perkataan
dokter, kocoba meyakinkan diriku… ya Allah akhirnya Kau ambil juga
dia dariku. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…
Tubuhku lemas, lunglai, aku semaput di pelukan adikku yang datang
menemani saat anakku kritis menjelang ajalnya 30 menit yang lalu.
Kulihat waktu menunjukkan pk 21.30, 22 Januari 2008.
Dalam beberapa saat aku menangis, dia satu-satunya anakku
akhirnyaharus pergi juga. Aku coba meraih kekuatan dengan memeluk
jasadnya. Aku mencoba menguatkan diri dengan menciumi tubuhnya dan
subhanallah…kucium harum tubuhnya, sangat harum sekali…bahkan 3
orang adik yang menemaniku mencium harum yang sama, harum khas yang
hanya bisa ditimbulkan karena kesyahidan.
Perlahan tapi cukup bisa didengar beberapa sahabat yang saat itu
langsung datang mendengar anakku meninggal, salah seorang adikku
berkata, "Rosuullohbersabda, "man mata fil bathni fahuwa syahidun, dan
orang yang meninggal karena sakit perut dia syahid" dan aku bersaksi
saat ini aku mencium harum tubuh syahidnya keponakanku karena diare
yang dideritanya."
Dalam kesedihan aku mengaminkan ucapannya. Diare memang pemicu yang
menyebabkan glucosanya drop sampai 13mg/dl dan oksigennya turun
drastis. Kekuatanku kembali, meski masih menangis aku sanggup
menggendong jasad anakku sampai pulang ke rumah bahkan ketika keesokan
paginya aku sanggup memangku jasad anakku ketika dimandikan.
Setelah pemakaman lewat 2 hari, rumahku kembali sepi, sanak
saudaraku kembali ke rumah mereka masing-masing. Aku larut dalam dukaku
tiap kali memandang foto anakku, aku menangis dan menangis, sampai
adikku berinisiatif menyimpan sementara semua foto, mainan, benda-benda
dan pakaian anakku di rumah salah seorang saudaraku.
Aku mencoba mengatasi duka dengan menenggelamkan diri di
perpustakaan pribadiku. Larut dalam buku-buku bacaan. Kucoba mencari
hikmah dari kematian anakku. Lembar demi lembar halaman, buku demi buku
kubaca hingga sering aku tertidur bertumpukan buku-buku yang kubaca.
Dua pekan berlalu, aku terus mencari dan mencari hikmah agar dapat
melebur dukaku menjadi selarik bahagia, untuk menepis tangisku agas
menjelma seulas senyum di bibir dan hatiku. Saat mataku teramat sangat
lelah akibat kupaksakan mengakomodasi bacaan, saat letih mendera tubuh
setelah berhari-hari berkutat dengan buku-buku kutemui sebaris kata
yang…..pllllaaassshhhhh…..memecah dukaku, menepis tangis menjadi
syukur. kalimat itu adalah "Sesungguhnya bila seorang ibu mendapatkan
kematian putranya, lalu ia mengucapkan hamdalah dan istirja, maka Allah
akan membangunkan Baitul-Hamd baginyadi surga" (HR: Tirmidzi dan Ahmad)
Subhanallah…masya allah…betapa Allah sayang padaku. Aku belum
lagi berbuat kebaikan yang banyak, tapi Allah menganugrahkan padaku
janji yang pasti, SURGA…siapa yang tak hendak menuju dan mendiaminya?
Aku bangkit dari dukaku, kuhapus airmataku dan kutekadkan buat
menghadapi hari-hari ke depan yang kutahu masih teramat panjang. Allah
telah mengambil putraku, tapi digantikan dengan surga untukku. Ya
Rahman…betapa maha kasih Engkau…telah kau siapkan surga untukku,
dan telah kau siapkan putraku untuk menjemputku di pintu surgamu…maka
adalah tugasku membuka pintu surgamu dengan perbuatan baik yang akan
memberiku kemudahan-kemudahan untuk menujunya.
Aku mulai menata hari-hariku, hidupku, mengoperasionalkan lagi
klinik yang kututup selama 2 pekan. Meski kadang masih luruh air mata
karena rinduku pada anakku, tapi airmata justru jadi pelecut asa dalam
tangis rinduku.
Satu pekan sudah aku berkutat lagi dengan klinik dan aneka pasien
yang datang padaku. Lagi dan lagi Allah tak pernah biarkan diriku untuk
diam tanpa "membaca." Dikirimkannya padaku pasien-pasien cilik,
bayi-bayi dan anak-anak dengan beragam penyakit. Betapa mereka
menderita berbilang bulan dan tahun dalam penyakit mereka. Betapa orang
tua mereka mengalami mas-masa sulit dan ujian kesabaran menghadapi
sakit anak-anak mereka.Betapa mereka belum lagi tahu kesudahan dari
penyakit anak-anak mereka…ooo ya Rahim….betapa aku layak bersyukur,
anakku tak lama dalam derita sakitnya, betapa aku harus bersyukur tak
payah ujianku dalam sakit anakku, betapa aku harus sangat bersyukur
dengan kesudahan yang baik dari sakitnya anakku dan betapa..ya
Robb…kau beri imbalan dengan janji surgamu atas musibah yang kuhadapi.
Belum lagi aku selesai "membaca" ayat-ayat kauniyahNya, seorang
ukhti datang padaku dengan tausyiahnya "Kita telah menjual diri kita
kepada Allah, dihadapan kita tidak ada pilihan lain kecuali menyerahkan
apa yang telah kita jual kepada yang membelinya. Dan ketika pembeli
telah menerima apa yang dibelinya maka dia berhak melakukan apa saja
atas apa yang dibelinya, bisa dia memelihara ataupun membunuhnya, bisa
memakaikan pakaian terindah atau membuatnya telanjang. Layakkah kita
marah jika seseorang membeli seekor kambing dari kita lalu dia
menyembelih kambing yang dibelinya? Pantaskah kita gundah karenanya?
Sesungguhnya Allah telah membeli jiwamu dari dirimu, dan engkau
berusaha menyerahkan barang yang sudah dibeli dan menerima harga yang
sangat pantas, dan janganlah menyerahkan barang dagangan yang ada
aibnya, sedang engkau ingin menerima harga secara utuh, Dia lah yang
berkuasa atas dirimu dan bukan dirimu sendiri."
Aku tersungkur dalam sujud dann tangis syukurku. Ketika annakku
lahir dalam segala kesulitan yang kualami aku telah meniatkan dan
melisankan "Ya Allah, alhamdulillah atas anugrah anak laki-laki dalam
hidupku, saksikan ya Robb, aku menjual anakku di jalanMu, jadikan dia
anak yang sholeh, tumbuh kembangkanlah dia dengan sehat, jadikan dia
mujahid penegak din MU dimuka bumi, syahidkan dia diakhir hidupnya,
karena kujual dia padaMU seharga surgaMu"
Aku kian disadarkan bahwa Allah tak pernah salah dalam setiap
kehendaknya, Dia telah membeli jiwa anakku dengan harga yang kuminta.
Fabbi ayyi a’lla i robbikuma tukadzibaaan…maka nikmat Robb mu yang
mana yang bisa kau dustakan?Masya Allah…
Senyum kian rekah di bibirku. Pelangi kian rona di jiwaku. aku
menapaki hari-hari hingga saat aku menuliskan semua ini dengan sebuah
kesyukuran yang amat sangat. Duka telah mengajarkan padaku banyak hal.
Duka telah menjadi sekolah buatku belajar lebih baik dengan guru yang
maha baik, maha segalanya…Allah, Ar Rahman, A Rahim…Dia lah guru
terbaik dalam kehidupanku.
Lihat..bukankah kesedihan itu indah, manakala kita mampu menyingkap
lapis demi lapis hikmah yang tersembunyidi dalamnya. Meski demikian
kita harus berjuang utnuk mendapatkan keindahan di balik setiap
kesedihan. Meski kita harus berjuang untuk mengalahkan pikiran negatif
dari cupet dan sempitnya akal dan nafsu kita yang seringkali membujuk
kita untuk lunglai, layu, terpuruk dalam kesedihan.
Kesedihan itu indah, karena Allah Maha Indah dalam setiap kehendakNya.
(Rampung kutulis, 24 Februari 2008, pk 11.43, dengan segala
persembahan cinta buat Robbku dan anakku Daffa Rifqy Rizqurrahman,
"tunggu ummi di pintu jannah ya nak…")
AKU MENUNGGUMU..
Kisah Nyata — Nikah, Vol. 4, No. 11, Pebruari 2006.
"Afwan Ukhti, semoga ini tidak melukai Anti dan keluarga Anti. Ana
pikir sudah saatnya Ana memberi keputusan tentang proses kita. Ya..
seperti yang Anti ketahui bahwa selama ini Ana telah berusaha melobi
orang tua dengan beragam cara mulai dari memahamkan konsep
nikah "versi" kita, memperkenalkan Anti pada mereka hingga melibatkan
orang yang paling Ayah percaya untuk membujuk Ayah agar mengizinkan
Ana untuk menikahi Anti."
"Namun hingga sekarang nggak ada tanda-tanda mereka akan melunak,
jadi menurut Ana.. sebaiknya Ana mundur saja dari proses ini!" Dana
diam sejenak untuk menunggu respon dari seberang, tapi hingga
beberapa detik tidak ada tanggapan. "Perlu Anti ketahui bahwa orang
tua Ana sebenarnya sudah tidak keberatan dengan Anti, hanya saja
timing(waktu)nya yang belum tepat. Ayah Ana khawatir ana tidak mampu
menafkahi Anti jika belum bekerja. Apalagi Anti juga masih kuliah.
Jadi Ana rasa, ahsan kita nggak ada komitmen dulu hingga keadaannya
membaik! Anti nggak keberatan kan Ukhti?"
"Keberatan..? Alhamdulillah nggak! Namun kalau Ana boleh kasih saran,
apa tidak lebih baik kalau kita terus melobi sambil tetap proses
saja. Soalnya kan kita sudah mantap satu sama lain, nggak enak kalau
mundur di saat seperti ini. Apalagi permasalahannya sudah mulai
mengerucut ke arah ma’isyah saja."
"Anta pasti masih ingat bagaimana sulitnya start awal kita membujuk
orang tua, rasanya semua kriteria kita ditolak. Segala keterbatasan
kita jadi aib yang sangat besar, pokoknya semua jalan sepertinya
sudah tertutup rapat. Namun kenyataannya hanya dalam waktu 2 minggu
kita bisa menghilangkan semua syarat menjadi satu syarat saja:
PEKERJAAN!"
Dini, gadis tegar itu akhirnya bicara juga. "Akhi.. kita hanya
tinggal selangkah, tetaplah berikhtiar dan jangan putus asa. Bukankah
Allah Maha membolak-balikkan hati?"
"Benar, Ana paham soal itu, Ana memang akan tetap melobi orang tua
Ana, akan tetapi kalau kita terikat, Ana khawatir menghalangi Anti
proses dengan ikhwan lain yang lebih selevel dari Ana. Lagipula Ana
khawatir tidak bisa menjaga hati."
"Takut menghalangi Ana untuk proses dengan ikhwan lain? Itu kan
urusan Allah bukan urusan Anta! Kewajiban Anta sekarang adalah
berjuang mempertahankan sesuatu yang Anta sudah mantap dengannya.
Hasil istikharah itu nggak mungkin salah. Tinggal bagaimana cara kita
mengaplikasikannya saja." Hening sejenak. "Ya.. tapi kalau memang
Akhi sudah merasa syak terhadap Ana dan mantap untuk mundur,
Alhamdulillah. Insyaallah Ana akan dukung sepenuhnya."
"Nggak!" Reflek Dana berteriak.
"Astaghfirullahal’adhim, afwan maksud Ana, Ana sama dengan keluarga
Ana sudah tidak ada syak pada Anti, kami sangat menyukai Anti dan
keluarga Anti. Selain itu Ana juga takut perasaan ini semakin dalam,
Ana ini hanya hamba yang dha’if yang masih kesulitan mengekang hawa
nafsu."
Dana berhenti lagi, dadanya terasa sesak, air matanya mengalir
semakin deras. Jauh di dalam hatinya, sesungguhnya ia merasa malu
pada Allah atas kelalaiannya. Jatuh cinta!
"Halo..!!" Dini merasa Dana diam terlalu lama. Dia tidak tahu kalau
pemuda itu sedang menangis. Tapi dia mengerti apa yang sedang terjadi
padanya. "Ya udah.. kalau begitu sekarang sepakat untuk membatalkan
proses ini!! Setelah ini insyaallah kita tidak akan lagi berhubungan
kecuali untuk keperluan syar’i yang sangat darurat, iya kan?"
Dini sengaja memberi jeda agar Dana bicara, tapi ikhwan itu memilih
terus diam. "Akhi.. kita tetap baik ya! Silaturahmi dengan keluarga
harus tetap dijaga, jangan suuzhzhan dengan ayah dan bunda karena
bisa jadi keputusan mereka adalah salah satu jalan Allah untuk
menguji kita." Dini berhenti lagi tapi Dana masih enggan berkomentar.
"Laa Tahzan, ya Akhi.. Insyaallah kalau kita niatkan semuanya demi
keridhaan Allah, maka Dia akan mencatat bagi kita pahala yang besar.
Afwan jika selama proses ta’aruf ini.. Ana, teman-teman, dan keluarga
Ana banyak melakukan kekhilafan. Ana mewakili mereka dan diri Ana
sendiri untuk memohon maaf pada Anta. Bersabarlah karena sesungguhnya
Allah bersama orang-orang yang sabar…" Samar, Dini mendengar isak
tangis di seberang. Dia nyaris tidak percaya…
"Semoga ini bisa menjadi mahar cinta kita pada Allah dan semoga Akhi
mendapat ganti yang lebih baik… Amin." Suara isak tangis makin
terdengar jelas.
"Akhi.. kalau sudah nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, tafadhal
diakhiri!" Tidak ada tanggapan.
"Halo..!!? Ya udah, kalau gitu biar Ana yang tutup teleponnya, ya..?"
Sepi. "Assalamu ‘alaikum!" Klik.
Percakapan di antara mereka berakhir, tapi Dana baru menyadarinya.
Dia segera bergegas wudhu’ dan shalat. Jujur, sebenarnya dia sudah
sangat mantap dengan mantan calon istrinya itu… Namun dia tidak
yakin dapat membahagiakan akhwat itu kalau dirinya belum bisa
menafkahi dengan layak.
Padahal Dini dan keluarganya tidak mempermasalahkan tentang hal itu.
Mereka sangat welcome padanya. Ah.. mungkin ini sudah takdirnya.
Mungkin Allah melihat bahwa akhwat itu terlalu baik untuk dirinya.
Mungkin seharusnya akhwat sekaliber dia, mendapatkan ikhwan yang jauh
lebih baik dari dirinya. Dia benar-benar merasa tidak level!!
"Ya.. ikhwan lemah sepertiku, mana mungkin mendapatkan seorang Dini.
Populer tapi tetap rendah hati, tegar, bijaksana, wara’, zuhud,
qanita, qanaah…
Pokoknya semua sifat baik ada padanya. Sedangkan aku, semoga aku
nggak akan menyakiti akhwat lain setelah ini.
Astaghfirullahal’adhim.. apa yang telah kusombongkan selama ini?
Sudah ikut mulazamah bertahun-tahun tapi masih belum berani
mengamalkan ilmu yang kudapat sedikitpun. Katanya percaya bahwa orang
yang menikah pasti akan dijamin rezekinya oleh Allah, ternyata aku
nggak lebih hanya seorang ikhwan yang pengecut."
Dana tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Dia benar-benar
merasa tak berarti. "Dulu.. aku pernah begitu khusyu’ berdoa pada
Allah agar dipertemukan dengan akhwat shalihah yang nggak banyak
permintaan seperti dia. Sekarang ketika sudah dapat, malah kusia-
siakan. Kini aku sadar bahwa Allah selalu mengabulkan permohonan
hamba-Nya. Manusia-lah yang selalu kufur pada Rabb-nya."
~000~
Di tempat yang berbeda, Dini menjalani hari-harinya dengan penuh
semangat. Dia tetap ceria seperti biasanya. Ya.. seperti tidak pernah
terjadi apa-apa. Kecewa? Jelas ada, karena Dini juga hanya manusia
biasa. Namun dia bisa mengemas kekecewaannya dengan manis, membuat
kesedihannya menjadi sesuatu yang lumrah dari proses kehidupan.
Dia percaya bahwa hatinya tidak mungkin berbohong dan janji Allah
pasti terjadi. Maka sesulit apapun kondisi yang dihadapinya saat itu,
dia mencoba untuk tetap tersenyum. Jujur, aku bangga padanya. "Aku
sudah mantap dengannya, Kak. Aku yakin dialah jodohku. Aku akan terus
menunggunya…"
~000~
Sepekan kemudian, Dana menitipkan biodata ikhwan lain yang merupakan
teman dekatnya untuk diberikan pada Dini. Menurutnya, ikhwan itu bisa
membahagiakan Dini karena sudah matang dan punya pekerjaan tetap.
Jelas, aku tahu bahwa pendapatnya keliru.
Dini bukan mengharap ikhwan yang matang dan mapan. Dia hanya
mengikuti kata hatinya saja. Diniku tidak akan bahagia hanya dengan
harta dan tahta. Namun, tak urung diterima juga biodata itu. Dan bisa
ditebak, bagaimana reaksi Dini saat kuberikan empat lembar kertas
berukuran A4 itu. Dini menggeleng pasti.
"Anti coba istikharahkan dulu. Barangkali semuanya bisa berubah..,"
bujukku.
"Jazakumullah khair, tapi.. afwan tolong jangan paksa Ana, Kak!"
~000~
Ikhwah fillah, mungkin sebagian Anda akan menganggap Dana sebagaimana
penilaian Dana terhadap dirinya sendiri. Pengecut, jahil, dan sifat-
sifat buruk yang lainnya. Tapi bagi saya, Dana tidaklah seburuk itu.
Justru sebaliknya, Dana dalam pandangan saya adalah ikhwan yang hanif.
Dia berani mengambil resiko dengan mundur dari proses dan memilih
untuk bersabar melawan nafsunya. Padahal kalau dia mau, dengan sikap
Dini yang penurut, dia bisa saja minta untuk tetap meneruskan
hubungan dengan gadis pilihannya itu. Namun dia tahu bahwa di atas
segalanya, Allah-lah yang patut untuk lebih dicintai.
Dana yakin bahwa jodoh adalah kekuasaan Allah dan Dia telah
menetapkannya 50 ribu tahun sebelum semesta ada. Dia tahu kalau jodoh
pasti akan ketemu lagi, bagaimanapun caranya. Mungkin Dini tidak akan
pernah tahu kalau biodata yang kusodorkan kemarin adalah kiriman Dana.
Mungkin Dana juga tidak akan pernah tahu kalau ternyata Dini akan
terus menunggunya. Dan mereka juga tidak boleh tahu bahwa diam-diam
aku selalu mendoakan kebaikan untuk mereka. Entah bagaimana ending
kisah ini nantinya, yang pasti aku selalu berharap agar masing-masing
dari mereka mendapatkan ganti yang lebih baik. Segera…
(Ariy, 29 Nopember 2005)
Untuk semua ikhwah yang sedang menunggu, Sabar ya…
CATATAN REDAKSI:
—————
Menafkahi istri dan keluarga memang kewajiban seorang suami.
Sementara nafkah, bisa didapatkan dengan sebuah aktivitas positif
yang dinamakan kerja. Sehingga kerja dalam pandangan Islam ~dalam
rangka menghidupi diri sendiri atau keluarga~ merupakan sesuatu yang
begitu mulia.
Bahkan hal tersebut dilakukan oleh orang-orang yang termulia, yaitu
para Nabi dan Rasul. Islam juga memberikan pujian pada orang yang
bekerja dan menjauhi sikap meminta-minta kepada orang lain. Oleh
karena itu, selayaknya seorang pemuda berusaha mencukupi kebutuhannya
sendiri dengan mencari pekerjaan yang halal. Kelemahan pada faktor
ini menjadi salah satu hal yang menyebabkan para pemuda multazimin
(konsisten dengan ajaran Islam) terpaksa menunda pernikahannya. Gara-
gara belum punya penghasilan sendiri, seorang pemuda tak "pede" untuk
melamar wanita yang diinginkan. Maka hendaknya setiap pemuda berusaha
keras untuk mampu hidup mandiri.
Jodoh adalah ketentuan Allah. Sangat boleh jadi orang yang kita
rencanakan untuk menjadi pendamping hidup tidak menjadi jodoh kita
kelak. Karenanya, sikapilah rencana tersebut dengan sederhana,
sewajarnya saja. Sehingga kita tak terbawa sikap sesal berkepanjangan
atau sedih yang menyayat hati bila tidak berjodoh dengannya. Kemudian
bila ada orang lain yang lebih baik kualitas agamanya datang meminang
kita akan lebih mudah mengatakan, "Kenapa tidak?"
Patut menjadi catatan penting juga, bahwa status wanita yang telah
dipinang belumlah seperti status istri. Komunikasi keduanya, baik
langsung maupun melalui media komunikasi, tetap dibatasi oleh aturan-
aturan syariat, seperti tidak boleh berkhalwat (bersepi-sepian), dan
memperbanyak komunikasi yang tanpa makna. Hal ini sebagaimana yang
difatwakan oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dalam Al Muntaqa, juz 3 hal.
163-164.
Bila demikian batasan bagi orang yang telah terikat oleh pinangan,
terlebih lagi bagi wanita dan pria yang baru sebatas berkenalan
menuju peminangan seperti kisah di atas. Kedua belah pihak, hendaknya
menahan diri untuk tidak saling berkomunikasi kecuali dalam hal-hal
yang penting, darurat untuk dilakukan. Demi menjaga diri supaya tidak
terjebak pada hubungan yang tidak Allah ridhai.
Cinta Tanpa Syarat
Oleh : Andrie Wongso
Dikisahkan,
ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan
suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain.
Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka
berdua, "Kakek nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara
kakek dan nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda
bisa belajar."
Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek
beradu pandang sambil saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya,
terpancar rasa kasih yang mendalam di antara mereka. "Aha, nenek yang
akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian," kata kakek.
Sambil
menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya. "Ini pengalaman
kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian
dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang
sebuah artikel di majalah yang berjudul ‘bagaimana memperkuat tali
pernikahan’. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta
mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian,
dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih
kuat dan bahagia. Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan
mencatat apa saja yang tidak disukai. Esoknya, selesai sarapan, nenek
memulai lebih dulu membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang
lebih tiga halaman. Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga, dan
herannya lagi, sebegitu banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja
kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini," kata nenek sambil
tertawa. Mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.
Lalu
nenek melanjutkan, "Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan. Dan,
sekarang giliran kakekmu yang melanjutakan bercerita." Dengan suara
perlahan, si kakek meneruskan. "Pagi itu, kakek membawa kertas juga,
tetapi….kosong. Kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek
merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak
ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau
menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek."
Nenek
segera menimpali, "Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan
kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu
apapun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan
mengurangi perasaan cinta kami berdua."
Pembaca yang budiman,
Sering
kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi
untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan yang menyakitkan.
Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk
bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.
Saya yakin
dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu
berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan
senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi.
Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan
kedamaian.
Salam sukses luar biasa!!!
AKU MALU MENJADI WANITA
Oleh Meralda Nindyasti
“ Wanita itu ibarat buku yang dijual di toko buku. ” Kata Ukhti Liana, mentor rohaniku ketika SMA.
Ia melanjutkan ceritanya “Begini asosiasinya.. di suatu toko buku, banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat buku. Tiap pengunjung memiliki kesukaan yang berbeda-beda. Karena itulah para pengunjung tersebar merata di seluruh sudut ruangan toko buku. Ia akan tertarik untuk membeli buku apabila ia rasa buku itu bagus, sekalipun ia hanya membaca sinopsis ataupun referensi buku tersebut. Bagi pengunjung yang berjiwa pembeli sejati, maka buku tersebut akan ia beli. Tentu ia memilih buku yang bersampul, karena masih baru dan terjaga. Transaksi di kasirpun segera terjadi. ”
“iya, terus kak..?” kataku dan teman-teman, dibuat penasaran olehnya.
“Nah, bagi pengunjung yang tidak berjiwa pembeli sejati, maka buku yang ia rasa menarik, bukannya ia beli, justru ia mencari buku dengan judul sama tapi yang tidak bersampul. Kenapa? Kerena untuk ia dibaca saat itu juga. Akibatnya, buku itu ada yang terlipat, kusam, ternoda oleh coretan, sobek, baik sedikit ataupun banyak. Bisa jadi buku yang tidak tersampul itu dibaca tidak oleh seorang saja. Tapi mungkin berkali-kali, dengan pengunjung yang berbeda tetapi berjiwa sama, yaitu bukan pembeli sejati alias pengunjung iseng yang tidak bertanggung jawab. Lama kelamaan, kasianlah buku itu, makin kusam hingga banyak yang enggan untuk membelinya” Cerita ukhti Liana.
“Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan jilbab, maka itu adalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Lebih-lebih kalau jilbab itu tak hanya untuk tampilannya saja, tapi juga menjilbabkan hati.. Subhanallah..!
Pengunjung yang membeli adalah ibarat suami, laki-laki yang telah Allah siapkan untuk mendampinginya menggenapkan ½ dienNya. Dengan gagah berani dan tanggung jawab yang tinggi, ia bersedia membeli buku itu dengan transaksi di kasir yang diibaratkan pernikahan. Bedanya, Pengunjung yang iseng, yang tidak berniat membeli, ibarat laki-laki yang kalau zaman sekarang bisa dikatakan suka pacaran. Menguak-nguak kepribadian dan kehidupan sang wanita hingga terkadang membuatnya tersakiti, merintih dengan tangisan, hingga yang paling fatal adalah ternodai dengan free-sex. Padahal tidak semua toko buku berani menjual buku-bukunya dengan fasilitas buku tersampul. Maka, tentulah toko buku itu adalah toko buku pilihan. Ia ibarat lingkungan, yang jika lingkungan itu baik maka baik pula apa-apa yang ada didalamnya. ” kata ukhti Liana.
“wah, kalau begitu jadi wanita harus hati-hati ya..!. ” celetuk salah satu temanku.
“Hmm, .apakah apapun di dunia ini bakal dapet yang seimbang ya, kak? Kayak itu deh, buku yang tersampul dibeli oleh pembeli yang bertanggung jawab. Itukan perumpamaan Wanita yang baik dan terjaga akhlaknya juga dapat laki-laki yang baik, bahkan insyallah mapan, sholeh, pokoknya yang baik-baik juga. Gitu ya, kak?” kata temanku.
“ Benar, Seperti janji Allah SWT, “Wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanit yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (An-Nur:26). Dan, hanya Allah yang tak menyalahi janji. ” penjelasan ukhti Liana.
***
Empat tahun berselang.. diskusi itu masih mengena dihatiku. Hingga pada suatu malam, pada suatu muhasabah menyambut usia yang bertambah, “Pff, Ya Allah… Tahu begini, Aku malu jadi wanita. ” bisikku.
Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang sementara. Tapi amanah sepanjang usia ini ada. Pun menjadi wanita baik itu tak mudah. Butuh iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman.
Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang memilihnya, tapi Kau yang memilihkannya untukku. Aku tahu, Allah penggenggam segala ilmu. Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan khusus, hingga akhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikanku wanita. Aku sadar, tidak main-main Allah mengamanahkan ini padaku. Karena kutahu, wanita adalah makhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa terlahir manusia semulia Rasulullah atau manusia sehina Fir’aun.
Kalau banyak orang lain merasa bangga menjadi wanita, karena wanita layak dipuja, karena wanita cantik memesona, karena wanita bisa dibeli dengan harta, karena wanita cukup menggoda, dan lain sebagainya, maka justru sebaliknya, dengan lantang aku berkata.. “aku malu menjadi wanita!”
Ya, Aku malu menjadi wanita, kalau faktanya wanita itu gampang diiming-iminggi harta dengan mengorbankan harga dirinya. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita itu sebagai sumber maksiat, memikat, hingga mengajak pada jalan sesat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata dari pandangan dan suara wanita yang tak terjaga sanggup memunculkan syahwat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata tindak tanduk wanita sanggup membuahkan angan-angan bagi pria. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita tak sanggup jadi ibu yang bijak bagi anaknya dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya.
Sungguh, aku malu menjadi wanita yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Ya, Aku malu jika sekarang aku belum menjadi sosok wanita yang seperti Allah harapkan. Aku malu, karena itu pertanda aku belum amanah terhadap titipan Allah ini. Entahlah, dalam waktu 19 tahun ini aku sudah menjadi wanita macam apa. Aku malu.. Bahkan malu ini berbuah ketakutan, kalau-kalau pada hari akhir nanti tak ada daya bagiku untuk mempertanggungjawabkan ini semua.
Padahal, setahuku dari Bunda Khadijah, Aisyah dan Fatimah, wanita itu makhluk yang luar biasa, penerus kehidupan. Dari kelembutan hatinya, ia sanggup menguak gelapnya dunia, menyinari dengan cinta. Dari kesholehannya akhlaknya, ia sanggup menjaga dunia dari generasi-generasi hina dengan mengajarkannya ilmu dan agama. Dari kesabaran pekertinya, ia sanggup mewarnai kehidupan dunia, hingga perjuangan itu terus ada.
Allah, maafkan aku akan kedangkalan ilmuku dan rendahnya tekadku. Aku berlindung pada-Mu dari diriku sendiri. Bantu aku Rabb, untuk tak lagi menghadirkan kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di dunia-Mu. Hingga kelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan akhlak yang kuusahakan. Ya, wanita sholehah..”
ALLAH MASIH SAYANG …
Penulis : Ust. Arsil Ibrahim MA
Hujan kian deras mengguyur bumi. Sesekali aku harus memeluk Dafa yang masih bayi ketika suara guruh menggedor-gedor pintu langit dengan kerasnya. Aku memandang sayu ke arah anak-anakku yang tertidur di atas tikar pandan. Duhai.. alangkah indah dan sucinya wajah mereka. Kutatapi wajah mereka satu persatu dengan nikmatnya. Demikiankah wajah bidadari kecil dari syurga Allah?
Sejenak aku terlupa betapa seperempat jam yang lalu ketiga bidadariku itu menangis karena lapar yang tidak tertahankan. Zakia yang paling besar menangis dengan keras sekali sambil menghentak-hentakka n kaki.
"Zakia lapar, Umi. Lapaar..mana nasinya?" Sementara Yamin yang masih tiga tahun hanya bisa merengek-rengek panjang dengan kosa kata yang terbatas, "Umi, mo mamam, Umi."
Kutatapi segenggam beras yang masih tersisa. Subhanallah. .teringat aku kepada Mas Darman, Abinya anak-anak. Tadi pagi ia berangkat tanpa sarapan apapun kecuali segelas air sumur yang kumasak dengan kayu api. Bagaimana kalau hari ini Abi tidak berhasil membawa seliter beraspun seperti kemarin.
Abi cuma kuli upahan yang membawa cangkul ke mana-mana. Syukur sekali jika ada truk yang menawarkan kerjaan menurunkan pasir atau mengisi tanah merah. Dari kerja ikut truk biasanya Abi bisa dapat uang delapan ribu rupiah. Alhamdulillah cukup untuk beli beras dua tiga liter.
Kemarin Abi juga hanya sarapan segelas air sumur. Kuselipkan di saku celananya yang lusuh uang seribu rupiah. Malam harinya Abi pulang dengan seulas senyum kepasrahan.
"Dapat kerjaan tadi, Bi?"
"Alhamdulillah, belum, Mi."
"Tadi siang sempat makan, nggak?"
"Umi kan ngasih uang seribu rupiah. Abi belikan roti tujuh ratus rupiah. Nih sisanya masih tiga ratus."
"Memang masih ada roti harga tujuh ratus?"
"Ada, tapi kayaknya harga aslinya seribuan deh. Mungkin Mas Budi ngasih diskon ke Abi.".
Abi tersenyum manis kepadaku sambil menyerahkan sisa uang tiga ratus ke tanganku. Laa hawla walaa quwwata illa billaah[1]. Berarti hari ini Abi cuma makan sepotong roti tujuh ratusan. Dan itu juga berarti besok tidak bisa beli beras. Kuamati sisa beras yang cuma tinggal dua genggam lagi dan tiga keping uang logam seratusan di telapak tanganku yang diam membisu.
Pagi itu aku tidak tega membiarkan Abi memanggul cangkulnya dengan perut berisi air sumur. Kutanak beras segenggam dengan air yang agak banjir dan kucampur dengan beberapa sendok tepung gandum. Rasanya? Aduh..jangan tanya deh. Yang penting ada kalori yang mengisi badan suamiku. Kasihan..sudah dua hari perutnya tidak diisi apa-apa.
"Umi, biar saja nasi itu buat anak-anak kita." Kata suamiku.
Aku tersenyum manis kepadanya dengan meredam seluruh kesedihan dan kecemasanku di hari itu.
"Nggak, yang ini untuk Abi. Nanti buat anak-anak Umi siapkan pisang rebus". Dalam hati aku bergumam, pisang rebus dari mana? Pisang mentah yang dibawah Mas Darman kemarin sudah habis dimakan anak-anak. Namun setidaknya bujukanku berhasil. Mas Darman mau memakan sarapan nasi campur tepung gandum itu.
Pagi itu aku tidak memberikan sarapan kepada anak. Kurebus saja air campur sedikit gula jawa yang masih tersisa. Kuberikan semuanya kepada mereka. Aku cuma membasahi tenggorokan dengan seteguk air. Tetapi jam sepuluh pagi anak-anakku yang sedang dalam masa pertumbuhan itu mulai merengek-rengek minta makan. Mereka bahkan secara dramatis menguji kesabaranku dengan menunjuk-nunjuk tukang bubur dan ketupat tahu yang lewat di depan rumah petak kami. Padahal tidak pernah sekalipun aku menyuapi mereka dengan makanan semewah itu. Ya Allah ..mungkin rasa lapar yang mendesak mereka bersikap secara natural seperti itu.
Kubujuk mereka dengan kepandaianku bercerita. Mereka suka mendengar ceritaku sehingga tersenyum-senyum gembira. Untuk beberapa saat rasa lapar dapat kami lupakan.. Namun setelah sholat Zuhur mereka kembali menyuarakan pesan yang dihembuskan dari lambung-lambung yang kosong. Kutatap segenggam beras terakhir yang menjadi tapal batas pertahanan terakhirku. Kumasak segenggam beras menjadi bubur yang sangat cair. Kububuhkan sedikit garam ke dalamnya Anak-anakku makan dengan lahap sekali. Nafas mereka mendengus-dengus saking lahapnya. Sayang mereka harus menggigit jari saat meminta tambahan. Bubur itu sudah habis. Kubawa panci itu kebelakang dan kusapu sisa bubur itu dengan jari-jariku. Kemudian akupun kembali mengisi kekosongan perut dengan air sumur yang dingin.
Anak-anakku tertidur pulas. Melihat wajah mereka saat tidur merupakan salah satu hiburan yang mewah bagi jiwaku yang sedang kalut dan cemas. Mudah-mudahan Mas Darman cepat pulang dan membawa sedikit beras untuk makanan mereka.
Awal menikah dengan Mas Darman yang sekarang menjadi ayah anak-anakku, masalah ini tidak pernah terjadi. Dulu semua orang termasuk diriku sendiri heran bin ajaib, mengapa anak seorang tentara seperti aku kok jatuh cinta dengan Darman yang cuma tukang bakso. Dilihat dari tampang memang tidak ada seorangpun yang dapat menafikan kegantengannya. Tapi suer ..aku naksir dia bukan karena kegantengannya.
"Melangkah ke jenjang rumah tangga itu tidak cukup hanya dengan berbekal cinta." Papa menegurku dengan bahasa yang klise.
"Pokoknya Mama cuma mau kamu nikah sama Gunawan yang calon dokter itu. Lain orang Mama tidak setuju". Mama menyebut-nyebut lagi nama Mas Gunawan. Padahal semua orang tahu dia sudah punya pacar. Apa belum ada yang bilang ke Mama.
Berhari-hari mereka membujukku dengan berbagai cara. Akhirnya mereka meminta kak Mita, kakakku yang sudah menikah untuk membujukku. Hmm..Kak Mita sangat sayang padaku dan pasti akan senantiasa membelaku. Kesempatan itu justru akan kugunakan untuk balik membujuk kak Mita.
"Yuli sayang..bagaimana sih ceritanya kok kamu bisa kecantol sama Mas Darman?"
"Hmm..Tepatnya aku sendiri tidak tahu, kak. Tapi aku merasa terpesona dengan keindahan suaranya ketika mengumandangkan azan Subuh. Tentang ini Papa juga setuju lho sama aku".
"Terus.."
"Suatu hari aku memberhentikan gerobak baksonya. Aku beli semangkok bakso sambil mengucapkan terima kasih karena telah membangunkanku setiap Subuh."
"Terus.."
"Dia cuma menjawab, Ya sambil terus menundukkan pandangan. Semua pertanyaanku dijawabnya singkat tanpa berani menatap mataku. Melihat sikapnya yang sopan itu hatiku jadi berbunga-bunga. Kayaknya di situlah hatiku mulai tersangkut, kak Mitaku sayang."
"Terus.."
"Ya..sejak hari itu akupun bergerilya untuk menawan hatinya. Alhamdulillah, dia akhirnya mengirim sepucuk surat kepadaku."
"Tapi Ya Allah, Yuli..dia kan cuma tukang bakso. Gerobak aja masih belum punya sendiri. Asal-usulnya dari Brebes juga nggak jelas." Kak Mita berdiri menghindari pelukanku. Panas juga kupingku mendengar kak Mita merendahkan Mas Darman. Nampaknya usahaku untuk menjadikan Kak Mita pendukung cintaku tidak berhasil.
"Dia bukan cuma tukang bakso, kak. Dia tukang bakso yang soleh."
"Adikku yang manis .. dengar sini baik-baik, ya. Pikirkan dulu dong masak-masak. Kamu yakin si Darman itu bisa membahagiakan kamu dan mencukupi keperluan kamu?"
"Kalau membahagiakan Yes, aku yakin. Tapi kalau mencukupi keperluan, bukankah keperluan kita selama ini Allah yang memberi, kak?"
"Yuli, menjalani kehidupan rumah tangga itu sangat sulit. Tidak bisa kita terus hidup hanya dengan setumpuk cinta di dada. Emangnya makanan pokok kamu cinta, apa?"
"Cinta memang tidak bisa dimakan, kak. Yang bisa dimakan itu nasi. Tapi makan nasi di depan orang yang tidak kita cintai juga pasti tidak enak kan kak."
Kak Mita benar-benar tidak mengerti lagi bagaimana menghadapiku. Dia bilang sejak aku sering liqo’[2] pemikiranku jadi aneh dan tidak karuan. Aku bilang justru sekarang aku merasa bahagia karena akibat liqo’ kini aku bersikap, berpikir dan bertindak hanya menurut kehendak Allah saja.
Keluargaku menyadari kekerasan hatiku dalam masalah pilihan hidup. Mereka merasa tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Papa takut juga ketika kuancam bahwa dosa cinta kami akan Papa tanggung jika kami dihalangi menikah. Padahal, aku cuma nakut-nakuti doang. Tapi ‘gerilyaku’ berikut ancaman itu membuahkan hasil. Papa akhirnya setuju untuk menerima kedatangan keluarga Mas Darman ke rumah kami.
Mas Darman memberanikan diri ke rumah ditemani Ibunya yang baru datang dari kampung. Papa hanya menahan nafas melihat buah tangan yang dibawa keluarga Mas Darman; sekarung bawang merah dari Brebes. Sementara Mama tidak memperlihatkan mukanya sampai Mas Darman dan ibunya pulang.
Dua bulan kemudian kami pun resmi menikah. Pernikahan kami berlangsung secara sederhana sekali. Mas Darman cuma bisa ngasih satu setengah juta rupiah. Maka setelah Ijab Kabul[3], kami cuma mengadakan doa selamat dengan mengundang tetangga dan keluarga terdekat saja
Seusai acara Papa mengajakku berbicara empat mata.
"Yuli, sekarang kamu telah menetapkan kehidupan kamu sendiri. Berbaktilah kepada suamimu dengan sepenuh hati. Tanggung jawab menafkahimu kini beralih kepada suamimu. Papa tidak boleh terlalu mencampuri urusan keluargamu. Tapi nak, ini ada uang tiga puluh juta. Memang dari dulu Papa sengaja nabung untuk keperluan kamu setelah menikah. Gunakanlah uang ini sebaik-baiknya. "
Aku terharu menyadari betapa sayangnya Papa padaku. Aku menerima uang itu dengan tangan bergetar. Uang dari papa itu kami gunakan untuk membeli sebuah rumah petak kecil di kawasan perkampungan. Sisanya dipakai Mas Darman untuk modal jualan bakso.
Berkat ketekunannya usaha Bakso Mas Darman cukup maju. Mulai dari berjualan bakso dengan gerobak dorong Mas Darman menapak selangkah demi selangkah sampai akhirnya mampu menyewa sebuah tempat untuk warung bakso. Kami menamakannya warung bakso ‘Tawakal’, sesuai dengan prinsip hidup Mas Darman.
Pelanggan warung bakso Tawakal bertambah hari demi hari. Disamping bakso Tawakal enak dan ngegres[4], Mas Darman juga sangat ramah kepada pelanggan. Ketika usaha bakso itulah kami dianugerahi Allah tiga orang anak-anak yang lucu. Rasanya sempurna sudah kebahagiaan yang kurasakan bersama Mas Darman.
Namun benar kata Nabi Muhammad saw; jika Allah sayang kepada seseorang maka Dia akan mengujinya. Ujian yang kami terima di tengah sepoi angin kebahagiaan itu tidak tanggung-tanggung. Warung Bakso Tawakal dituduh telah mencampuri baksonya dengan daging tikus! Ya Allah .Ya Gusti. Alangkah jahatnya fitnah itu. Aku sendiri sempat membaca selebaran fitnah itu yang katanya juga disebarkan melalui milis internet. Di situ tertulis pengalaman seorang bekas pelanggan bakso Tawakal yang mengaku melihat sendiri kepala-kepala tikus saat kebetulan numpang pipis ke belakang. MasyaAllah! Keji betul fitnah itu. Mana mungkin Mas Darman yang setiap pagi azan Subuh di masjid mencampuri daging baksonya dengan daging tikus!
Dampak fitnah yang keji itu sungguh luar biasa. Warung Bakso Tawakal yang tadinya bisa menjual minimal tiga puluh mangkok sehari turun drastis. Untuk dapat lima mangkok sehari saja susahnya bukan main. Sampai akhirnya Mas Darman mengover kreditkan sewa warung ke orang lain. Usaha warung bakso kami resmi gulung tikar.
Seperti biasanya Mas Darman tetap senyum dan optimistis. Sisa uang yang ada dibelikan gerobak dan mulailah ia kembali mendorong baksonya keliling kampung.
Sayang ternyata citra buruk itu tidak hanya melekat ke warung bakso Tawakal yang sekarang sudah ‘almarhum’. Bagaikan bayang-bayang badan, fitnah itu tetap menyertai Mas Darman ke manapun ia pergi. Alih-alih mendapat untung, gerobak bakso yang didorong Mas Darman keliling kampung malah menjadikan mulut orang gatal. Fitnah itu kian kuat tersebar. Bahkan pernah ada seseorang yang dulunya penggemar Bakso Mas Darman meludah jijik di depan gerobak. Saat itulah hati Mas Darman benar-benar pedih. Hari itu juga ia memutuskan untuk berhenti jualan bakso dan menjual gerobak dorongnya ke orang lain.
Mulailah kami menghitung hari dengan sisa uang yang ada. Keran pengeluaran kuperketat habis-habisan. Pengeluaran hanya untuk makan dan tidak ada pengeluaran untuk yang lain. Meskipun tetap mengumbar senyum manisnya kepadaku, Mas Darman sering juga tertekan memikirkan pekerjaan apa yang dapat dilakukannya untuk tetap menghidupkan dapur keluarga. Aku sering menemaninya berdiskusi tentang mata pencaharian baru.
"Pekerjaan yang Abi tahu dari dulu Cuma jualan bakso, Umi."
"Abi kan bisa jualan lain, seperti gorengan misalnya, atau ketoprak?", kataku.
"Umi benar. Tetapi untuk jualan makanan rasanya masyarakat sudah tidak bisa lagi mempercayai Abi. Biarlah Abi coba cara lain."
"Cara lain seperti apa?", tanyaku.
"Begini, dulu di Brebes Abi sering bantuin petani bawang merah di kebun. Jadi Abi cobalah membawa cangkul kita ini untuk mencari nafkah. Kebetulan di ujung jalan depan suka ada truk yang berhenti mencari kuli cangkul."
"Kuli cangkul? Apa nggak ada pekerjaan lain, Abi?"
"Ya, buat saat ini rasanya hanya itu yang rasional. Persediaan beras kita juga sudah semakin tipis, kan?"
Ucapan Mas Darman bahwa sewaktu di Brebes dia biasa nyangkul, tidak sepenuhnya bisa kupercaya. Setahuku dia itu anak sekolahan yang drop out karena kekurangan biaya dan akhirnya memberanikan diri merantau ke Jakarta. Aku tidak yakin badannya tahan dipakai untuk nyangkul.
Ternyata kecurigaanku benar. Sore harinya Mas Darman pulang dengan badan keletihan dan telapak tangan mengelupas. Aku hanya bisa menangis sambil memijiti tubuhnya dan melumuri tangannya yang melepuh dengan tumbukan daun keladi dicampur putih telur.
Dalam kepedihan itu, Mas Darman masih mengajakku untuk beryukur kepada Allah. Memang Allah telah menebarkan dalam dirinya kekayaan hati. Justru ketabahan dan kepasrahan Mas Darman sering menjadikan tangisku berhenti.
"Umi, mana makannya. Zakia lapar.". Suara Zakia tidak lagi sekeras tadi. Matanya yang kuyu memandangiku dengan setengah keyakinan. Justru adik-adiknya yang kini malah menangis tak henti-hentinya. Yamin kelaparan dan Dafa menangis karena tidak mendapatkan apa-apa pada puting susuku. Kugagahkan langkah menuju dapur. Tidak ada apa-apa lagi di sana kecuali beberapa sendok tepung gandum. Kutatapi gandum putih yang saat ini nilainya sama dengan nyawa anak-anakku. Ya Allah.. berat benar bahasa cinta-Mu kepada kami. Jadikanlah kami orang-orang yang memahami embun-embun cinta yang Kau nyatakan dalam bahasa lapar ini.
Sebenarnya tiga sendok gandum itu kusediakan untuk Mas Darman. Entah mengapa aku tidak yakin hari ini ia berhasil dapat kerjaan. Tapi keluhan anak-anakku benar-benar hampir memutuskan tali jantungku. Maka kurebuslah tiga sendok gandum itu dengan air sumur dan sedikit garam dapur.
Hanya bubur gandum yang cair itu saja yang dapat kuhidangkan untuk mereka. Tanganku menyuapi mereka dengan setengah gemetar menahan lapar. Mulut mereka menerimanya dengan lemah dan mata yang kuyu. Belum sampai ke suapan terakhir ketiga-tiganya telah berbaring keletihan dan tertidur.
Kuseret langkah ke kamar mandi. Kubasahi wajah dengan air wudhuk. Aku tidak sabar untuk merintihkan semua luka ini kepada Yang Maha Pencipta. Akupun terbenam khusyuk dalam sujud-sujud yang panjang. Setelah salam, kuangkat tangan tinggi-tinggi dan kurintihkan sederet doa agar Allah segera meringankan kami sekeluarga dari penderitaan ini. Semoga doaku tidak terhalang oleh bunyi hujan yang masih turun dengan derasnya. Keletihan membuat badanku terkulai dan tertidur di atas sajadah.
Aku tersentak bangun. Rupanya hujan sudah lama berhenti. Kutatapi jarum jam tua yang hampir mendekati angka sebelas. Mengapa Mas Darman belum pulang juga? Hatiku bertambah risau dan cemas. Apa yang menimpanya hari ini? Oh.. ya Allah aku jadi sangat merinduinya. Detik-detik terasa kian menyiksa dalam menanti kepulangannya.
Alhamdulillah tidak berapa lama kemudian kudengar suaranya mengetuk pintu.
"Umi, Umi..buka pintu sayang." Akupun bergegas membuka pintu. Mas Darman berdiri di pintu dengan senyuman yang manis. Hah.. Subhanallah ada bau masakan yang sangat menggoda perut laparku dalam bungkusan yang dibawanya.
"Nah Umi pasti belum makan, kan? Ayo sekalian bangunkan anak-anak. Ini Abi bawakan dua bungkus sate padang dan dua bungkus serabi manis. Pas seperti Manna dan Salwa[5] hidangan Allah untuk mereka yang soleh."
"Subhanallah, dari mana Abi dapat uang membelinya?"
"Makan dulu sayangku. Nanti Abi ceritakan. InsyaAllah yang ini Halalan Toyyiban[6]. "
Maka anak-anakpun aku bangunkan. Mereka juga rindu dengan Abinya. Mas Darman memeluk mereka dalam canda yang ceria. Setiap pulang Mas Darman membawa kebahagiaan dalam hati anak-anak kami. Kami pun menikmati makanan itu dengan lahapnya. Aku bahagia sekali melihat mata anak-anakku berbinar-binar menikmati kue serabi yang manis.
"Enak ya, Umi. Terima kasih ya Abi sudah belikan Zakia serabi." Zakia berbicara dengan mulut penuh dengan makanan.
"Ya sayang. Zakia harus rajin berdoa ya agar Allah terus menerus memberi kita rezeki seperti ini."
"Baik Abi. Umi juga sudah ngajarin Zakia cara berdoanya."
Malam itu aku berbaring di atas lengan Mas Darman. Kucubiti perutnya supaya dia menceritakan kepadaku asal usul makanan itu. Sebab dari tadi dia cuma bilang dari Allah..dari Allah.
"Tentu saja semuanya dari Allah, Abi. Tapi tentu ada sebabnya?" kataku.
"Ya, ya..baik ndoro puteri. Begini ceritanya ..Dari pagi tadi Abi sudah setengah putus asa menunggu truk-truk pasir itu. Ada beberapa yang lewat tapi tidak mau mengambil Abi. Alasannya sekarang mereka sudah punya pekerja tetap di pool pasir. Akhirnya menjelang sore Abi bawa kaki melangkah ke mana saja ia ingin melangkah. Menjelang sholat Ashar Abi menyahut panggilan azan dari sebuah masjid dalam kompleks perumahan. Abi kenyangkan perut dengan air keran supaya jangan ingat makanan ketika sholat. Duh..segar benar rasanya. Kemudian Abi pun ikut sholat berjamaah. Setelah sholat ada seorang jamaah masjid yang bertanya.
"Mas bawa-bawa cangkul mau kemana?"
"Saya mau cari kerjaan, Pak. Apa saja."
"Bisa membersihkan dan merapikan taman?"
"InsyaAllah bisa, Pak."
Maka Abipun ikut bapak itu ke rumahnya untuk membersihkan taman. Menjelang Maghrib pekerjaan itu selesai. Bapak itu memberikan uang cukup banyak, Mi. Lima puluh ribu! Nah, sebelum pergi, Abi melihat bapak itu meringis memegangi punggungnya. Rupanya bapak itu mengalami sakit punggung. Abi tawarkan kepadanya untuk diurut."
"Memangnya Abi bisa ngurut?" Aku menyela dengan sebuah pertanyaan.
"Ya itulah salah satu kemahiran Abi yang agak ajaib. Sebenarnya Abi tidak pernah belajar mengurut. Tapi Ibu bilang urutan Abi enak dan menyehatkan. Maka banyak juga dikampung orang yang minta diurut sama Abi. Nah, Umi rupanya urutan Abi juga mengena ke urat bapak ini. Dia merasa enak dan lega setelah diurut sama Abi. Umi tahu apa yang terjadi? Subhanallah, dia mengeluarkan lagi uang lima puluh ribu!"
Aku memandang mata Mas Darman dengan penuh haru. Kulihat ada secercah harapan pada bola matanya. Kami berdua berpelukan bahagia sambil terus menggumamkan pujian kepada Allah.
"Ya Allah betapa besar syukur kami kepadaMu. Engkau bawa kami ke puncak cobaan, agar dapat lebih mensyukuri sedikit rezki yang Engkau teteskan hari ini. Kami sangat memahami ya Allah, bahwa Engkau masih tetap sayang kepada kami."
Semoga rintihan doa kami berdua dapat terus mi’raj menembus langit menuju pangkuan Ilahi, dan tidak lagi terbenam dalam deru hujan yang kembali turun dengan derasnya.
Cikarang, 25 Juli 2007.
Sebait cinta untuk isteriku.
———— ——— ——— ——— ——— ——— -
[1] Artinya: Tiada daya dan upaya melainkan dengan kekuatan Allah.
[2] Liqo’ : pengajian agama. (mama sering mengejekku dan menyebutnya wingko.)
[3] Ijab Kabul: Sebuah prosesi dalam pernikahan Islam di mana pengantin pria mendengar keputusan orang tua untuk menikahkan anak perempuannya dan kemudian pengantin pria menyatakan kesediaan (penerimaannya) atas nikah tersebut dengan mas kawin tertentu.
[4] Ngegres: bahasa remaja Jakarta, artinya sedap dan enak dikunyah.
[5] Manna dan Salwa: hidangan Allah yang diturunkan kepada umat Nabi Musa. Salah satunya asin dan yang lainnya manis.
[6] Halalalan Toyyiban: Halal dan baik.